Akhlak di atas Ilmu
Dr TGB M Zainul Majdi, MA
Allah swt tidak memuji Rasulullah Muhammad saw karena ilmu yang dimiliki. Allah tidak memuji Rasul-Nya karena wajahnya yang gagah, atau harta yang dimilikinya. Allah swt memuji Sang Nabi karena kemuliaan akhlaknya.
Allah berfirman,
وَاِنَّكَ لَعَلٰى خُلُقٍ عَظِيْمٍ
"Dan sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS. Al-Qalam: 4)
Hal ini menjelaskan bahwa adab harus didahulukan dari ilmu. Dalam istilah lain, ada juga yang menyebut dengan kesopanan lebih tinggi dibandingkan kecerdasan.
Para ulama mengatakan bahwa akhlak itu tempatnya sebelum ilmu. Kalau sudah ada kesopanan, ilmu akan datang. Kalau sudah ada adab, doa orang saleh akan terlimpah.
Akan hal ini, penulis teringat pada perjalanan intelektual Maulana Syeikh Muhammad Zainuddin Abdul Majid. Pendiri Nahdlatul Wathan ini memiliki nama kecil Muhammad Saqqaf. Pada usia remaja, Muhammad Saqqaf diajak ayahnya, H Abdul Majid pergi ke Makkah. Di kota kelahiran Nabi Muhammad saw, Muhammad Saqqaf digandeng ayahnya keliling Masjidil Haram, dari satu halaqah ke halaqah yang lain untuk mencari guru.
Muhammad Saqqaf bersama ayahnya mengikuti pengajian dari satu syaikh (guru) ke syaikh lainnya. Sampai akhirnya, hati dari H Abdul Majid, tertambat dengan salah seorang syaik yang mengajar di Masjidil Haram, yaitu Syaikh Hasan Muhammad al Massath.
Selain di Masjidil Haram, Syaikh Muhammad Hasan al Massath juga mengajar di Madrasah Shaulatiyah, Makkah. Maka H Abdul Majid mengantar Muhammad Saqqaf ke madrasah. Kepada Syaikh Muhammad Hasan al Massath, Muhammad Saqqaf lalu menyampaikan niatnya untuk mengaji.
Maulana Syekh Muhammad Hasan al Masath lalu bertanya. Saat itu, pertanyaan yang disampaikan bukan berapa kitab ilmu alat yang sudah dikhatamkan. Bukan juga berapa juz Al-Qur’an yang sudah dihapal atau berapa bait syair yang sudah di luar kepala. Kepada Muhammad Saqqaf, Maulana Syekh Muhammad Hasan al Massath bertanya, apakah kamu sudah hatam kitab Talimul Muta’allim?
Saat itu, Muhammad Saqqaf menjawab belum mengkhatamkan Ta’limul Muta’aalim. Atas jawaban itu, Syekh Muhammad Hasan al Massath memintanya pulang. Muhammad Saqqaf diminta datang kembali untuk mengaji selesai mengkhatamkan Ta’limul Muta’allim. “Setelah khatam baru mengaji ilmu kepada saya,” kira-kira begitu pesan yang disampaikan gurunya.
Kitab Ta’lîm al-Muta’allim Tharîq at-Ta’allum merupakan salah satu kitab yang menghimpun tuntunan belajar. Kitab ini ditulis oleh Burhânuddîn Ibrâhim al-Zarnûji al-Hanafi. Dalam pendahuluan kitab ini disebutkan bahwa latar belakang ditulisnya Ta’limul Muta’allim karena sang penulis melihat banyak dari para penuntut ilmu pada masa kita bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, namun tidak dapat mencapai hasilnya. Di antara manfaat dan buah ilmu adalah mengamalkan ilmu dan menyebarkannya. Mereka terhalang (dari ilmu) sebab kesalahan dalam metode mencari ilmu, dan mereka meninggalkan syarat-syaratnya. Sedangkan setiap orang yang salah jalan maka akan tersesat, dan tidak mendapat sesuatu yang ia inginkan sedikit ataupun banyak. Maka sang penulis ingin menjelaskan kepada mereka tata cara belajar berdasarkan yang telah dia lihat dan dengar dari guru-gurunya yang memiliki ilmu dan hikmah.
Jadi, Ta’limul muta’allim itu isinya tentang adab dan akhlak. Kisah ini menunjukkan betapa pentingnya akhlak dan adab. Pepatah mengatakan al-Adab qablal ilmi. Adab harus didahulukan sebelum ilmu. Kesopanan itu lebih tinggi dibandingkan kecerdasan.
Kemandirian
Selain adab, para pencari ilmu juga harus memiliki semangat kemandirian dan kepercayaan diri. Seorang Muslim harus mandiri dan percaya diri. Sebab, kemuliaan itu melekat pada Zat Allah, terlimpah pada Nabinya, dan juga terlimpah pada orang yang beriman.
Tidak seharusnya orang Muslim itu minder. Muslim haru percaya diri dan mandiri. Itulah yang diajarkan Nabi Muhammad, para sahabat dan tabi’in, yaitu membangun peradaban di atas kaki sendiri.
Ciri kemandirian adalah kemampuan menghasilkan hal yang baik dan bermanfaat, bukan sekedar mengonsumsi apa yang orang lain buat. Karenanya, semangat untuk menciptak dan berkreasi harus ditanamkan sejak dini. Asmaul Husna adalah pelajaran bagi umat Islam. Jika Allah Maha Pencipta, maka umat Islam dalam kehidupannya berusaha menjadi orang yang bisa menciptakan kebaikan.
Sudah seharusnya umat Islam menghasilkan kebaikan yang bermanfaat, baik berupa pemikiran, barang, atau lainnya, yang bisa dirasakan orag lain. Sangat disayangkan jika kaum Muslimin masih sebata menjadi umat yang hanya bisa menggunakan barang orang lain, lalu merusaknya. Istilahnya disebut sebagai ummatun mustahlikah, umat konsumtif yang hanya bisa memakan, menghabiskan, dan tidak produktif.
Umat Islam tidak cukup hanya unggul dalam kuantitas, tapi juga perlu kualitas. Mari bermimpi dan bercita-cita membangun harapan masa depan dengan iman, akhlak, dan ilmu.
Dr TGB M Zainul Majdi, MA