TGB: Persaudaraan Bukan Semata Kebutuhan Duniawi, Tapi Kesadaran Keimanan
Tuan Guru Bajang (TGB) Dr H Zainul Majdi
Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) menggelar diskusi publik dengan tema ‘Toleransi, Harmoni, dan Persaudaraan Manusia’. Diskusi digelar sebagai rangkaian penyelenggaraan Indonesia International Book Fair 2021 yang berlangsung di Jakarta Convention Center, Senayan, 8 – 13 Desember.
Diskusi ini menghadirkan Anggota Komite Eksekutif MHM TGB Dr KH Zainul Majdi dan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Dr KH Cholil Nafis sebagai narasumber. Hadir juga, perwakilan dari MHM Abu Dhabi Dr Yusuf serta Direktur MHM Kantor Indonesia Dr H Muchlis M Hanafi.
TGB dalam paparannya menyampaikan bahwa tokoh agama dalam beberapa tahun terakhir terus berbicara tentang pentingnya persaudaraan kemanusiaan. Menurutnya, persaudaraan adalah istilah yang ditarik dari makna terdalam dari diri manusia, yaitu Iman.
“Persaudaraan bukan semata kebutuhan duniawi, tapi kesadaran keimanan,” terang TGB Zainul Majdi di JCC Senayan, Kamis (09/12/2021).

Kenapa keimanan? Kata TGB, persaudaraan adalah cermina dari kesadaran bertauhid. “Tauhid adalah mengakui dan mengesakan Sang Pencipta sekaligus mengikrarkan diri sebagai makhluk setara, makhluk yang bersaudara,” jelasnya.
“Karenanya, persaudaraan tidak terpisahkan dari iman kita. Semua orang, apapun agamanya bertemu pada titik ini. Bahwa persaudaraan adalah ajaran keimanan setiap agama,” sambungnya.
Terkait hal itu, TGB Zainul Majdi melihat pentingnya sikap mau membuka diri dan membangun ruang bersama untuk kemudian diisi dengan spiritualitas dan humanitas. Dikatakannya, agama setiap orang boleh berbeda, tapi ada kesamaan nilai-nilai universal dalam agama, termasuk persaudaraan.
“Kemauan membuka diri, bukan berarti menegosiasikan akidah, tapi menjadikan muamalah sebagai ruang bersama yang diisi spiritualitas dan humanitas,” tuturnya.
MHM, lanjut TGB, hadir dengan tujuan memperkokoh persaudaraan, perdamaian, dan kedamaian. MHM ingin membangun dan menguatkan nilai-nilai dialog dan toleransi. Menurutnya, ada tiga kata kunci yang diusung MHM, yakni: perdamaian, dialog, dan toleransi.
“Untuk mewujudkan hal ini, MHM telah melakukan beragam upaya, salah satunya penandatanganan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan oleh Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb dan Paus Fransiscus pada 4 Februari 2014,” ujarnya.
Dikatakan TGB Zainul Majdi, MHM didirikan bukan hendak menghegemoni wacana tentang toleransi dan persaudaraan dari perspektif Arab saja. MHM justru ingin membuka ruang dialog seluasnya sehingga masyarakat dari berbagai negara bisa berbagi. MHM ingin meletakkan semua ekspresi keagamaan masyarakat sebagai khazanah bersama.
“Bahkan, pengalaman di Indonesia bisa menjadi inspirasi dan motivasi bagi negara-negara lain untuk membangun keberagamaan yang penuh kedamaian,” tandasnya.

Ketua MUI M Cholil Nafis mengapresiasi keterbukaan MHM untuk menggali ekspresi keberagamaan dari Indonesia. Menurutnya, Indonesia memang sangat kaya dan beragam. Indonesia memiliki lebih dari 17ribu pulau dan 300 bahasa daerah. Ada enam agama yang banyak dipeluk masyarakat, namun jumlah kepercayaan di Indonesia juga sangat banyak. Indonesia selama ini hidup dalam semangat toleransi yang tinggi.
“Toleransi ada pada wilayah muamalah, bukan pada akidah dan ibadah. Kalau akidah tidak ada modifikasi. Muamalah di Indonesia banyak modifikasi, termasuk cara dakwah. Ini menjadi kekayaan,” jelasnya.
“Keragamaan di Indonesia disatukan dengan satu bahasa, satu nusa, dan satu bangsa. Indonesia memiliki semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kebhinekaan itu niscaya. Tunggal Ika harus diupayakan,” sambungnya.
“Keragaaman itu sejak dulu diikat dengan semangat kebangsaan, Negara Kesatuan Republik Indonesia,” tandasnya.