Sekjen MHM: Pertemuan Syekh Ahmad Al-Tayeb dan Paus Fransiskus Inspirasi Pecinta Perdamaian Dunia
Sekjen MHM Abdelsalam beri sambutan pada Sidang Reguler ke-16 MHM di Bahrain
Majelis Hukama Muslimin (MHM) menggelar sidang reguler ke-16 di Manama, Bahrain. Hadir, Ketua MHM yang juga Grand Sheikh Al-Azhar Prof Dr. Ahmad Al-Tayeb dan Pemimpin Gereja Katolik Vatikan Sri Paus Fransiskus. Forum ini diikuti sekitar 200 tokoh agama, termasuk para pemuka agama Katolik.
Sekretaris Jenderal (Sekjen) MHM Konselor Mohamed Abdelsalam menyatakan bahwa dialog bersejarah ini merefleksikan perasaan bersama para tokoh dan pemuka agama dalam mengemban tanggung jawab moral terhadap tantangan yang dihadapi keluarga besar umat manusia.
"Dialog hari ini merupakan pesan kuat untuk mengukuhkan wacana keagamaan terkait pentingnya membangunkan hati nurani manusia," terang Abdelsalam di Manama, Jumat (4/11/2022).
"Apalagi, ketika wacana itu keluar dari tokoh dan pemuka agama yang memiliki sifat bijak dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama dalam menghadapi berbagai tantangan kemanusiaan yang mengganggu kedamaian hidup manusia di dunia," sambungnya.
Keikutsertaan tokoh dan pemuka agama Katolik bersama dengan tokoh dan pemuka agama Islam yang tergabung dalam MHM, pada pertemuan Bahrain itu, menurut Abdelsalam, selain merupakan simbol persaudaraan umat beragama juga menunjukkan pentingnya tema yang dibahas. Para petinggi dan pemuka agama itu mendiskusikan dialog antarumat beragama dan tantangan abad ke-21.
Lebih jauh, Abdelsalam menjelaskan bahwa pertemuan Imam Akbar dan Sri Paus itu menjadi inspirasi bagi pecinta perdamaian di seluruh dunia. Pertemuan itu memotivasi dan mendorong mereka untuk terus melakukan aksi nyata demi umat manusia dan demi menciptakan masa depan yang lebih baik.
Abdelsalam menyoroti Piagam Persaudaraan Manusia yang ditandatangani Imam Akbar Ahmed Al Tayeb dan Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 2019. Piagam itu merupakan fondasi untuk membangun sebuah bangunan besar yang sudah mulai terlihat sedikit demi sedikit.
"Hal itu membuktikan bahwa dengan kebersamaan dan persaudaraan kita mampu melakukan sesuatu untuk dunia yang masih dipenuhi dengan konflik dan polarisasi yang kuat. Kita mampu melakukan sesuatu dengan hati nurani, tidak untuk tujuan lain kecuali kebahagiaan dan perdamaian umat manusia," tandasnya.