Nikmat Persaudaraan
Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed (Sekretaris Umum PP Muhammadiyah)
Manusia sesuai dengan fitrahnya adalah makhluk sosial. Manusia akan senantiasa berusaha untuk menemukan dan mencari sahabat dalam kehidupannya. Sahabat itu adalah seorang yang senantiasa memiliki kedekatan, kesetiaan, dan karenanya sahabat senantiasa ada dalam suka dan duka.
Manusia pada dasarnya adalah umat yang satu sebagaimana disebut dalam Al-Quran:
كَانَ النَّاسُ اُمَّةً وَّاحِدَةً ۗ فَبَعَثَ اللّٰهُ النَّبِيّٖنَ مُبَشِّرِيْنَ وَمُنْذِرِيْنَ ۖ
Manusia itu (dahulunya) umat yang satu (dalam ketauhidan). (Setelah timbul perselisihan,) lalu Allah mengutus para nabi (untuk) menyampaikan kabar gembira dan peringatan… (Al-Baqarah [2]:213)
Ketika mencoba mengkaitkan ayat ini dengan hadis Nabi tentang silaturahim, kita mendapatkan penjelasan bahwa dengan kita bersaudara, saling bersilaturahim, Allah akan memanjangkan umur kita dan melapangkan rizki kita. Di dalam hadis yang masyhur disebutkan bahwa orang yang ingin dipanjangkan umurnya dan dilapangkan rizkinya maka hendaknya ia bersilaturahim.
مَنْ احب أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ
Dengan bersahabat, hidup kita menjadi tenang. Sebab, di mana-mana kita mendapatkan rasa aman dan pertolongan. Persahabatan antar manusia tidak terbatas pada persahabatan dengan orang-orang yang seiman dengan kita saja, tapi juga persahabatan dengan mereka yang mungkin berbeda iman atau berbeda keyakinan.
Persahabatan tidak hanya dengan orang yang sebangsa, tapi juga dengan mereka yang berbeda kebangsaan. Persahabatan tidak hanya di antara kelompok kecil kita saja (eksklusif), tapi persahabatan itu terbuka untuk semuanya. Karena itu, manusia akan senantiasa mendapatkan berkah dalam kehidupannya dengan menjalin persaudaraan dan saling tolong menolong antara satu dengan lainnya.
Mudah-mudahan kita semuanya senantiasa setia dengan persahabatan kita, berjiwa penyayang untuk saling menolong dan membantu satu dengan lainnya.