Berdamai dengan Allah Swt dan Alam Semesta
Direktur Majelis Hukama Indonesia Dr. Muchlis M Hanafi, MA
Memasuki musim penghujan, di setiap tahun, selalu saja disertai dengan berbagai musibah; banjir bandang, tanah longsor dan bencana hidrometeorologi lainnya. Bahkan, sesuai dengan letak geografisnya yang berada di wilayah lingkaran cincin api pasifik (ring of fire), Indonesia rawan terjadi gempa. Seiring dengan semakin meningkatnya dampak perubahan iklim (climate change), bencana alam datang silih berganti seakan tak mengenal musim. Temperatur cuaca semakin panas. Banjir bandang sering menghampiri wilayah yang sebelumnya tidak pernah mengalami. Bencana alam semakin tidak bisa diprediksi terjadinya.
Para ilmuwan bersepakat, sebagian besar bencana alam yang terjadi dalam dua dekade terakhir ini disebabkan oleh kerusakan lingkungan, akibat penebangan hutan secara liar, limbah industri, kendaraan bermotor, emisi karbon dan lainnya, yang memicu pemanasan global, sehingga berdampak pada perubahan iklim. Di sisi lain, Sebagian umat beragama mengaitkan bencana alam dengan keimanan. Bencana dianggap sebagai azab dan hukuman dari Tuhan. Bahkan, tidak sedikit yang mengaitkannya dengan tanda-tanda akhir zaman.
Tidak sepenuhnya salah, sebab Al-Qur`an mengembalikan berbagai musibah terjadi atas ulah tangan manusia.
وَمَآ اَصَابَكُمْ مِّنْ مُّصِيْبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ اَيْدِيْكُمْ وَيَعْفُوْا عَنْ كَثِيْرٍۗ ( الشورى/42: 30)
Dan musibah apa pun yang menimpa kamu adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan banyak (dari kesalahan-kesalahanmu) (Asy-Syura/42:30)
Pada ayat lain Allah menegaskan bahwa musibah yang berupa kerusakan di daratan dan lautan terjadi akibat perbuatan manusia.
ظَهَرَ الْفَسَادُ فِى الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ اَيْدِى النَّاسِ لِيُذِيْقَهُمْ بَعْضَ الَّذِيْ عَمِلُوْا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُوْنَ ( الرّوم/30: 41)
Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar) (Ar-Rum/30:41)
Kata al-fasâd bermakna situasi buruk (sû`ul hâl) atau kerusakan, sehingga berbagai manfaat kebaikan bumi, baik di daratan maupun di lautan, tidak bisa dirasakan. Berdasarkan ayat di atas, kerusakan dibumi disebabkan oleh ulah manusia yang menyimpang dengan melakukan kemaksiatan dan kerusakan akhlak. Bukan karena Allah menzalimi manusia. Alam semesta diciptakan oleh Allah dengan sistem yang cermat dan penuh keseimbangan sehingga layak untuk jadi hunian. Tetapi manusia melakukan kerusakan sehingga hilanglah keseimbangannya. Bumi tidak lagi nyaman untuk dihuni. Kerusakan di bumi bermula dari sikap manusia yang mengabaikan ajaran dan nilai-nilai agama, sehingga timbul perilaku menyimpang yang memiliki daya rusak terhadap alam semesta.
Di antara perilaku menyimpang manusia yang menyebabkan kerusakan lingkungan yaitu;
Pertama: mengubah ciptaan Allah, yaitu dengan keluar dari fitrah (asal kejadian) yang telah ditetapkan Allah pada setiap makhluk-Nya. Fitrah manusia itu dimuliakan. Memperlakukan manusia seperti mesin berarti telah keluar dari fitrah Allah. Demikian pula mengubah air yang diturunkan oleh Allah sebagai alat bersuci, menjadi tercemar karena limbah industry, berarti telah mengubah fitrah Allah.
Kedua: berlaku zalim, baik dalam konteks hubungan antara manusia dengan dirinya atau orang lain, maupun antara manusia dengan lingkungan dan unsur-unsurnya seperti hewan, tumbuh-tumbuhan, tanah, air, udara dan lainnya. Sebagaimana manusia dilarang untuk berbuat zalim dan menyakiti orang lain, demikian pula manusia dilarang merusak lingkungan dengan segala unsur di dalamnya. Betapa banyak umat-umat terdahulu yang dibinasakan oleh Allah karena kezaliman (QS. AL-Kahf: 59, QS. Al-Naml: 52)
وَتِلْكَ الْقُرٰٓى اَهْلَكْنٰهُمْ لَمَّا ظَلَمُوْا وَجَعَلْنَا لِمَهْلِكِهِمْ مَّوْعِدًا ࣖ ( الكهف/18: 59)
Dan (penduduk) negeri itu telah Kami binasakan ketika mereka berbuat zalim, dan telah Kami tetapkan waktu tertentu bagi kebinasaan mereka. (Al-Kahf/18:59)
Ketiga: menyombongkan diri, seperti dilakukan oleh Fir`aun (QS. Al-Qashash: 4), bahkan sampai mengaku dirinya sebagai Tuhan (QS. Al-Naziat: 23-24). Serupa dengan Fira`un Mesir di masa lalu, manusia modern, meski tidak mengaku sebagai Tuhan, tetapi perilakunya seperti Tuhan yang berlaku semena-mena. Mereka mengeksploitasi alam seakan seperti pemiliknya. Tidak boleh ada yang menghalanginya.
