Akhlak Rasulullah saat Ramadan
Penanggung Jawab Divisi Terjemah dan Publikasi MHM kantor cabang Indonesia, Anggota Dai Kebangsaan
Rasulullah Saw sebagai teladan kita, melakukan hal yang sangat baik dan terpuji, terlebih pada bulan Ramadan. Sejarah mencatat, Rasulullah sudah menyiapkan diri untuk menyambut Ramadan, sejak Rajab dan Syaban. Ini bisa dilihat dari doa yang Rasulullah panjatkan:
اللهم بارك لنا في رجب وبارك لنا في شعبان و بلغنا رمضان
Doa ini menunjukkan betapa perhatian Rasulullah terhadap Ramadan yang istimewa.
Bulan lain juga memiliki keistimewaan, tapi Ramadan lebih dari yang lain. Sehingga, perhatian Rasulullah terhadap Ramadan lebih dari yang lain.
Ketika sudah memasuki Ramadan, Rasulullah juga tidak lupa memanjatkan doa:
الله اكبر، الله اكبر، الله اكبر
اللهم اهله علينا باليمن والإيمان والسلامة والإسلام ربي وربك الله هلال رشد وخير
Ya Allah datangkanlah bulan yang baru ini dengan keimanan, keislaman, dan keselamatan. Itu artinya Rasulullah menyandarkan dirinya pada Allah, bukan pada dirinya. Jangan mentang-mentang badan sehat lalu merasa akan sanggup menjalani puasa. Kita harus menyandarkannya kepada rahmat Allah. Tanpa rahmat Allah, belum tentu kita bisa menjalankan puasa dengan baik
Akhlak lainnya, menjelang akhir Ramadan, Rasulullah meningkatkan ibadah, mengistimewakan 10 hari terakhir dengan melakukan iktikaf di Masjid. Rasulullah memberitahukan kepada kita bahwa pada 10 hari terakhir ada satu malam yang sangat istimewa, yaitu Lailatul Qadar. Ibadah pada malam itu dilipatgandakan ganjarannya melebihi 1.000 bulan
Tentu sebagai umat beliau, kita perlu melakukan hal yang sama, mengistimewakan Ramadan, membuang rasa benci kepada orang di sekitar kita, agar hati kita menjadi suci, benar-benar baik , dan mendapat keberkahan.