Pesan Khutbah Jumat, Mari Bersahabat dengan Lingkungan
Khutbah Jumat
Direktur Majelis Hukama Muslimin (MHM) kantor cabang Indonesia Muchlis M Hanafi hari ini, Jumat (31/1/2025), menyampaikan khutbah jumat di Masjid Agung Korps Brimob Polri di Kelapa Dua, Depok, Jawa Barat. Khutbah yang disampaikan menyampaikan pesan pentingnya bersahabat dengan lingkungan.
Pesan tentang lingkungan ini sejalan dengan edaran Kementerian Agama dan MHM dalam rangka menyambut Hari Persaudaraan Manusia Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari, sejak ditetapkan PBB pada 2019. Penetapan ini didasarkan para peristiwa penandatanganan dokumen persudaraan manusia di Abu Dhabi oleh tokoh pemimpin Islam, Grand Syerikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmed al-Thayyeb dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus.
“Patut direnungkan bersama, bagaimana persaudaraan manusia dapat diwujudkan dalam berbagai aspek kehidupan, salah satunya dengan menjaga kelestarian lingkungan,” demikian pesan Muchlis M Hanafi mengawali khutbahnya.
Muchlis menyampaikan, konflik dan bencana kemanusiaan, serta krisis sosial yang terjadi di berbagai belahan dunia sering kali berakar pada persoalan lingkungan. Perubahan iklim yang menyebabkan bencana alam seperti banjir, kekeringan, dan kebakaran hutan tidak hanya merusak ekosistem tetapi juga memicu migrasi paksa, kelangkaan pangan, dan perebutan sumber daya alam yang akhirnya menimbulkan konflik antarbangsa. Inilah mengapa menjaga lingkungan bukan hanya kewajiban ekologis, tetapi juga tanggung jawab moral dan sosial dalam membangun persaudaraan manusia.
“Islam mengajarkan bahwa manusia diciptakan sebagai khalifah di bumi, yang bertanggung jawab menjaga keseimbangan dan harmoni alam. Persaudaraan yang sejati tidak hanya terjadi antara sesama manusia, tetapi juga antara manusia dan alam. Saudara kita adalah yang seudara dengan kita. Ketika manusia gagal menjaga lingkungan, maka yang terjadi bukan hanya kerusakan ekosistem, tetapi juga ketimpangan sosial dan penderitaan yang dialami oleh sesama,” sebutnya.
Dampak perubahan iklim semakin nyata dan dirasakan oleh semua umat manusia. Sekretaris Jenderal PBB, António Guterres, telah berulang kali mengingatkan bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan sudah menjadi krisis yang kita hadapi hari ini. Ia menyebut bahwa dunia sedang berada dalam "jalur bencana" jika kita tidak segera mengambil tindakan konkret untuk mengurangi emisi karbon dan melestarikan lingkungan.
“Para ilmuwan dan pakar lingkungan telah memberikan peringatan keras bahwa kenaikan suhu bumi yang terus terjadi dapat menyebabkan lebih banyak bencana alam, punahnya spesies, kelangkaan air bersih, dan meningkatnya angka kelaparan di dunia. Oleh karena itu, setiap individu, komunitas, dan bangsa memiliki tanggung jawab untuk mengambil langkah-langkah nyata dalam melestarikan bumi ini,” papar Muchlis.
Islam dan Lingkungan
Pertama, Islam telah lama mengajarkan umatnya untuk bersahabat dengan lingkungan. Allah berfirman dalam Al-Qur'an:
﴿ وَلَا تُفْسِدُوْا فِى الْاَرْضِ بَعْدَ اِصْلَاحِهَا وَادْعُوْهُ خَوْفًا وَّطَمَعًاۗ اِنَّ رَحْمَتَ اللّٰهِ قَرِيْبٌ مِّنَ الْمُحْسِنِيْنَ ٥٦ ﴾ ( الاعراف/7: 56)
Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan penuh harap. Sesungguhnya rahmat Allah sangat dekat kepada orang yang berbuat kebaikan. (Al-A'raf/7:56)
“Ayat ini mengajarkan kita bahwa merusak lingkungan adalah tindakan yang bertentangan dengan kehendak Allah. Sebaliknya, menjaga dan memperbaiki lingkungan adalah bagian dari amal saleh yang mendekatkan kita kepada rahmat-Nya,” ujar Muchlis.
Kedua, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam juga menegaskan bahwa bumi dan segala isinya adalah amanah yang harus dijaga oleh manusia. Beliau bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَ: «إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا، فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ (رواه مسلم)
"Sesungguhnya dunia ini manis dan hijau. Dan sesungguhnya Allah menjadikan kalian sebagai khalifah di atasnya, maka Dia melihat bagaimana kalian berbuat terhadapnya." (HR. Muslim)
“Hadis ini mengingatkan kita bahwa keindahan alam bukanlah sekadar sesuatu yang dinikmati, tetapi juga sesuatu yang harus kita rawat dan jaga agar tetap lestari bagi generasi mendatang,” ucap Muchlis.
