Seminar Pameran Buku Rabat, MHM Bahas Upaya Lembaga Ilmiah Lestarikan Warisan Teologi Islam di Era Modern
Seminar MHM pada Pameran Buku Internasional di Rabat
Pada Pameran Buku Internasional Rabat ke-29, Majelis Hukama Muslimin (MHM) menyelenggarakan seminar budaya bertajuk “Prospek Pelestarian Warisan Teologi Islam di Era Modern melalui Lembaga Ilmiah.” Seminar ini menampilkan narasumber, Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al-Hokama, Dr. Samir Boudinar dan peneliti di Kantor Kebangkitan Warisan Al-Azhar, Dr. Mohamed Jamal.
Boudinar membuka seminar dengan menekankan komitmen MHM, di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Prof. Ahmed Al-Tayeb, untuk memprioritaskan kebangkitan warisan Islam di berbagai disiplin ilmu. Boudinar menggarisbawahi bahwa melestarikan warisan ini merupakan langkah penting yang membentuk dasar wacana intelektual kontemporer di dunia muslim dan memperluas bidang pengetahuan manusia yang lebih luas.
Dr. Boudinar lebih lanjut menjelaskan bahwa membahas warisan Islam adalah inti dari identitas intelektual bangsa Islam, yang mencerminkan hubungan yang mengakar dengan warisan yang secara mendalam membentuk pemikirannya selama berabad-abad.
Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al-Hokama juga menyoroti tantangan yang sedang berlangsung dalam menghidupkan kembali dan mempromosikan warisan teologi Islam secara komprehensif dan ilmiah menggunakan alat-alat modern. Tantangan ini dihadapi oleh lembaga-lembaga ilmiah, elit intelektual, dan pemimpin akademis saat ini. Ia mencatat bahwa warisan teologi Islam membahas isu-isu mendasar seperti masalah keyakinan (Aqidah), Al-Fiqh al-Akbar (Ilmu Yang Lebih Besar), Ilm al-kalam (kajian skolastik teologi Islam), dan wacana luar biasa yang memandu pemikiran dan perilaku.
Dr. Mohamed Jamal mencatat bahwa Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, yang juga Ketua MHM, telah menetapkan visi yang signifikan untuk membuat warisan teologis Islam dapat diakses oleh generasi muda di berbagai bidang, termasuk disiplin ilmu yang berkaitan dengan Ilm al-Kalam, Fiqh (yurisprudensi Islam), dan linguistik. Mohamed Jamal menekankan bahwa Grand Syekh Al Azhar berdedikasi untuk memastikan bahwa para siswa di Al-Azhar memahami dengan baik warisan teologi Islam yang ditinggalkan oleh para ulama terkemuka, dan melestarikannya sebagai warisan untuk generasi mendatang.
Selain itu, Grand Syekh Al Azhar juga menggarisbawahi pentingnya pembaruan Ilm al-Kalam untuk memasukkan isu-isu kontemporer yang mungkin telah diabaikan oleh para ulama sebelumnya, untuk memastikan warisan tersebut tetap relevan dan komprehensif.
Peneliti di Heritage Revival Office Al-Azhar lebih lanjut menjelaskan bahwa tulisan-tulisan tentang dasar-dasar Ilm al-Kalam, yang secara khusus disoroti Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, mendalami landasan teori yang didirikan oleh Imam Al-Azhar, Asy'ariyah. Upaya-upaya ini bertujuan untuk memperbaiki keyakinan dan mengatasi tantangan yang dihadapi bangsa Muslim, yang oleh Imam Akbar disebut sebagai “krisis Muslim kontemporer.”
Grand Syekh Al-Azhar, kata Mohamed Jamal, telah menegaskan bahwa tujuan utama mempelajari Ilm al-Kalam adalah untuk menerapkan ilmu tersebut dalam mengatasi permasalahan dunia nyata dan menghilangkan kesalahpahaman yang muncul dalam masyarakat Islam.
MHM berpartisipasi dalam Pameran Buku Internasional Rabat dengan paviliun khusus yang memamerkan lebih dari 220 publikasi dalam lima bahasa, termasuk 22 judul baru yang membahas isu-isu utama intelektual dan budaya. Paviliun ini menyelenggarakan berbagai sesi diskusi dan budaya, menampilkan para cendekiawan, pemikir, penulis, intelektual, akademisi, dan profesor universitas terkemuka. Upaya ini sejalan dengan visi MHM untuk memupuk perdamaian dan memperkuat nilai-nilai dialog, toleransi, dan hidup berdampingan dengan manusia. Publikasi tersebut dapat ditemukan di Paviliun C 18, di distrik Souissi di Rabat, ibu kota Maroko.