Tokoh Hindu Bali Apresiasi Piagam Persaudaraan Manusia
Beragam tokoh agama hadiri Seminar Hari Persaudaraan Manusia Internasional di UHN Bali
Tokoh Hindu Bali yang juga Wakil Bupati Bangli I Wayan Diar mengapresiasi inisiatif Grand Syekh Al Azhar Ahmed Al Tayeb dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus menandatangani Piagam Persaudaraan Manusia.
Pesan ini disampaikan I Wayan Diar saat membuka Seminar Peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional di Kampus Universitas Hindu Negeri (UHN) Bangli, Bali. Seminar ini diselenggarakan oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM) Cabang Indonesia bekerja sama dengan UHN.
Selain di UHN, MHM juga akan menggelar seminar di UIN Raden Syahid Surakarta. Sebelumnya, seminar sejenis diselenggarakan di Universitas Atma Jaya Jakarta. Anggote Komite Eksekutif MHM TGB M Zainul Majdi hadir sebagai salah satu narasumber di Atma Jaya dan menjelaskan konteks dan tujuan penandatanganan Piagam Persaudaraan Manusia.
Piagam Persaudaraan Manusia ditantangani oleh dua tokoh agama dunia, Grand Syekh Al-Azhar dan Paus Fransikus, di Abu Dhabi, 4 Februari 2019. Tanggal penandatanganan dokumen bersejarah tersebut kemudian ditetapkan oleh PBB sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional.
“Hari Persaudaraan Manusia Internasional lahir sebagai respon dari keprihatinan dunia pada ujaran kebencian terhadap agama, suku, ras dan sebagainya yang telah merusak semangat toleransi dan keberagaman sebagai sesame makhluk ciptaan Tuhan,” terang I Wayan Diar di Bangli, Senin (30/1/2023)..
"Penetapan Hari Persaudaraan manusia oleh PBB merupakan wujud keinginan masyarakat dunia untuk hidup dalam damai," sambungnya.
Wabup Diar berharap Hari Persaudaraan Manusia Internasional dapat menjadi pijakan bagi proses penguatan moderasi beragama di Indonesia. Seminar ini juga menjadi upaya membudayakan dialog dalam kehidupan bermasyarakat agar sikap saling menghormati tetap terjalin dengan utuh.
“Melalui seminar ini, semoga nantinya akan lahir pemikiran-pemikiran dan rekomendasi yang mampu memberikan pencerahan dan solusi dalam memecahkan berbagai persoalan bangsa,” harapnya.
Seminar di wilayah berpenduduk mayoritas umat Hindu ini dimeriahkan dengan gamelan dan tarian barong khas Bali. Dalam kesempatan itu, dilakukan juga pelepasan burung Jalak Bali sebagai simbol persahabatan, kesetiaan, dan persudaraan.
Selain itu, ada pembacaan dan penandatanganan deklarasi pernyataan bersama untuk persudaraan manusia oleh para pemuka agama, yaitu: Dr. Muchlis M Hanafi (Islam/Majelis Hukama Muslimin), Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, M.Si (Hindu/Rektor UHN), Justus Abraham Lawalata, M.Th (Sinode Gereja Kristen Protestan di Bali), Romo Evensius Dewantoro Bali Daton (Pastor Paroki St Fransiskus Xaverius Kuta), Pdt DD IKG Karyono Govinda, M.Pd, OPS (Wakil Ketua Walubi Bali), dan Ws. Adinatha, SE (Ketua Matakin Bali).

Berikut Pernyataan Sikap para Tokoh Agama:
Konflik masih menjadi pendorong utama krisis kemanusiaan. Kekerasan, ditambah cuaca ekstrem, dan kini pandemi menciptakan badai sempurna bagi penduduk dunia paling rentan.
Dunia global dihadapkan pada krisis kemanusian seiring terjadinya konflik dan tindakan teror. Hal sama sangat mungkin terjadi juga di Indonesia, jika tidak dilakukan upaya merawat kerukunan dan merajut kebersamaan.
Sejalan dengan itu, Kami, perwakilan tokoh agama di Bali, mengapresiasi ditandatanganinya Piagam tentang Persaudaraan Kemanusiaan oleh Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al-Tayeb dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 4 Februari 2019. Piagam tersebut menjadi salah satu dokumen bersejarah sekaligus upaya penting dalam mewujudkan persaudaraan manusia di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Kami menyambut baik setiap niat baik dan tulus untuk mengajak setiap orang yang memiliki keimanan kepada Tuhan dan keyakinan akan persaudaraan kemanusian untuk bersatu dan bekerjasama menjadikan piagam ini sebagai pedoman bagi generasi mendatang untuk memajukan budaya saling menghormati dalam kesadaran akan keagungan Tuhan yang menjadikan semua manusia bersaudara.
Selain enam tokoh agama tersebut, hadir sebagai pembicara dalam seminar ini, Dr. Lukman Hakim Saifuddin (Menteri Agama 2014-2019) dan Syeikh Abdul Aziz Mahmoud Zid, utusan Al-Azhar di Indonesia.
Mewakili MHM, Muchlis M Hanafi menyampaikan terima atas kesediaan UHN untuk bekerja sama dalam memperingati Hari Persudaraan Manusia Internasional. Menurutnya, ini adalah momentum bersejarah untuk mengukuhkan semangat persudaraan sesama umat manusia terlepas dari perbedaan agama, budaya, bahasa, etnis dan golongan.
“Perbedaan bukanlah hambatan untuk menjalin kerjasama dalam kebaikan,” kata Muchlis yang juga Sekretaris Badan Amil Zakat Nasional.
Rektor UHN menyatakan kegembiraannya bisa bekerja sama dengan MHM. I Gusti Ngurah Sudiana mengatakan bahwa sebuah kehormatan bagi UHN bekerjasama dengan lembaga bereputasi internasional. Meski mayoritas penduduknya menganut agama Hindu, sejarah membuktikan masyarakat Bali mampu hidup berdampingan secara damai dengan penganut agama lain.
“Esensi ajaran semua agama mengajak kepada kedamaian,” tandasnya.