Tokoh Lintas Iman di Indonesia Sambut Kedatangan Grand Syekh Al-Azhar dan Ketua MHM
Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb beri sambutan pada acara PBNU
Nahdlatul Ulama, organisasi kemasyarakatan (Ormas) Islam terbesar di dunia dengan lebih dari 120 juta pengikut, menyelenggarakan resepsi akbar untuk menyambut kedatangan Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb. Acara yang berlangsung pada Rabu (10/7/2024) ini dihadiri oleh para pemimpin dan tokoh dari berbagai agama di Indonesia, antara lain: Islam, Katolik, Protestan, Hindu, Buddha, dan Konghucu. Ribuan pemimpin, tokoh, dan pemuda dari berbagai ormas keagamaan menghadiri resepsi tersebut. Sementara ratusan ribu lainnya mengikuti acara tersebut melalui siaran langsung.
Dalam pidato pada acara bertajuk “Dialog dan Harmoni Antar Agama dan Peradaban”, Grand Syekh menyatakan bahwa perbedaan agama dan aliran pada hakikatnya merupakan pesan perdamaian bagi umat manusia, hewan, tumbuhan, dan alam secara keseluruhan. Ia menekankan bahwa Islam, misalnya, tidak mengizinkan umatnya mengangkat senjata kecuali untuk membela diri. Ia menegaskan bahwa umat Islam tidak pernah memerangi orang lain untuk memaksa mereka masuk Islam. Sebab, Islam memandang non-Muslim melalui kacamata cinta dan persaudaraan manusia, bukan permusuhan atau kecurigaan.
Beberapa ayat dalam Al-Qur’an secara eksplisit menetapkan bahwa hubungan antara Muslim dan non-Muslim yang damai—apa pun agama atau sekte mereka—adalah hubungan cinta, kebaikan, dan keadilan.
Ketua MHM menambahkan bahwa Islam tidak perlu membuktikan bahwa ia adalah agama dialog, mengintegrasikan peradaban, menghormati pertukaran budaya dan orang lain. Fakta-fakta ini diketahui baik oleh orang-orang yang beriman maupun yang tidak beriman. Sejarah telah membuktikan peradaban agama ini sebagai salah satu persaudaraan manusia dan persahabatan agama global, tidak pernah menjadi sumber penderitaan manusia. Mereka tidak pernah menunjukkan intoleransi terhadap agama lain dan tidak pernah mengambil sikap bermusuhan, baik terang-terangan maupun terselubung, dalam konflik bersenjata dengan non-Muslim. Islam selalu berpegang teguh pada prinsip keadilan dan pembelaan diri.
Imam Akbar menekankan perlunya masyarakat Timur untuk merasa lebih dekat dan lebih terhubung dengan Barat, menjauhi pandangan bahwa peradaban Barat sepenuhnya jahat atau bertentangan dengan nilai-nilai dan kebajikan agama. Ia menyarankan untuk mengadopsi pandangan yang lebih optimis, melihat peradaban Barat sebagai peradaban manusia yang, meskipun memiliki banyak kekurangan, telah menyelamatkan umat manusia dan memajukannya ke cakrawala ilmu pengetahuan dan teknologi yang tidak akan mungkin tercapai sepanjang sejarah kuno tanpa dedikasi para sarjana Barat terhadap sastra, sumber pengetahuan eksperimental dan artistik.
Pada saat yang sama, Timur memiliki sumber daya spiritual dan keagamaan untuk ditawarkan kepada Barat, membantu mencegah pembusukan dan disintegrasi peradabannya. Sementara itu, Barat mempunyai banyak hal yang bisa ditawarkan kepada Timur dalam hal menyelamatkan mereka dari keterbelakangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan industri, serta bidang-bidang lainnya.
Grand Syekh menyimpulkan, “Langkah yang diambil bersama oleh Yang Mulia Paus Fransiskus dan saya, mungkin untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan Kristen-Islam, menghasilkan Dokumen Persaudaraan Manusia, yang kini diakui secara global dan PBB mendeklarasikan hari jadinya pada 4 Februari sebagai Hari Persaudaraan Kemanusiaan Internasional. Langkah ini dapat membantu menghilangkan akumulasi kesalahpahaman dan ketegangan antara pengikut berbagai sekte dan agama baik di Timur maupun Barat, terutama selama masa perang dan krisis —jika niatnya tulus, kemauannya kuat, hatinya murni, dan pikirannya sehat. Adakah harapan bahwa Barat akan mengurangi kesombongannya dan bahwa Timur akan meninggalkan kecurigaannya dan bertemu di tengah jalan untuk saling pengertian, cinta, pertukaran pengalaman, manfaat, dan kerja sama nyata untuk perdamaian abadi dan peradaban yang aman?"
Para pemimpin dan tokoh agama menyampaikan sambutan yang luar biasa kepada Grand Syekh Al-Azhar dan Ketua MHM. Mereka menegaskan bahwa Grand Syekh adalah simbol perdamaian, toleransi, dan hidup berdampingan. Mereka secara konsisten mendapat inspirasi dari upaya Imam Akbar untuk mempromosikan nilai-nilai kebenaran, kebaikan, keadilan, dan persaudaraan manusia, menyebarkan semangat perdamaian, hidup berdampingan, dan kewarganegaraan.
Warga Nahdlatul Ulama mengungkapkan kecintaan dan penghargaan mereka kepada Imam Akbar dan Al-Azhar, menekankan upaya terus-menerus mereka untuk memanfaatkan cahaya Al-Azhar dan para ulama yang berdedikasi menyebarkan pemikiran pencerahan, moderasi, dan perdamaian ke seluruh dunia.
