Memadukan Rasa dan Rasio dalam Pelestarian Lingkungan
Pendiri dan Anggota Majelis Hukama Muslimin Prof Dr M Quraish Shihab, MA
Tulisan ini diawali dengan pengenalan singkat tentang Majelis Hukama Muslimin (MHM) yang didirikan pada 2014 di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Majelis ini beranggotakan sejumlah pakar agama Islam dari berbagai belahan dunia yang independen dan moderat. Pendirinya terdiri dari 14 orang dari berbagai negara dan terpilih sebagai ketua adalah Grand Syekh Al- Azhar, Prof. Dr. Ahmad Al Tayeb. Majelis Hukama Muslimin bertujuan ikut berpartisipasi menciptakan kehidupan tenteram dan damai di tengah masyarakat umat manusia.
Sebagai sebuah organisasi, Majelis Hukama Muslimin beranggotakan tidak hanya sosok yang dinilai berilmu, tetapi juga bijak, yang menerapkan dan mendorong penerapan ilmu pengetahuan demi kemaslahatan umat manusia. Ini sesuai dengan maksud kata “Hikmah”, yakni sesuatu yang bila digunakan atau diperhatikan akan mendatangkan kemaslahatan dan kemudahan atau paling tidak menghalangi terjadinya mudarat atau kesulitan.
Dewasa ini, tidak jarang terasa bahwa kemajuan ilmu pengetahuan yang tidak dibarengi hikmah, kendati melahirkan kemudahan dan kenyamanan bagi umat manusia, namun dalam saat yang sama mengakibatkan bencana bagi manusia dan lingkungannya. Manusia dewasa hampir mirip dengan kupu-kupu yang terbakar karena kepandaiannya terbang. Majelis Hukama Muslimin dalam aneka kegiatannya mengajak kita semua memadukan antara ilmu dan hikmah, akal dan kalbu, rasa dan ratio, demi hidup bahagia dunia dan akhirat.
Nabi umat Islam, Muhammad Saw, mengajarkan doa pelindungan yang mengisyaratkan sumber bencana: “Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, dari hati yang tidak peka, dari nafsu yang tidak puas dan dari doa yang tidak dikabulkan.”
Problema kita dewasa ini tercermin dari mewujudnya apa yang dimohonkan pelindungan dalam doa yang diajarkan Rasulullah Saw. Ilmu yang kita kembangkan bukan saja yang tidak bermanfaat tetapi justru yang merusak. Kita pun sampai hati tidak memfungsikan hati. Di samping itu, ketamakan tanpa batas mengantar kita bersikap boros sehingga menganiaya pihak lain, baik itu sesama manusia maupun lingkungan kita.
Majelis Hukama Muslimin mengulurkan kedua tangan ke Timur dan Barat untuk bekerjasama memadukan dan memfungsikan dengan baik dan benar akal dan kalbu, fikir dan rasa serta ilmu dan iman.
Secara umum, orang berkata bahwa masyarakat Timur dikenal sangat mengedepankan rasa, sedang Barat sangat mengedepankan rasio. Kita di Timur atau tepatnya kami di Indonesia, apabila ditanyai pandangan tentang sesuatu, sering kali memulai jawabannya dengan kalimat “Saya rasa” sedang di Barat memulainya dengan “Saya fikir”.
Di Timurlah lahir dan berkembang aneka hikmah. Bahkan, di Timur lah lahir tokoh-tokoh yang sangat arif dan bijaksana. Sedang di Barat lahir tokoh tokoh filsafat yang sangat mengadalkan ratio.
Agama-agama dilahirkan di Timur. Nama-nama seperti Konfusius, Siddharta Gautama, Musa, Isa, dan Muhammad adalah tokoh pembawa ajaran agama yang penuh hikmah. Sedang di Barat, yang dikenal sejak dahulu hingga kini adalah nama-nama filsuf-filsuf besar. Misalnya, Thales, Pythagoras, Socrates – sampai Francis Bacon, Thomas Aquina, Hegel, dan lainnya.
