Sekjen MHM: Dunia Membutuhkan Harapan yang Bersumber dari Kehendak, Ketulusan, dan Keyakinan pada Keadilan
Dialog bertajuk “Mencari Harapan untuk Dunia yang Lebih Baik” pada Konferensi Kebijakan Dunia di Abu Dhabi, Minggu (5/11/2023).
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM) mengatakan bahwa puing dan kehancuran yang terlihat di Gaza setiap hari mewakili luka mendalam dari kemanusiaan. Diperlukan gerakan internasional untuk perdamaian.
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM) Konselor Mohamed Abdelsalam menekankan bahwa keberadaan agama bertujuan untuk melestarikan sumber harapan dalam memajukan kebaikan bersama. Ia mencontohkan, Islam menciptakan harapan masa depan melalui hubungan kosmik manusia dengan Tuhan, dunia, dan sesama manusia.
Hal ini mencakup hubungan kepercayaan dan pengharapan kepada Tuhan serta keyakinan terhadap kemampuan-Nya. Hal ini juga melibatkan pertimbangan dunia sebagai ladang suksesi umat manusia, di mana manusia memikul tanggung jawab untuk membangun kembali dan melestarikannya demi kepentingan generasi mendatang.
"Hal ini dicapai melalui nilai-nilai keadilan, kasih sayang, dan solidaritas," demikian penegasan Sekjen MHM Konselor Abdelsalam dalam sesi dialog bertajuk “Mencari Harapan untuk Dunia yang Lebih Baik” pada Konferensi Kebijakan Dunia di Abu Dhabi, Minggu (5/11/2023).
Sekretaris Jenderal menyatakan bahwa potensi Islam dalam membangkitkan harapan ini terkait erat dengan hubungan historisnya dengan agama dari Timur Tengah. Wilayah ini, tempat nubuwwat diwahyukan dan filsafat dibentuk, masih tetap hadir dalam hati nurani dan pemikiran umat manusia.
"Sayangnya, wilayah ini kini mengalami pertumpahan darah yang parah dan tiada henti, yang menyebabkan jatuhnya korban sipil yang tidak bersalah setiap saat. Situasi ini menempatkan tanggung jawab kolektif pada kita terhadap kemanusiaan kita dan dunia tempat kita hidup, yang benar-benar membutuhkan harapan yang diciptakan oleh kemauan, ketulusan, dan keyakinan kita akan keadilan bagi semua orang," pesan Konselor Abdelsalam.
Sekretaris Jenderal lebih lanjut menjelaskan bahwa Al-Quran, ketika mempertimbangkan misi Nabi Muhammad (SAW) sebagai puncak dari tahapan wahyu ilahi kepada umat manusia, menggambarkannya sebagai rahmat bagi alam semesta. Hal ini menggarisbawahi pentingnya wahyu atau agama sebagai mercusuar harapan bagi umat manusia dan rahmat bagi seluruh makhluk.
"Pesan Nabi terakhir ini ditujukan kepada seluruh umat manusia tanpa perbedaan, menjadikan universalitas, berdasarkan pada keyakinan spiritual dan komitmen moral sukarela, serta solidaritas untuk kemaslahatan umat manusia, sebagai salah satu ciri pesan agama," jelasnya
Sekjen MHM menekankan pentingnya inisiatif yang bertujuan untuk memperkuat globalitas nilai-nilai agama sambil menjaga keberagaman. Diperlukan juga upaya memanfaatkan kekuatan spiritual agama untuk mengatasi permasalahan kemanusiaan saat ini dan tantangan bersama di dunia kita.
Hal ini sejalan dengan Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan, yang ditandatangani bersama oleh Grand Syekh Al-Azhar dan Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, bersama dengan Paus Fransiskus pada 4 Februari 2019. Family House di Abu Dhabi yang dibuka pada awal 2023 juga memberikan ruang bersama tidak hanya untuk hidup berdampingan di antara ketiga agama tersebut tetapi juga untuk dialog dan kerjasama antar mereka.
Sekretaris Jenderal MHM menyimpulkan dengan menegaskan bahwa meskipun ada tantangan dan risiko, tetap penting untuk mempertanyakan bagaimana ketiga agama monoteistik dapat bekerja sama untuk mewujudkan nilai-nilai fundamental yang dimiliki bersama yaitu keadilan, kebenaran, dan perdamaian. Konselor Abdelsala. mengungkapkan keyakinan mendalamnya bahwa kemenangan akan menjadi sekutu setiap kekuatan yang menjunjung tinggi esensi kemanusiaan kita, mewujudkan dan mempertahankan nilai-nilai tersebut.