Al-Qur’an dan Pengetahuan
M Cholil Nafis, MA Ph.D (Ketua MUI bidang Dakwah dan Ukhuwah)
Allah Swt menurunkan kepada kita Al-Qur’an di bulan Ramadan. Ini adalah mukjizat terbesar sepanjang masa. Tidak ada orang yang bisa menandingi Al-Qur’an.
Al-Qur’an berisi tuntunan hidup bagi kehidupan manusia. Di dalam Al-Qur’an, ada aspek keimanan, sains, agama, religi, dan beragam kisah. Bahkan, hanya satu ayat saja kita tidak mampu menandinginya. Misalnya, ada ayat yang menggambarkan keagamaan, sains, dan ilmu pengetahuan.
Allah berfirman,
اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan! Dia menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq [96]: 1 - 5)
Lima ayat pertama ini kandungannya sangat mendalam. Pertama, Allah mengajarkan kepada kita untuk membaca. Sebab, perbedaan antara manusia dengan makhluk lain adalah ilmu. Kalau kita tidak berilmu, maka perbedaan itu tidak bisa tampak benderang. Untuk meningkatkan intelektualitas kita, itu bisa dilakukan dengan membaca, baik membaca teks, konteks, juga fenomena dan dari apa yang terjadi di tengah kita.
Kedua, keilmuan kita tidak bisa dipisahkan dari akidah dan agama kita. Seringkali orang yang pintar tanpa bekal agama yang baik, maka kepintarannya bukan untuk membangun, tapi merusak alam dan manusia. Begitu juga orang yang beragama, ketika yakin semata, tanpa ada ilmunya, mungkin cara beragamanya juga salah dan bisa menimbulkan tindakan-tindakan yang justru berlawanan dengan agama, misalnya terjebak dalam fanatisme buta.
Karena itu, keduanya harus seiring. Kita lihat para ulama terdahulu, misalnya Ibn Shina, itu adalah orang yang ahli bedah di kedokteran, sekaligus ahli agama. Ibnu Rusydi atau Averous itu juga orang yang bisa mendalami ilmu Fiqih, menulis Kitab Bidayatul Mujtahid, sekaligus seorang filosofis.
Jadi sejak dahulu, tidak ada di antara kita yang membedakan antara ilmu agama dan ilmu umum, tapi satu kesatuan. Bahwa kita mendapat keimanan, hidayah dari Allah, itu benar. Keimanan kita juga berangkat dari itu. Tapi bisa lebih yakin jika kita bisa melihat fenomena alam ini sebagai bukti kebenaran tentang Allah dan tanda-tanda kehidupan ini adalah tanda-tanda kebesaran Allah Swt.