Ulama Mesir Jelaskan Dua Penyebab Ekstremisme, Kurang Wawasan dan Gagal Paham
TGB bersama sejumlah Ulama Al Azhar Mesir dalam perayaan HUT ke-88 NWDI
Ulama dari Al-Azhar Mesir Dr Shalahuddin Muhammad Al-Shami mengingatkan bahwa dunia saat ini sedang dihadapkan pada krisis penyimpangan intelektual, konflik, dan ekstremisme. Menurutnya, krisis penyimpangan intelektual dan ekstremisme itu sangat berbahaya.
Pesan ini disampaikan Syekh Shalah, panggilan akrabnya, saat memberikan sambutan pada Peringatan Hari Ulang Tahun Nahdlatul Wathan Diniyah Islamiyah di Pancor Lombok. Syekh Shalah hadir ke Tanah Air sebagai bagian dari partisipasi dan kontribusi Majelis Hukama Muslimin (MHM) yang diketuai Grand Syekh Al-Azhar Imam Akbar Ahmed Al Tayeb, dalam mengembangkan semangat harmoni dan persudaraan di tengah masyarakat Indonesia.
Hadir dalam kesempatan ini, Anggota Komite Eksekutif MHM yang juga pengasuh NWDI TGB Dr M Zainul Majdi, Direktur MHM kantor Cabang Indonesia Muchlis M Hanafi, para ulama dan habaib dari berbagai daerah di Indonesia, serta ribuan santri dan alumni NWDI.
Syekh Shalah menjelaskan bahwa krisis penyimpangan intelektual ini sudah diramalkan oleh Rasulullah Saw. Dalam salah satu hadis dijelaskan bahwa penampilan mereka sama seperti penampilan umat Islam pada umumnya, demikian juga dengan bahasa yang mereka gunakan saat berbicara.
“Sayangnya, meski seperi itu, mereka tidak memahami ilmu itu dengan sempurna. Sehingga, lantaran wawasan mereka yang sempit dan pemahaman mereka yang keliru, maka terjadi terorisme. Penyebabnya ada dua hal: kurangnya wawasan dan gagal paham,” tegasnya di Lombok, Minggu (27/8/2023).
Sejalan dengan itu, Syekh Shalah menggarisbawahi pentingnya wawasan yang luas dan penguasaan ilmu secara sempurna. Menyitir Imam Ahmad, Syekh Shalah mengatakan bahwa suatu ilmu, hadis, kalau tidak dikumpulkan jalur jalur yang lain yang berhubungan dengan hadis itu, maka seseorang tidak akan dapat memahami maksudnya dengan benar. Sebab, sebagian hadis menafsirkan hadis lainnya.
“Akan hal ini, Imam Abdurrahman bin Mahdi pernah mengatakan bahwa seandainya saya tahu dari awal akan begini kejadiannya, saya akan menulis di samping setiap hadis, penafsiran-penafsirannya,” ujar Syekh Shalah.
“Ungkapan ini menunjukkan bahwa betapa pentingnya kita berwawasan luas dan menguasai ilmu itu dengan sempurna,” sambungnya.
Bahkan, lanjut Syekh Shalah, para ulama berpesan, meski seseorang menguasai satu bidang ilmu, dia tidak boleh membahasnya jika mengetahui bahwa ilmu itu ada kaitannya dengan disiplin ilmu bidang lain yang belum dikuasainya. “Jadi kita harus tahu, dan kuasai ilmu-ilmu yang lain itu, baru boleh membahasnya,” sebutnya.
Pandangan semacam ini, kata Syekh Shalah, juga pernah dikemukan Syekh Syamsudin Ibn Al Jazary. Menurut Syekh Syamsuddin, orang yang berbicara tentang suatu ilmu, meski dia ahlinya, tapi jika ilmu itu berkaitan dengan disiplin ilmu lain yang belum dikuasainya, maka dikhawatirkan ada yang keliru dalam pemahaman dan penyampaiannya.
“Maka, hanya ilmu pengetahuan yang benar lah yang merupakan solusi atau obat atas penyakit penyimpangan intelektual yang ekstrem itu,” tegasnya.
Syekh Shalah lalu mengingatkan sebuah pesan yang disampaikan Imam Abul Hasan al Asya’ari sebelum meninggal kepada salah satu muridnya yang bernama Zahir bin Ahmad Asy Syarkhasy. Imam Al Asy’ari menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengkafirkan siapapun yang berkiblat ke Kabah. Sebab, semuanya mengacu kepada Tuhan yang sama.. Perbedaan yang terjadi adalah perbedaan ekspresi dan istilah saja. Inilah manhaj yang kita anut dan banggakan.
Syekh Shalah juga mengapresiasi warga NWDI yang memilih untuk berafilisasi dengan Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Mengambil Madzhab Syafii yang merupakan Mujadid dalam Ilmu Fiqih pada abad III, dan Imam Al Asy’ari yang merupakan Mujadid dalam Akidah pada abad IV. “Inilah juga yang menjadi keyakinan Grand Syekh Al Azhar dan ulama salaf yang lain,” sebutnya.
Menurut Syekh Shalah, istilah Ahlussunah Wal Jamaah itu merujuk pada tiga kelompok, yaitu: Al Atsariyah yang dipimpin Imam Ahmad bin Hanbal, Al Asy’ariyah yang dipimpin Imam Abul Hasan Al Asyari, dan Al Maturidiyah dipimpin Imam Abu Manshur Al Maturidy.
“Barang siapa berafilisasi ke salah satu dari tiga kelompok ini, insya Allah selamat,” tandasnya.