Menteri Agama RI Yaqut Cholil Qoumas menyambut baik kunjungan Imam Akbar untuk kali ketiga ke Indonesia, memenuhi undangan Presiden RI. Menag menegaskan bahwa kunjungan ini sangat penting, mengingat besarnya rasa cinta dan hormat masyarakat Indonesia terhadap Imam Akbar. Menurutnya, para ulama yang dididik oleh ulama Al-Azhar berjalan dalam terang ilmu serta berkah dari guru-gurunya yang berdedikasi.
Ketua Umum Nahdlatul Ulama mengungkapkan kegembiraannya yang besar atas diterimanya undangan Imam Akbar untuk menghadiri perayaan yang diselenggarakan PBNU selama kunjungannya ke Indonesia. Lebih dari 300 rektor universitas hadir, bersama dengan ribuan anggota, dan ratusan ribu orang yang mengikuti melalui platform digital NU. Ini semua mencerminkan kecintaan mereka terhadap Imam Akbar dan Al-Azhar.
Bhikkhu Nyana Suryanadi Mahathera, perwakilan umat Buddha di Indonesia, menyampaikan terima kasih atas penerimaan Imam Akbar, sosok yang diakui secara global atas upayanya dalam mempromosikan dialog dan pluralisme. Ia menambahkan, “Sebagai perwakilan umat Buddha, saya mengucapkan terima kasih atas kunjungan berharga ini kepada seluruh masyarakat Indonesia, bukan hanya umat Islam,” seraya mencatat tindak lanjut komunitas Buddha atas pendirian Imam Akbar dan seruannya untuk saling pengertian dan hidup berdampingan, serta mendorong dialog. dan kedekatan antar pemeluk agama dan budaya yang berbeda.
Pendeta Gomar Gultom, perwakilan Umat Protestan di Indonesia, memberikan pidato sambutan kepada Imam Akbar dengan mengatakan, “Atas nama gereja-gereja Kristen di Indonesia, kami mengucapkan terima kasih dan kegembiraan menyambut Grand Syekh di negara kami. Pertemuan hari ini merupakan langkah penting menuju pertemuan gabungan lebih lanjut para pemimpin agama di negara kita. Kita beruntung berada di antara komunitas Islam yang besar ini, mewakili negara Muslim terbesar di dunia, yang berkomitmen untuk menjaga pluralisme, keberagaman, keharmonisan, dan persatuan di antara semua lapisan masyarakat."
Jero Mangku Gede Pastika, tokoh umat Hindu di Indonesia, menyatakan kunjungan Imam Akbar membawa semangat perdamaian di saat dunia sangat membutuhkannya di tengah meluasnya konflik. Ia menyampaikan apresiasi atas upaya Imam Akbar dalam memajukan persaudaraan antarmanusia, hidup berdampingan, dan saling menghormati, serta kegembiraannya atas pertemuan yang diselenggarakan Nahdlatul Ulama dalam menyambut Imam Akbar. Ditegaskannya, Nahdlatul Ulama merupakan pilar masyarakat Indonesia dalam menjaga keamanan, stabilitas, dan hubungan baik antar pemeluk agama yang berbeda.
Ws Mulyadi Liang, pemimpin komunitas Konghucu di Indonesia, mengatakan, “Kami menyambut Imam Akbar di negara kami. Ini benar-benar kunjungan damai dan kasih sayang untuk semua orang. Kami berdoa semoga Tuhan memberkati beliau dalam upayanya membangun perdamaian dan cinta kasih, menyebarkannya ke seluruh dunia, menjadikan dunia lebih harmonis dan inklusif, menyediakan lahan subur yang merangkul semua orang dan menjamin hak dan kewajiban mereka.”
Romo Agustinus Heri Wibowo, perwakilan umat Katolik di Indonesia, mengatakan, “Imam Akbar adalah seorang penganjur perdamaian, dan merupakan suatu kehormatan besar bisa bertemu dengannya di Indonesia. Saya sudah lama mendambakan pertemuan ini, terutama setelah beliau menandatangani Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan dengan Paus Fransiskus pada 2019. Dokumen itu telah kami distribusikan ke berbagai gereja di Indonesia. Hal ini menginspirasi kami untuk menerbitkan buku tentang hidup berdampingan yang ditulis oleh beberapa tokoh agama di Indonesia. Kami berharap dapat melanjutkan upaya Imam Akbar untuk memajukan langkah-langkah tersebut kedekatan antar pemeluk budaya dan agama yang berbeda.”
Di akhir perayaan, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menghadiahkan Perisai Nahdlatul Ulama kepada Imam Besar, sebagai ungkapan rasa cinta dan kebahagiaan masyarakat Indonesia atas kunjungan terhormat tersebut.
Perayaan tersebut dihadiri Rais ‘Aam PBNU KH Miftachul Akhyar bin Abdul Ghani, Ketua Umum PBNU KH Dr. Yahya Cholil Staquf, Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas, Pdt. Gomar Gultom dari Gereja Protestan Indonesia, Romo Agustinus Heri Wibowo dari Gereja Katolik Indonesia, Jero Mangku Gede Pastika tokoh umat Hindu di Indonesia, Bhikkhu Nyana Suryanadi Mahathera tokoh Agama Buddha Indonesia, Ws Mulyadi Liang tokoh umat Khonghucu di Indonesia, serta sejumlah tokoh agama, intelektual, dan budayawan di Indonesia.