Keempat: memperturuti hawa nafsu. Demi mencapai tujuannya manusia modern menghalalkan segala cara, mengabaikan norma-norma agama. Semakin canggih ilmu pengetahuan dan teknologinya semakin tinggi pula nafsunya untuk menguasai alam dan menjarah sumber dayanya. Individualisme dan egoisme membuat mereka menutup mata dan tidak peduli dengan orang lain. Yang dipikir hanya perutnya dan kesenangan dirinya. Itulah ciri-ciri kekufuran.
وَالَّذِيْنَ كَفَرُوْا يَتَمَتَّعُوْنَ وَيَأْكُلُوْنَ كَمَا تَأْكُلُ الْاَنْعَامُ وَالنَّارُ مَثْوًى لَّهُمْ ( محمّد/47: 12)
Dan orang-orang yang kafir menikmati kesenangan (dunia) dan mereka makan seperti hewan makan; dan (kelak) nerakalah tempat tinggal bagi mereka. (Muhammad/47:12)
Untuk menghindari berbagai bencana yang terjadi akibat kerusakan lingkungan tidak ada jalan lain kecuali kembali kepada ajaran agama. Mari berdamai dengan Allah Swt dan alam semesta. Berdamai dengan Allah berarti selalu ingat dan bertobat kepada Allah Swt. Hati yang damai bersama Tuhannya tidak akan pernah lahir darinya bisikan untuk melakukan tindahan jahat. Berdamai dengan alam semesta berarti menjaga kelestarian lingkungan dengan segala ekosistemnya.
Dalam pandangan Islam, semua unsur dalam lingkungan, baik makhluk hidup maupun benda mati, baik berakal maupun tidak berakal, adalah makhluk ciptakan Allah yang bersujud dan bertasbih memuji-Nya dengan cara masing-masing. Manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan dan lainnya berkedudukan sama, yaitu sebagai makhluk Allah yang sujud dan bertasbih kepada-Nya. Oleh karenanya, tidak boleh saling mengganggu dan merusak.
Islam mengajarkan umatnya untuk melihat lingkungan dan alam semesta, baik makhluk hidup maupun benda mati, dengan perasaan cinta. Hubungan cinta kasih dengan alam semesta ditunjukkan oleh Nabi Muhammad saw terhadap jabal Uhud. Meski telah meninggalkan luka mendalam, karena di tempat itu gugur para syuhada, bahkan dengan cara yang mengenaskan, ketika melintas di Uhud sekembalinya dari Perang Tabuk, beliau mengatakan, “Jabal Uhud adalah gunung yang mencintai kami dan kami pun mencintainya”.
Kita harus ingat, manusia hadir di muka bumi ini untuk menjalankan tiga peran dan fungsi; pertama: beribadah kepada Allah (QS. Al-Dzariyat: 56), kedua: sebagai khalifah (wakil) Allah di muka bumi yang bertugas menegakkan kebenaran dan keadilan serta menebar kebaikan dan kemaslahatan (QS. Shad: 26), ketiga: memakmurkan bumi (`imârah) (QS. Hud: 61), dengan cara menanam, membangun, memperbaiki, menghidupkan dan menjauhi segala bentuk kerusakan.
Mulailah dari hal-hal yang kecil; menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan, tidak membuang sampah sembarangan, tidak mencemari sungai dan lautan dengan limbah, melakukan gerakan penghijauan dengan menanam pohon dan sebagainya. Nabi berpesan, “sekiranya Kiamat akan terjadi esok hari, selagi masih bisa menanam pohon, maka tanamlah”. Kita terlahir dalam keadaan mendapati bumi hijau dan subur. Maka jangan wariskan bumi kepada anak cucu seperti gurun sahara yang kering kerontang.
Dr. Muchlis M Hanafi, MA (Tulisan ini diambil dari Khutbah Jumat yang disampaikan di Masjid Agung Sunda Kelapa (MASK) Jakarta, 14 Januari 2022)