Seminar MHM di Pameran Buku Internasional Rabat Bahas Kemungkinan Pembaruan Teologi
Seminar MHM bahas kemungkinan pembaruan teologi
Paviliun Majelis Hukama Muslimin (MHM) kembali mengadakan seminar pada Pameran Buku dan Penerbitan Internasional ke-29 di Rabat, Senin (20/5/2024). Seminar kali ini membahas "Kemungkinan untuk Memperbarui Teologi Melalui Pengalaman Pribadi."
Seminar ini menghadirkan Dr. Nazir Ayad, Sekretaris Jenderal Akademi Penelitian Islam Al-Azhar, sebagai narasumber. Selaku moderator, Dr. Samir Boudinar, Direktur Pusat Penelitian Perdamaian Al Hokama. Seminar ini membahas banyak topik penting, menyoroti potensi pembaruan teologi dengan mengeksplorasi pengalaman pribadi dan pendekatan modern dalam bidang ini.
Di awal seminar, Dr. Nazir Ayad mengapresiasi upaya MHM dalam mendukung kajian teologis, melalui visi pencerahan dan pendekatan baru yang mempertimbangkan kebutuhan kontemporer. Nazir Ayad menekankan bahwa pembaharuan teologi merupakan kebutuhan vital dan kebutuhan kemanusiaan, peradaban, dan keislaman, serta merupakan kewajiban bagi mereka yang peduli, mempunyai keterkaitan, dan bekerja di bidang ini.
Dr. Ayad menjelaskan bahwa teologi mencakup seluruh agama baik dari segi “prinsip” dan “cabangnya”. Dia mencatat bahwa Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, menjelaskan bahwa yurisprudensi melibatkan pemahaman agama, yang terdiri dari dua bagian. Pertama, terkait dengan masalah akidah atau prinsip. Kedua, berkaitan dengan hal-hal praktis atau masalah-masalah tambahan, yaitu yurisprudensi dalam pengertian umum.
Nazir Ayas menekankan bahwa warisan teologis perlu dikembangkan dan dibangun dengan memperbaharui ilmu pengetahuan, termasuk metode, alat, cara penyajian, dan keterlibatan dengan warisan teologis yang kaya.
Lebih lanjut Dr. Nazir Ayad menekankan bahwa membahas pembaharuan teologi bukan berarti mengabaikan warisan teologi, mengabaikannya, atau meremehkannya. Sebaliknya, hal ini melibatkan keterlibatan dengan warisan ini melalui membaca, penelitian, analisis, kritik, dan pemahaman untuk dijadikan landasan bagi konstruksi baru yang mengimbangi perkembangan modern.
Nazir Ayad menekankan bahwa kenyataan yang ada saat ini memerlukan peninjauan kembali topik-topik teologis tradisional dan mengatasi isu-isu baru yang memerlukan pertimbangan baru. Sebagai kesimpulan, Dr. Ayad menggarisbawahi bahwa sepanjang sejarahnya yang panjang, teologi telah menjadi salah satu pilar peradaban Islam, menumbuhkan keterbukaan dan keterlibatan intelektual melalui perdebatan intelektual antara muslim dan lainnya, sehingga memperkaya nilai-nilai hidup berdampingan secara damai dan pemikiran manusia.
Sementara itu, Dr. Samir Boudinar menambahkan bahwa topik pembaharuan teologi merupakan isu terkini yang menjadi perhatian MHM karena adanya kebutuhan mendesak untuk memperbaharui pemikiran keagamaan pada umumnya dan teologi pada khususnya untuk menjawab permasalahan intelektual dan pengetahuan modern, termasuk tantangan beradaptasi dengan perkembangan zaman.
MHM mengakhiri partisipasinya pada Pameran Buku dan Penerbitan Internasional di Rabat, yang berlangsung dari tanggal 9 - 19 Mei. Paviliun tersebut menampilkan lebih dari 220 publikasi dalam lima bahasa berbeda, termasuk 22 terbitan baru yang membahas isu-isu intelektual dan budaya utama. Selain itu, MHM juga menjadi tuan rumah berbagai seminar yang membahas berbagai isu terkait toleransi, hidup berdampingan dan persaudaraan manusia.