Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM), Konselor Mohamed Abdelsalam, menegaskan bahwa Paviliun Iman di konferensi COP28 dan COP29 merupakan prakarsa bersejarah. Ini telah menunjukkan bahwa iman tidak boleh terbatas pada praktik keagamaan tradisional tetapi harus terlibat secara aktif dalam mengatasi tantangan besar yang dihadapi umat manusia, terutama krisis iklim. Ia mencatat bahwa dialog antaragama dapat menyatukan upaya untuk mencapai perdamaian, membina persaudaraan, dan memfasilitasi tindakan kolaboratif untuk melindungi planet Bumi dan memastikan masa depan yang aman dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.
Baca selanjutnya>Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin, Konselor Mohamed Abdelsalam, bertemu CEO Biara Shaolin, Shi Yongxin, di sela-sela COP29 di Baku, Azerbaijan, Minggu (17/11/2024). Keduanya berdiskusi tentang pentingnya menyatukan upaya para pemimpin agama untuk mengatasi tantangan global, dengan perubahan iklim sebagai fokus utama.
Baca selanjutnya>Paviliun Majelis Hukama Muslimin (MHM) di Pameran Buku Internasional Sharjah ke-43 menyelenggarakan seminar berjudul "Dialog Intra-Islam: Tantangan dan Prospek untuk Meraih Persatuan", Minggu (17/11/2024). Seminar menghadirkan dua narasumber, yaitu: Dr. Ahmad Abdul Aziz Al-Haddad (anggota MHM, Mufti Senior di Departemen Fatwa di Dubai, dan anggota Dewan Fatwa UEA), bersama Dr. Ridwan Al-Sayyid (Dekan Fakultas Studi Pascasarjana dan Penelitian Ilmiah di Universitas Humaniora Mohamed bin Zayed). Diskusi tersebut dimoderatori oleh Khalifa Khalid, peserta The Emerging Peacemakers Forum.
Baca selanjutnya>Paviliun Iman kembali menggelar serangkaian diskusi pada hari kelima COP29 di Baku, Azerbaijan, Minggu (17/11/2024). Diskusi ini membahas tantangan mendesak yang ditimbulkan perubahan iklim. Sesi-sesi tersebut menekankan pentingnya meningkatkan transparansi dalam aksi iklim global dan menganjurkan penyatuan upaya oleh komunitas agama untuk mencapai hasil nyata dalam mengatasi krisis lingkungan.
Baca selanjutnya>Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM) memuji peran penting seni dalam meningkatkan kesadaran tentang berbagai tantangan dan masalah yang dihadapi manusia, termasuk perubahan iklim. Hal ini disampaikan Sekjen MHM saat ikut meresmikan proyek seni rupa internasional "Mother Nature," di Baku-Azerbaijan, Minggu (17/11/2024).
Baca selanjutnya>Paviliun Iman pada COP29 menyelenggarakan sejumlah sesi dialog pada hari keempat, Sabtu (16/11/2024). Kajian ini berfokus pada peran agama dalam mengatasi perubahan iklim dan tantangan ekonomi terkait.
Baca selanjutnya>Hari Toleransi Internasional, MHM Serukan Upaya Menumbuhkan Nilai Koeksistensi dan Menolak Kekerasan
Majelis Hukama Muslimin di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, menyerukan kepada para pemimpin dunia dan masyarakat untuk memprioritaskan pembinaan toleransi dan hidup berdampingan (koeksistensi), sambil menolak semua bentuk kekerasan dan konflik yang mengganggu stabilitas masyarakat dan menghabiskan sumber daya mereka. Sebab, tantangan-tantangan ini menimbulkan ancaman serius bagi masa kini dan masa depan generasi mendatang.
Baca selanjutnya>Hari ketiga Paviliun Iman di COP29, Jumat (15/11/2024), menyelenggarakan serangkaian sesi diskusi yang mempertemukan para pemimpin agama, pakar sains, dan pembuat kebijakan. Sesi-sesi ini membahas tantangan yang ditimbulkan oleh perubahan iklim, menekankan pentingnya kolaborasi antara agama dan sains.
Baca selanjutnya>Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM), Konselor Mohamed Abdelsalam, bertemu Utusan Khusus Presiden Prabowo Subianto untuk Energi dan Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Delegasi Indonesia untuk COP29, di Baku, Azerbaijan, Hashim Djojohadikusumo, Kamis (14/11/2024).
Baca selanjutnya>Hari kedua Paviliun Iman pada COP29, Kamis (14/11/2024), di Baku, Azerbaijan, menampilkan serangkaian sesi yang membahas isu-isu kerusakan yang diakibatkan perubahan iklim dan dampak nonekonominya melalui perspektif berbasis agama. Diskusi tersebut menyoroti kesenjangan ilmiah yang menghambat langkah-langkah yang diperlukan untuk mengatasi krisis yang meningkat ini, terutama bagi masyarakat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Baca selanjutnya>












