Bukankah Kita Semua Manusia
Dr Muchlis M Hanafi, Direktur MHM kantor cabang Indonesia
Dalam sebuah kisah, disebutkan ada dua orang sahabat yang bernama Qays bin Sa`ad dan Sahl bin Hunaif sedang berada di kota al-Qadisiyah. Tiba-tiba melintas jenazah seorang non-muslim dari kampung sebelah. Spontan mereka berdiri sebagai tanda memberi penghormatan.
Ketika ada yang protes dan mempertanyakan, keduanya menceritakan bahwa hal yang sama pernah terjadi di hadapan Rasulullah. Rombongan jenazah seorang Yahudi melintas di hadapan Rasulullah dan beliau pun berdiri. Ketika ada yang memberitahu bahwa itu jenazah seorang Yahudi, Rasulullah berkata, “bukankah dia juga manusia?”.
Hadis ini memberi pesan kuat tentang ajaran Islam yang sangat menghormati dan menjunjung tinggi manusia, terlepas dari perbedaan apa pun; agama, bahasa, suku, warna kulit dan lainnya. Semua umat manusia terlahir dari satu keturunan; Adam dan Hawa. Semua manusia, tanpa kecuali, diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, dan semua manusia, tanpa terkecuali, telah dimuliakan oleh Allah Swt.
Oleh karenanya, tidak ada alasan apa pun, baik secara agama maupun logika, yang membolehkan seseorang untuk menghina dan merendahkan orang lain. Apalagi sampai menodai dan merenggut nyawa orang lain. Boleh jadi, di mata Tuhan dia lebih baik dari kita. Al-Qur`an melarang kita untuk berlagak sok suci, falâ tuzakkû anfusakum, huwa a`lamu bimanittaqâ.
Perbedaan di kalangan umat manusia, adalah sebuah keniscayaan. Perbedaan menjadikan kehidupan lebih indah, penuh warna-warni, sebagai sebuah simphoni dalam harmoni. Tidak boleh ada paksaan dalam beragama, lâ ikrâha fiddîn, karena bertentangan dengan hak asasi manusia. Tuhan pun memberikan pilihan; antara beriman atau tidak. Oleh karenanya, kekerasan atas nama agama, yang dilandasi oleh pemaksaan kehendak dan pemahaman tertentu, bukan saja bertentangan dengan ajaran agama, tetapi juga bertentangan dengan nilai-nilai kemanusiaan.
Patut kita renungkan sejenak pesan Sayyidina Ali karramallahu wajhah kepada Gubernur mesir di masanya, Malik Asytar. Beliau berkata, “Manusia terbagi dua; saudara seagama denganmu, dan saudara sekemanusiaan dengan mu”. Yang tidak seagama denganmu, setara dengamu dalam kemanusiaan. Bukankah kita semua manusia?