Efektivitas Peran Ormas Keagamaan dalam Aksi Iklim Dibahas pada Hari Keempat Paviliun Iman COP29
Diskusi hari keempat Paviliun Iman
Paviliun Iman pada COP29 menyelenggarakan sejumlah sesi dialog pada hari keempat, Sabtu (16/11/2024). Kajian ini berfokus pada peran agama dalam mengatasi perubahan iklim dan tantangan ekonomi terkait.
Diskusi ini menekankan perlunya perubahan mendasar dalam cara manusia berinteraksi dengan lingkungan, metode untuk mengintegrasikan keuangan iklim dengan upaya untuk melindungi alam, dan pengaruh organisasi berbasis agama dalam memobilisasi masyarakat untuk aksi iklim yang efektif. Sesi tersebut juga membahas hambatan yang ditimbulkan oleh utang dalam memerangi perubahan iklim dan menyoroti pentingnya mengatasi kerugian non-ekonomi, seperti dampak sosial dan psikologis, melalui kolaborasi dan mengarahkan sumber daya untuk mendukung masyarakat yang paling terdampak oleh perubahan iklim.
CEO Biara Shaolin, Shi Yongxin, menyatakan bahwa krisis iklim menimbulkan ancaman serius bagi umat manusia, menyebabkan kerusakan lingkungan dan meningkatkan bencana alam yang merenggut banyak nyawa. Ia menyerukan tindakan internasional yang tegas dan berani untuk mengatasi masalah eksistensial ini. Ia menekankan bahwa solusi saat ini gagal mengatasi akar penyebab perubahan iklim dan menganjurkan transformasi mendasar dalam cara manusia berinteraksi dengan alam untuk mencapai pembangunan berkelanjutan dan menstabilkan sistem iklim.
Sesi pertama diskusi ini mengangkat tema, "Keuangan untuk Mengintegrasikan Aksi Iklim dan Alam: Pendorong untuk Mempercepat Pencapaian Sasaran Nol Bersih Melalui Koherensi Kebijakan". Sesi ini berfokus pada pentingnya membina kolaborasi untuk mengatasi krisis iklim secara efektif. Peserta menyoroti perlunya transparansi dalam mengelola risiko keuangan terkait iklim dan mengaktifkan peran lembaga keuangan dalam memimpin transisi menuju strategi yang positif bagi alam.
Sesi kedua membahas tema "Menata Ulang Pendanaan Iklim: Memanfaatkan Kontribusi Unik Organisasi Berbasis Agama". Dialog pada sesi ini menekankan peran penting organisasi agama global dalam membangun gerakan masyarakat dan meluncurkan inisiatif yang efektif untuk memerangi industri bahan bakar fosil dan mempromosikan penggunaan energi terbarukan. Pembicara menekankan pentingnya memobilisasi sumber daya keuangan untuk mengatasi bencana alam dengan cepat dan memastikan bahwa pendanaan iklim menjangkau negara-negara yang paling terdampak iklim, sehingga memungkinkan mereka untuk menerapkan langkah-langkah adaptasi dan mitigasi secara efektif.
Pada sesi ketiga, dibahas tema tentang "Menghadapi Utang: Hambatan Utama bagi Aksi Iklim". Para pembicara menyoroti dampak signifikan utang dalam mencapai keadilan iklim, dengan mencatat bahwa banyak negara mengalokasikan sebagian besar dana mereka untuk pembayaran utang daripada sektor-sektor penting seperti pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial. Beban utang, membuat mustahil untuk mendedikasikan sumber daya yang cukup untuk mengurangi perubahan iklim, beradaptasi dengan dampaknya, dan membangun ketahanan terhadap konsekuensinya.
Sementara pada sesi terakhir, dibahas tema "Unseen Tolls: Addressing Non-Economic Losses in the Climate Crisis". Tema ini menyoroti dampak non-ekonomi yang mendalam dari perubahan iklim, termasuk hilangnya nyawa manusia, pengungsian karena banjir, dan tantangan psikologis dan sosial yang dihadapi oleh individu dan masyarakat yang terkena dampak. Para peserta menggarisbawahi pentingnya memperkuat upaya organisasi berbasis agama dan pemimpin agama, yang memiliki kemampuan untuk menginspirasi umat manusia untuk melayani sesama, melindungi alam, dan berkontribusi pada masa depan yang lebih baik dengan merawat planet ini.
Edisi kedua Paviliun Iman diselenggarakan dari 12 - 22 November di COP29. Paviliun Iman dibangun berdasarkan keberhasilan edisi perdananya pada COP28 di Uni Emirat Arab. Acara ini menampilkan lebih dari 40 sesi dialog yang berfokus pada peningkatan kolaborasi antaragama untuk menjaga Bumi, serta mengeksplorasi praktik terbaik untuk perencanaan adaptasi berkelanjutan, mendorong gaya hidup berkelanjutan melalui agama, menangani dampak nonekonomi dari perubahan iklim melalui perspektif berbasis agama, meningkatkan akses ke pendanaan kerugian dan kerusakan, dan mengadvokasi mekanisme akuntabilitas lokal dan keadilan iklim yang inklusif untuk semua.