Lailatul Qadar dalam Al-Qur’an
Prof Dr Oman Fathurahman, M.Hum (Guru Besar Filologi UIN Jakarta, Pengampu Ngariksa, dan Pengasuh Pesantren Al-Hamidiyah)
Salah satu malam yang ditunggu-tunggu kaum muslimin saat Ramadan adalah Lailatul Qadar. Malam ini diyakini umat Islam sebagai malam mulia. Malam yang penuh dengan keberhakan dan rahmah.
Kalua kita simak baik-baik dalam Al-Quran, surat Al-Qadar, disebutkan:
تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ
Pada malam itu turun para malaikat dan Rūḥ (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. (Al-Qadr [97]:4)
Malaikat dan ruh turun, memenuhi bumi. Untuk apa malaikat turun? Malaikat adalah simbol dari kebaikan. Malaikat selalu menebarkan kebaikan. Karenanya, Lailatul Qadar adalah malam di mana malaikat menebarkan kebaikan.
Artinya, di bulan Ramadan, jika kita ingin mendapat kemuliaan yang lebih baik dari seribu bulan, maka kita harus menjadi orang yang lebih baik, setelah Ramadan. Kita harus menjadi manusia yang lebih berakhlak, baik kepada sesama, alam, semesta dan seterusnya
Dijelaskan juga dalam Surat Al-Qadar:
سَلٰمٌ ۛهِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ࣖ
Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar. (Al-Qadr [97]:5)
Ada kedamaian, bahkan sampai terbit fajar. Tentu saja ini sebagai ungkapan bahwa kedamaian harus selelu diciptakan oleh orang yang berpuasa di Ramadan dan berharap kemuliaan Lailatul Qadar.
Mari kita berharap supaya kita mendapatkan kebaikan Ramadan, khususnya Lailatul Qadar. Semoga kita menjadi orang yang terus lebih baik dan memberikan kedamaian untuk sesama.