Pakar AI Tekankan Pentingnya Mendigitalkan Ajaran Agama
.
Pakar AI dari Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Mardhani Riasetiawan menggarisbawahi pentingnya mengembalikan AI (Artificial Intelligence) pada definisinya. Menurut Mardhani, AI biasa diterjemahkan sebagai kecerdasan buatan, kecerdasan artifisial, atau akal imitasi. Dari konteks pengertian ini, bisa diketahui apakah definsi AI selama ini cenderung over estimation, over expectation, atau sudah pas pada posisinya.
Hal ini disampaikan Dr. Mardhani saat menjadi pembicara pada seminar nasional bertajuk ‘Ketika Ulama Bertemu Algoritma’ di kampus UIN Yogyakarta, Selasa (9/12/2025). Seminar diikuti lebih 550 peserta, baik dosen, peneliti, akademisi, serta mahasiswa UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Hadir juga sebagai narasumber, Pendiri dan Anggota MHM Prof. Dr. M Quraish Shihab, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga Prof M Amin Abdullah, Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Noorhaidi Hasan, dan Anggota Komite Eksekutif MHM Dr. TGB M Zainul Majdi.
“Kalau kita memahami AI sebagai sesuatu yang buatan dan kita sadar bahwa itu dibuat manusia, maka kita sebagai manusia sesungguhnya menyadari bahwa itu pasti ada kelemahan dan kelebihannya,” jelasnya.
AI, kata Mardhani, tidak hebat-hebat amat, meski memang canggih. AI adalah tool layaknya teknologi lainnya untuk memproses. Sama seperti ketika memproses data dengan cara tertentu.
“Hanya kerja AI itu terlalu kreatif. Inputnya bukan lagi semata input yang selama ini kita dapatkan, tapi input yang tidak kita bayangkan,” paparnya.
“AI punya kemampuan extra ordinary karena tidak hanya menyampaikan laporan, tapi juga insight. Kalau kita baca, kita bereaksi, like, marah, prasangka, itu memang insight yang ingin dikejar. Jadi just input, proses dan output,” lanjutnya.
Perkembangan AI, kata Mardhani juga tidak bisa dilepaskan dari kontribusi manusia selaku penyedia data. Apa yang diposting di media sosial, baik IG, X, dan lainnya, itu membuat AI semain kokok, punya bensin untuk diolah.
“Saat ini ada lembaga yang sedang berusaha mendigitalkan semua buku tafsir untuk semua agama. Saya berharap ini yang melakukan UIN. Tujuannya untuk menyediakan informasi untuk memperkuat otoritas keagamaan. Lembaga ini bekerja sama dengan 0toritas keagamaan di berbagai belahan dunia untuk mengkurasi hasil digitalisasi sesuai dengan konteks sudut pandang masing-masing,” paparnya.
“Tantangan ke depan adalah bagaimana kita menjadi orang yang bisa melakukan digitalisasi lalu mengkurasi untuk difeeding dalam AI,” tandasnya.