MHM Ikut Diskusi Panel di Kazakhstan, Bahas Peran Pemimpin Agama Promosikan Perdamaian Berkelanjutan
.
Majelis Hukama Muslimin (MHM) mengambil bagian dalam diskusi panel yang diselenggarakan the International Center for Interfaith and Interreligious Dialogue di Kazakhstan, Jumat (23/5/2025). Diskusi ini mempertemukan beberapa tokoh agama dan intelektual terkemuka untuk mengeksplorasi peran pemimpin agama dalam memajukan perdamaian berkelanjutan.
Berbicara selama sesi virtual, Mohamed Al-Amin, Direktur Jenderal Kantor Regional MHM di Asia Tengah, menekankan bahwa para pemimpin agama memainkan peran penting dalam membangun perdamaian dan memastikan keberlanjutannya dalam jangka panjang. Ia menyerukan agar dialog antaragama berkembang menjadi kemitraan yang bermakna yang melayani masyarakat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan bersama. Ia juga memuji upaya utama Kazakhstan dalam mempromosikan dialog, koeksistensi, dan keharmonisan di antara para pengikut agama yang berbeda.
Mohamed Al-Amin menambahkan bahwa peran para pemimpin agama saat ini melampaui bimbingan spiritual—mereka juga dipanggil untuk menjadi pembangun kepercayaan dan sumber inspirasi. Meskipun berbeda, semua agama memiliki tujuan yang sama: mempromosikan perdamaian dan menjaga martabat manusia. Ia menunjukkan bahwa otoritas moral yang dimiliki oleh para pemimpin agama harus dimanfaatkan untuk mempromosikan reformasi dan kerukunan, serta untuk mendorong kolaborasi dan dialog di antara para pengikut agama dan budaya yang berbeda.
Ia menyoroti kemitraan yang patut dicontoh antara Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan mendiang Paus Fransiskus, mantan Pemimpin Gereja Katolik, yang berpuncak pada penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama. Ia mencatat, dokumen bersejarah ini berdiri sebagai kerangka etika yang menginspirasi bagi upaya berkelanjutan untuk mempromosikan perdamaian dan koeksistensi.
MHM menegaskan kembali komitmennya yang teguh terhadap misi kemanusiaannya: untuk menyebarkan budaya dialog dan toleransi, serta untuk mendorong upaya kolektif menuju pembangunan dunia yang berakar pada keadilan, perdamaian, dan stabilitas. Dewan menekankan bahwa perdamaian bukan sekadar tidak adanya konflik, tetapi penegakan keadilan, martabat, kemakmuran, dan kerukunan secara aktif.