Seminar Paviliun MHM di Pameran Buku Internasional Abu Dhabi Bahas Dialog Intra-Islam
.
Sebagai bagian dari kegiatan budaya dan intelektual di Pameran Buku Internasional Abu Dhabi edisi ke-34, Senin (28/4/2025), Majelis Hukama Muslimin (MHM) menyelenggarakan seminar berjudul “Dialog Intra-Islam: Satu Bangsa untuk Tujuan Bersama.” Hadir sebagai narasumber, Dr. Ahmed bin Abdulaziz Al-Haddad, anggota MHM, Mufti Senior dan Direktur Departemen Fatwa di Dubai, serta anggota Dewan Fatwa UEA.
Di awal seminar, Dr. Al-Haddad menegaskan bahwa persatuan Umat Muslim merupakan pilar fundamental untuk mencapai perdamaian dan stabilitas. Ia mengemukakan bahwa perpecahan dan fragmentasi membuka pintu bagi kehancuran, pertikaian, dan invasi intelektual.
Ia menjelaskan bahwa persatuan Umat Muslim merupakan amanat ilahi yang diuraikan dalam Al-Quran yang Mulia dan dianjurkan oleh Nabi Muhammad (saw), di mana Allah SWT memerintahkan orang-orang beriman untuk berpegang teguh pada tali-Nya dan tidak terpecah-pecah, sebagaimana dinyatakan dalam ayat: “Dan berpegang teguhlah pada tali Allah semuanya dan janganlah kamu terpecah-belah.” (Al-Quran, 3:103).
Dr. Al-Haddad menambahkan bahwa sejak didirikan, MHM telah bersemangat membangun jembatan dialog di antara berbagai agama dan budaya. Salah satu tonggak sejarahnya yang paling menonjol adalah penandatanganan “Dokumen Persaudaraan Manusia” di Abu Dhabi, pada 2019 oleh Grand Syekh Al Azhar Profesor Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan Yang Mulia Paus Fransiskus, di bawah naungan Yang Mulia Sheikh Mohamed bin Zayed Al Nahyan, Presiden Uni Emirat Arab. Peristiwa ini merupakan momen bersejarah yang memajukan konsep koeksistensi dan perdamaian global.
Ia menjelaskan bahwa setelah keberhasilan Dewan dalam memperluas jembatan dialog dengan para pengikut agama lain, Dewan merasa perlu untuk fokus pada dialog intra-Islam karena perbedaan dan perpecahan sektarian yang telah melemahkan Umat dan menyebabkan perpecahannya. Ia menegaskan bahwa seruan untuk persatuan internal telah menjadi tugas agama dan tanggung jawab kolektif. Ia mencatat bahwa Konferensi Bahrain tentang Dialog Intra-Islam merupakan lompatan kualitatif ke arah ini, karena menyerukan persatuan umat Islam di bawah “Seruan bagi Ahlul Kiblat,” sebuah piagam yang diluncurkan oleh Imam Besar Al-Azhar, yang menganjurkan agar piagam tersebut menjadi landasan bagi keteguhan Islam dan aksi kolektif bersama.
Dr. Al-Haddad menyimpulkan dengan menegaskan bahwa tantangan saat ini yang dihadapi Umat, baik pertikaian sektarian, invasi intelektual atau moral, mengharuskan umat untuk bersatu. Ia menunjukkan bahwa kekuatan umat hanya dapat dicapai melalui persatuan dan solidaritas. Ia menyampaikan beberapa pesan penting kepada sumat Islam, menekankan perlunya menyadari.
Pertama, persatuan Islam adalah kewajiban agama, bukan pilihan. Kedua, mematuhi nilai-nilai etika yang berasal dari Al-Quran dan Sunnah Nabi. Ketiga, menyadari bahaya perpecahan dan apa yang ditimbulkannya dalam hal fragmentasi, kelemahan, dan disintegrasi. Keempat, meningkatkan kerja sama dan aksi bersama di antara umat agar terhindar dari konflik; dan Kelima, memprioritaskan kepentingan umat di atas kepentingan sempit.
Ia juga menyerukan kerja sama dari otoritas keagamaan, ilmiah, dan media untuk menanamkan nilai-nilai pemahaman dan persaudaraan manusia.
Paviliun MHM di Pameran Buku Internasional Abu Dhabi 2025 menghadirkan lebih dari 250 publikasi intelektual dan budaya yang beragam, termasuk sejumlah rilis terbaru dari Penerbit Al-Hokama pada 2025. Publikasi-publikasi ini membahas isu-isu intelektual dan budaya yang paling menonjol, yang berasal dari misi MHM yang bertujuan untuk mempromosikan perdamaian dan menanamkan nilai-nilai dialog, toleransi, dan koeksistensi manusia. Paviliun MHM terletak di Stan 10C35, Aula 10.