Islam dan Ukhuwwah
KH Ulil Abshar Abdalla (Ketua PB Nahdlatul Ulama)
Sebagai umat Islam, kita diikat oleh suatu hubungan yang sangat kuat. Kita sebagai sesama muslim diikat oleh satu ikatan yang disebut ukhuwwah Islamiyah, ukhuwwah imaniyah. Persaudaran yang didasarkan kepada keimanan.
Persaudaraan ini penting. Walaupun umat Islam tinggal di berbagai negara dan lokasi geografis yang berbeda, tapi kita adalah satu umat. Umat Islam digambarkan oleh Nabi Muhammad Saw sebagai satu tubuh atau satu bangunan.
مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتعاطفهم مثل الجسد إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالسهر والحمى
Perumpamaan sesama kaum mukminin dalam menjaga hubungan kasih sayang dan kebersamaan itu seperti satu tubuh. Jika satu anggota badan merasakan sakit, maka akan membuat seluruh tubuhnya terjaga dan merasakan hal yang sama.
Inilah perumpamaan umat Islam. Karena itu mari kita kembangkan perasaan persaudaraan ini. Meski kita berbeda golongan, mazhad, pilihan politik, serta berbeda afiliasi organisasi -- ada yang NU, Muhammadiyah, Persis, Perti, Al-Wasliyah, Mathla’ul Anwar, Nahdlatul Wathan dan lainnya.
Afiliasi-afiliasi ini bukan sesuatu yang dilarang dalam Islam. Kita boleh berasosiasi dengan kelompok manapun. Kita boleh bermazhab apapun. Tapi jangan lupa bahwa kita adalah umat yang diikat oleh satu ikatan yang sama, yaitu ikatan keimanan.
Inilah ikatan yang harus kita terus ingat. Dengan demikian kita diharapkan terus memperkuat ukhuwwah Islamiyah. Jangan sampai ukhuwwah Islamiyah menjadi rusak hanya karena afiliasi organisasi, mazhab, golongan, dan afiliasi lainnya. Kita adalah umat yang sama. Kita adalah umat yang diikat oleh ukhuwwah Islamiyah.