TGB: Ada Kebutuhan Mendesak Hadirkan Keindahan dan Peradaban Islam
TGB Zainul Majdi dalam Diskusi Publik Aspek Kemanusiaan dalam Peradaban Islam di IBF 2022, JCC Senayan-Jakarta
Anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Muslim (MHM) TGB Zainul Majdi mengatakan munculnya Islamofobia di berbagai negara, kemungkinan termasuk juga di Indonesia, menunjukan adanya kebutuhan untuk menghadirkan keindangan dan peradaban Islam.
“Ada kebutuhan mendesak untuk menghadirkan keindahan Islam dan peradaban Islam,” tegas TGB, panggilan akrabnya, dalam seminar tentang “Aspek-Aspek Kemanusiaan dalam Peradaban Islam.”
Seminar ini digelar Majelis Hukama Muslimin (MHM) dalam memeriahkan Islamic Book Fair (IBF) ke-20 di JCC Senayan, Jakarta, Jumat (5/8/2022). Mengambil tempat di panggung utama IBF, seminar menghadirkan Abi Quraish (Menag 1998) dan Lukman Hakim Saifuddin (Menag 2014 – 2019) sebagai pembicara. Wakil Presiden RI KH Ma’ruf Amin juga hadir memberikan keynote speech.
“Merespon Islamofobia tidak cukup hanya dengan narasi dan kata-kata, tapi juga dengan contoh yang nyata dari sejarah bagaimana peradaban Islam mampu memanusiakan manusia,” sambungnya.
TGB menegaskan bahwa di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al-Azhar, Prof Ahmad Al-Tayyeb, MHM terus berupaya berpartisipasi aktif dalam setiap ikhtiar untuk mempromosikan serta membangun koeksistensi dan perdamaian. Salah satunya melalui kegiatan promosi dan publikasi dalam pameran buku seperti Islamic Book Fair tahun 2022 yang digelar di JCC Senayan.
Pada 2018 dan 2021, MHM juga ikut berpartisipasi dalam International Islamic Book Fair (IIBF) yang juga digelar di Jakarta. Kegiatan promosi koeksistensi dan perdamaian juga dilakukan dalam kegiatan sejenis di berbagai negara, seperti Mesir dan lainnya.
TGB bersyukur atas kehadiran Wapres di stan pameran MHM dalam IBF 2022. Hal itu, menurutnya menjadi dorongan moril bagi MHM untuk meneruskan ikhtiar meneguhkan koeksistensi seluruh umat manusia, khususnya di Indonesia.
Hadir sebagai pembicara, Prof M Quraish Shihab menjelaskan aspek kemanusiaan dalam peradaban manusia. Menurutnya, sisi-sisi kemanusiaan peradaban Islam lahir dari pandangan nilai-nilai agama Islam yang selalu melihat dua sisi, material dan spiritual. Karena menekankan tentang kemanusiaan, maka semua ajaran Islam bertitik tolak dan mengarah pada kemaslahatan manusia. “Sehingga kalau ada ajarannya ketika diterapkan bertentangan dengan kemanusiaan, maka kemanusiaan didahulukan atas ajarannya,” tegasnya.
“Kemanusiaan bukan hanya tertuju kepada suatu bangsa atau ras, tapi kemanusiaannya mengarah kepada semua yang bernama manusia. Sebab peradaban ini dilahirkan oleh manusia dan manusia yang melahirkannya dalam pandangan Islam adalah manusia yang menyatu jasmani dan rohani,” lanjutnya.
Terkait peradaban, Anggota Majelis Hukama Muslimin yang berpusat di Abu Dhabi ini, mengatakan, semua manusia tidak memandang tempat, suku, dan agamanya, jika karya dan pemikirannya, sejalan dengan upaya mengangkat nilai kemanusiaan, maka itu dinamai peradaban Islam.
Menurut Prof Quriash, jika ada suatu bangsa, melahirkan sebuah ide dan produk pemikiran, walaupun tidak berbahasa Arab, selama itu bisa menggugah dan sesuai dengan tuntunan agama, maka itu adalah peradaban Islam. Siapapun yang mencetuskan ide, pandangan, karya, yang memberi manfaat buat manusia, bukan hanya jasmaninya saja tapi juga rohaninya, maka hasil karyanya itu adalah bagian dari peradaban Islam walaupun dia non muslim. Itu arti peradaban Islam.
“Karena peradaban menekankan pada sisi manusia, maka dia sangat terbuka. Siapapun yang mencetuskannya, baik muslim maupun non muslim, selama itu hikmah, selama itu bermanfaat, maka itu peradaban Islam,” tandasnya.