TGB: Rasulullah Pribadi Pemaaf dan Toleran
Tuan Guru Bajang (TGB) Dr H Zainul Majdi
Anggota Komite Eksekutif Majelis Hukama Al-Muslimin (MHM) Tuan Guru Bajang (TGB) Dr. H Zainul Majdi mengatakan bahwa Rasulullah saw memiliki akhlak dan kepribadian yang mencerahkan, baik bagi orang yang dekat dengannya maupun jauh, baik muslim maupun bukan muslim.
“Sungguh Allah Mahabenar ketika berfirman dan berbicara kepada Rasulullah saw., “Sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur,” demikian TGB mengawali sambutannya pada peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw yang digelar MHM secara virtual, Jumat (22/10/2021), dengan mengutip Al-Quran Surat Al-Qalam, ayat 4.
“Di antara budi pekerti yang luhur itu adalah sifat pemaaf dan toleran yang lahir dari dalam hati dan tampak jelas dalam kata-kata maupun perbuatannya,” lanjutnya.
Menurut TGB, di Madinah, setelah tiba dari Mekah dalam perjalanan hijrah, Rasulullah saw. mendapati ada pemeluk beberapa agama dan kabilah yang beragam dengan kepercayaan, adat istiadat, dan budaya yang berbeda-beda pula. Rasulullah saw. tidak merasa sempit hati dengan keadaan seperti itu. Beliau juga tidak berusaha menghapus keanekaragaman itu. Justru beliau memberdayakan keragaman itu untuk kemaslahatan bersama.
“Rasulullah kemudian menyusun konstitusi dengan menghimpun semua kelompok yang ada di Madinah. Dalam konstitusi itu, beliau memberlakukan persamaan hak dan kewajiban antara masing-masing kelompok. Konstitusi itu kemudian dikenal dengan nama Piagam Madinah. Dan, inilah sebenarnya inti konsep muwâthanah,” paparnya.
TGB lalu menyebut contoh lain dari teladan kepribadian Rasulullah. Dia mengisahkan, ketika terjadi fathu Makkah (kemenangan umat Islam menempati kembali kota Mekah), Rasulullah saw. memproklamasikan sikapnya memaafkan kabilah Quraisy, sebuah kabilah yang sudah banyak sekali menyakitinya dengan beragam bentuk. Mereka, kaum Quraisy, pernah mengepung Nabi saw. dan keluarganya di Mekkah selama bertahun-tahun. Kepada mereka, Rasulullah saw. berkata, “Pergilah. Kalian semua bebas.”
“Artinya, tidak ada balas dendam maupun penyiksaan (dari pihak Rasulullah saw. terhadap kabilah Quraisy). Ini adalah salah satu bentuk toleransi dan sikap pemaaf (samâhah) Rasul saw,” jelas TGB
Ketika delegasi Najran (sekarang masuk kawasan Abyssinia) datang ke Madinah, lanjut TGB, lalu tiba waktu mereka untuk melaksakan ritual ibadahnya, Rasulullah saw. memberikan kesempatan kepada mereka untuk melakukan ritual ibadahnya di dalam masjid Nabawi.
Jika begitu bentuk pemaafan dan toleransi Rasulullah saw. terhadap orang-orang yang berbeda, lalu bagaimana bentuk pemaafan dan toleransi beliau terhadap para sahabat dan kerabatnya? Al-Qur’an merekam dalam banyak ayat betapa lembut sikap Rasulullah saw. terhadap sahabat-sahabatnya. Salah satu ayat itu menyatakan: Maka berkat rahmat Allah engkau (Muhammad) berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras dan berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu. (QS Ali Imran [3]: 159).
“Sungguh sebuah sikap pemaaf dan toleran yang menawan hati. Sikap pemaaf dan toleran yang membuat tugas dan pengorbanan sahabat-sahabatnya menjadi ringan,” tutupnya.