TGB: Distingsi Keislaman di Indonesia Bisa Jadi Khazanah Perdamaian Dunia
TGB Zainul Majdi pada Seminar Ikhtiar Indonesia untuk Perdamaian Dunia
Anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Indonesia (MHM) TGB M Zainul Majdi mengatakan bahwa tradisi keagamaan di Indonesia sangat kental dengan semangat perdamaian. Karenanya, keislaman di Indonesia bisa menjadi khazanah dunia, utamanya dalam upaya merawat perdamaian.
Pesan ini disampaikan TGB saat berbicara pada Seminar Nasional tentang Ikhtiar Indonesia untuk Perdamaian Dunia di Kampus UI, Salemba, Kamis (15/12/2022). Seminar ini diselenggarakan atas kerja sama MHM Cabang Indonesia dengan Sekolah Kajian Strategik dan Global (SKSG) Universitas Indonesia (UI).
Selain TGB, hadir juga Sebagai narasumber dalam seminar ini: Ketua MUI bidang Hubungan Internasional Prof Sudarnoto Abd Hakim, dan Guru Besa UI Prof M Lutfi Zuhdi.
TGB setidaknya menyebut empat contoh distingsi keislaman di Indonesia yang potensial dalam mendukung upaya perdamaian dunia. Pertama, berbaurnya nilai Islam dan budaya. Hal ini menurutnya tidak terlepas dari proses islamisasi yang bersifat adesi. Islam hadir di Indonesia dengan pola adesi, bukan konversi.
“Kalau konversi, orang dibalik begitu saja. Dilepaskan dari semua atribut, baik sosial, budaya, lebih-lebih akidah keagamaannya lalu diubah 100%, 180 derajat,” papar TGB M Zainul Majdi.
“Islam di Indonesia prosesnya adesi, berangsur-angsur. Proses penanaman akidahnya tidak menyebabkan budaya dan lokalitas itu hilang. Karena itu, distingsi Islam di Indonesia adalah budayanya sangat kuat. Berbaurnya nilai keislaman dengan kebudayaan itu sangat kuat di Indoensia,” lanjutnya
Distingsi kedua, Indonesia memiliki inisiatif-inisiatif keagamaan berupa ormas-ormas keagamaan yang sangat kuat. Fakta ini juga ikut menumbuhkan dan memperkuat budaya damai dalam keislaman di Indonesia.
Ketiga, di Indonesia, kaum perempuan mendapat ruang aktualisasi yang sangat kuat. Hal ini berbeda dengan kaum perempuan di negara Arab dan negara muslim Afrika yang rata-rata jauh di belakang kaum laki-laki.
“Bahkan di daerah seperti Sumbar yang memiliki semangat Adat Basandi Syarak Syarak Basandi Kitabullah, sistem sosialnya merujuk pada kekuatan perempuan,” ujarnya.
Keempat, toleransi yang otentik. TGB menilai toleransi di Indonesia sangat otentik, bukan toleransi adhoc atas kepentingan pragmatis sesaat. Sebab, masyarakat Indonesia tumbuh dan berkembang dalam tradisi itu. “Ini hal yang kalau menurut kita biasa, di banyak tempat ini istimewa,” ucapnya.
“Ini distingsi keislaman di Indonesia yang kesemuanya menjadi modal untuk kita. Sebagai bangsa, Indonesia bisa menawarkan hal-hal baik ini, budaya damai, kepada dunia,” sambungnya.
Di samping itu, lanjut TGB, Indonesia memiliki sejumlah keunggulan lainnya. Indonesia adalah negara berpenduduk muslim terbesar di dunia yang kaya akan sumber daya, bentangan wilayahnya sangat luas, serta secara geografis relatif jauh dari sumber konflik. Indonesia juga negara muslim demokratis terbesar di dunia dan negara deokratis ketiga terbesar setelah India dan Amerika.
“Jika keunggulan Indonesia berikut distingsi keislamannya diramu, bisa melahirkan satu tawaran dari bangsa ini untuk menghadirkan nilai-nilai perdamaian di tengah dunia yang intensitas konfliknya terus meningkat,” sebutnya.
TGB berharap Sekolah Kajian Strategik dan Global UI bisa membangun rumusan yang lebih komprehensif tentang langkah-langkah yang bisa dilakukan Indonesia untuk menawarkan nilai-nilai damai pada mastarakat global. Apalagi, banyak cendekiawan muslim yang sekarang melihat bahwa Indonesia tidak lagi menjadi bagian peripheral dari dunia Islam. “Indonesia dan Islam Indonesia sudah menjadi mainstream, bagian di tengah. Karena di tengah, dia bisa memengaruhi umat Islam yang ada di tempat-tempat lain. Mari kita manfaatkan ini,” ajaknya.
“Mari kita rawat ini dan perkokoh. Sebab, ini sebenarnya sangat potensial untuk kita tawarkan menjadi khazanah global. Otentisitas berislam Indonesia, otentisitas toleransi, dan implementasi dari pluralitas di Indonesia itu sangat potensial untuk menjadi khazanah dunia,” tandasnya.