Ketiga, dalam Islam, alam semesta dipandang sebagai tanda-tanda kebesaran Allah (ayat kauniyah) yang harus dihormati dan dijaga. Al-Qur'an penuh dengan ayat-ayat yang mengajak manusia untuk merenungkan keindahan ciptaan Allah, seperti langit yang terbentang luas, gunung-gunung yang kokoh, dan lautan yang berombak.
Allah berfirman: "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah segala penjurunya dan makanlah dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu kembali setelah dibangkitkan." (QS. Al-Mulk: 15)
Ayat ini mengajarkan bahwa bumi telah Allah ciptakan untuk manusia, tetapi dengan tanggung jawab yang melekat, yaitu menjaganya dengan baik. Islam tidak mengajarkan eksploitasi tanpa batas, tetapi keseimbangan antara mengambil manfaat dan melestarikan alam.
Islam bukan sekadar ibadah ritual, tetapi juga mengajarkan tanggung jawab besar terhadap alam semesta. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam telah memberikan teladan mulia dalam menjaga lingkungan, sebagai bukti cinta dan kepeduliannya terhadap seluruh ciptaan Allah. “Rasulullah melarang pemborosan air, meskipun dalam keadaan berwudhu, dan mengajarkan pentingnya menanam pohon serta merawat sumber daya alam,” papar Muchlis.
Pesan Rasulullah
Pertama, anjuran menanam pohon. Rasulullah bersabda: "Jika seseorang menanam pohon atau tanaman, lalu ada manusia, hewan, atau burung yang memakan darinya, maka itu menjadi sedekah baginya." (HR. Bukhari dan Muslim)
“Bayangkan, betapa sebuah pohon yang kita tanam bisa menjadi sumber keberkahan bagi makhluk lain. Ia meneduhkan, memberi oksigen, dan menjadi ladang pahala yang terus mengalir bahkan setelah kita tiada. Inilah investasi jangka panjang bagi kehidupan dunia dan akhirat,” sebut Muchlis.
Kedua, larangan merusak alam dan makhluk hidup. Rasulullah dengan tegas melarang tindakan semena-mena terhadap alam. Rasulullah bersabda: "Barang siapa menebang pohon bidara tanpa alasan yang benar, maka Allah akan menjatuhkan kepadanya azab." (HR. Abu Dawud)
“Betapa Islam menempatkan alam dalam posisi yang sakral. Menyakiti pohon tanpa sebab, memburu hewan tanpa alasan yang jelas, atau merusak ekosistem adalah perbuatan yang mengundang murka Allah. Alam bukan hanya untuk kita, tetapi juga untuk generasi yang akan datang,” ujar Muchlis.
Kedua, penggunaan air dengan bijak. Suatu ketika, Rasulullah melihat seorang sahabat yang berlebihan dalam menggunakan air untuk berwudhu, lalu beliau menegurnya:
«عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ بِسَعْدٍ، وَهُوَ يَتَوَضَّأُ، فَقَالَ: «مَا هَذَا السَّرَفُ» فَقَالَ: أَفِي الْوُضُوءِ إِسْرَافٌ، قَالَ: «نَعَمْ، وَإِنْ كُنْتَ عَلَى نَهَرٍ جَارٍ»»
Dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah ﷺ melewati Sa’d yang sedang berwudhu, lalu beliau bersabda: "Apa ini (perbuatan) berlebihan?"Sa’d bertanya, "Apakah dalam berwudhu ada pemborosan?" Rasulullah ﷺ menjawab, "Ya, bahkan jika engkau berada di sungai yang mengalir." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)
“Pesan ini sungguh dalam. Air adalah sumber kehidupan, dan menyia-nyiakannya berarti mengingkari nikmat Allah. Di tengah krisis air yang kini melanda banyak daerah, kita harus lebih sadar untuk menggunakannya dengan penuh tanggung jawab,” papar Muchlis.
“Lihatlah betapa Islam telah lebih dulu mengajarkan konsep keberlanjutan lingkungan. Jika kita mengikuti jejak Rasulullah dalam melindungi bumi, maka kita bukan hanya menjaga alam, tetapi juga menjalankan ibadah yang dicintai Allah,” sambungnya.
Menutup khutbahnya, Muchlis memberikan pesan bahwa bumi adalah amanah. Udara yang dihirup, air yang diminum, dan tanah yang dipijak adalah titipan Allah yang harus dijaga. “Mari kita jadikan kecintaan pada lingkungan sebagai wujud cinta kepada Allah dan Rasul-Nya,” pesannya.
“Mulailah dari langkah kecil: menanam pohon, menghemat air, tidak membuang sampah sembarangan, dan menjaga keseimbangan ekosistem. InsyaAllah, setiap usaha kecil yang kita lakukan akan menjadi catatan amal yang membawa kita lebih dekat kepada rahmat-Nya,” sambungnya.
“Semoga Allah menjadikan kita sebagai hamba-Nya yang bertanggung jawab dalam menjaga karunia-Nya di muka bumi. Aamiin,” tutupnya.