Sekjen MHM tentang Dialog Bahrain: Misi dan Tahapan Baru Perjalanan Persaudaraan Manusia
Sekjen MHM Abdel Salam
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM) Mohamed Abdel Salam menegaskan bahwa Dialog Bahrain yang akan diselenggarakan pada 3 - 4 November 2022 merupakan misi perdamaian dunia di tengah tantangan yang dihadapi umat manusia yang menuntut kesatuan dan ketulusan langkah dalam menghadapinya.
Sekjen MHM mengapresiasi peran besar Kerajaan Bahrain di bawah pimpinan Raja Hamad bin Isa Al Khalifa dalam mengukuhkan budaya dialog, persatuan bangsa, dan hidup berdampingan secara rukun (koeksistensi). Peran penting itu didukung oleh kekhasan Bahrain yang memiliki keragaman agama dan budaya yang menjadikannya sebagai contoh nyata dalam menanamkan nilai-nilai ta’aruf (saling mengenal dan saling bekerja sama), koeksistensi, dan menerima pihak lain yang berbeda.
Abdel Salam menyatakan bahwa Dialog Bahrain yang diselenggarakan atas kerja sama dengan MHM itu merupakan etape baru dan penting dalam perjalanan Persaudaraan Manusia yang diluncurkan pada 4 Februari 2019 di Abu Dhabi. Piagam Persaudaraan Manusia itu sendiri, merupakan dokumen terpenting dalam sejarah kemanusiaan modern, ditandatangani bersama oleh Ketua Majelis Hukama Muslimin Prof. Dr. Akbar Ahmad Al-Tayeb, Syekh Al-Azhar, dan Pemimpin Gereja Katolik Sri Paus Fransiskus.
Pada akun resmi Majelis Hukama, Sekjen Abdel Salam mengatakan, “Mata dunia pada awal November mendatang akan tertuju pada Bahrain, negeri tempat pertemuan dua tokoh agama besar dunia, yaitu Imam Akbar Prod. Dr. Ahmad Al-Tayeb, Syekh Al-Azhar dan Ketua MHM, dan Pemimpin Gereja Katolik Sri Paus Franskis. Pertemuan yang juga akan dihadiri oleh sejumlah pemuka dan tokoh agama di dunia, pemikir, cendekiawan, dan awak media, akan mendiskusikan langkah-langkah strategis untuk mengukuhkan koeksistensi dan persaudaraan manusia.”
Majelis Hukama Muslimin adalah sebuah badan independen internasional yang didirikan di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, pada 2014. Majelis ini beranggotakan sejumlah ulama, orang bijak, dan pakar umat Islam dari pelbagai belahan dunia yang memiliki karakter independen dan moderat.
MHM didirikan dengan tujuan ikut berkonrtibusi dalam menciptakan kehidupan damai di tengah masyarakat muslim dan antara pemeluk Islam dengan pemeluk agama lain di masyarakat dunia. MHM juga berupaya mencegah terjadinya konflik dan perang, menebarkan nilai dan budaya dialog, toleransi, perdamaian, dan koeksistensi.[]