Secara umum dikatakan bahwa akal menuntut pembuktikan logika untuk menetapkan sesuatu. Berbeda dengan kalbu, tempatnya rasa, yang tidak jarang membenarkan sesuatu karena insting dan kehalusan budi, walau hal tersebut tanpa bukti rasional. Bukankah cinta – yang dihasilkan kalbu demikian itu halnya? Bukankah iman sebagaimana diakui oleh agamawan dan banyak filsuf adalah pembenaran hati? Akal tidak dapat menciptakan iman tidak juga cinta, jalan untuk meraihnya adalah hati.
Dalam kenyataan kehidupan kita dewasa ini, akal sangat dikedepankan sedang rasa tidak jarang diabaikan. Padahal, keduanya seharusnya berjalan seiring. Kita membutuhkan ilmu yang bemanfaat berdampingan dengan hati yang peka. Beberapa tahun yang lalu, sekian banyak ilmuwan yang terhimpun dalam apa yang dikenal dengan Club of Rome, mengemukakan dalam laporanya yang berjudul Reconstituting Human Community. Di sana, mereka menekankan perlunya menggali nilai spiritual dan agama dari Timur.
Jangan pernah menduga bahwa Filsafat yang mengandalkan akal dan syair serta sajak-sajak yang mengandalkan rasa – keduanya tidak dapat bertemu. Bukan saja karena arti kata philosof adalah pencinta hikmah, tetapi juga karena keduanya kita miliki dalam diri kita dan kita butuhkan secara bersamaan dalam perjalananan hidup kita.
Ilmu yang dihasilkan oleh akal yang jernih memberi kekuatan yang menerangi jalan kita. Sedang iman yang bersemai di hati menumbuhkan harapan dan dorongan bagi jiwa kita. Ilmu menciptakan alat-alat produksi dan akselerasi. Sedang iman menetapkan arah yang harus dituju. Ilmu menyesuaikan Anda dengan lingkungan, tetapi iman dan cinta menyesuaikan Anda dengan jati diri sebagai manusia. Akibat ketiadaan iman dan rasa, maka ilmu kita kehilangan arah bahkan merusak lingkungan.
Akal dan kalbu perlu digabung. Salah satu penyebab problem dan aneka krisis yang dialami oleh umat manusia dewasa ini adalah akibat pemisahan keduanya. Ilmuwan seringkali terlalu mengandalkan ilmu dan akal ilmiahnya. Sehingga, kehidupan kendati berkemajuan namun gersang, bahkan merusak. Karena itu juga orang bijak berpesan: “Letakkanlah sedikit rasa pada akal agar dia lebih lembut dan letakkan juga sedikit akal pada rasa agar rasa lebih lurus”.
Menggabung akal dan rasa diibaratkan dengan menggunakan tongkat. Ketika memegang tongkat, tangan tidak merasakan kelembutan pangkal tongkat yang dipegang. Tapi jangan juga hanya mengandalkan pegangan tongkat itu dengan mengabaikan ujungnya yang keras dan kokoh yang menyentuh lantai. Dalam saat yang sama, jangan juga hanya mengandalkan kokohnya ujung bawah tongkat tanpa berpegang dengan teguh pada bagian atas tongkat itu agar kita tidak tergelincir.
Karena itu, Majlis Hukama Muslimin mengajak semua pihak berjalan bersama sambil bergandengan tangan membawa tongkat yang ujungnya keras dan kasar dengan pegangannya yang halus dan lembut. Ujungnya yang kasar dan keras itu adalah akal, sedang pegangan yang halus dan lembut adalah rasa yang bersumber dari hati yang bersih.
Dengan kalbu kita merasa bahwa yang berada di sekitar lingkungan kita memiliki juga rasa – dan kita dapat berinteraksi harmonis dengan kita. Memang ilmuan membuktikan – setelah agama menegaskan, bahwa tumbuhan pun memiliki rasa dan dapat saling berkomunikasi. Bahkan, benda-benda-benda yang kita namai “benda tak bernyawa pun” bagaikan memiliki kepribadian yang juga memerlukan bukan saja pelindungan tapi juga persahabatan dan cinta.
Gunung Uhud tempat gugurnya 70 orang sahabat Nabi Muhammad tidak dinilai “tempat sial” tetapi beliau menyatakan: “Uhudun Yuhibbuna wa Nuhibbhuhu”, Uhud mencintai kita dan kita pun mencintainya.
Prof Dr. M. Quraish Shihab, MA (Pendiri dan Anggota Majelis Hukama Muslimin, Pakar Tafsir Al-Quran)