Sekjen MHM dan Petinggi Uzbekistan Bahas Upaya Hidupkan Kembali Warisan Ulama
Pertemuan Sekjen MHM dengan Pejabat Uzbekistan
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin, Konselor Mohamed Abdelsalam, Senin (20/11/2023), menggelar sejumlah pertemuan dalam kunjungannya ke Republik Uzbekistan. Sekjen MHM bertemun dengan Dr. Muzaffar Kamilov, Penasihat Presiden Uzbekistan untuk Urusan Agama, Sadyk Tashbayev, Menteri Agama Urusan, dan Dr. Oygon Ghofurov, Presiden Akademi Islam Internasional Uzbekistan.
Dalam pertemuan tersebut, mereka mendiskusikan upaya peningkatan kerja sama dan menghidupkan kembali warisan ulama.
Sekjen MHM menggarisbawahi kekayaan sejarah peradaban Islam Uzbekistan. Konselor Abdelsalam menyoroti kontribusi signifikan dari para cendekiawan dan pemikir Muslim Uzbekistan di berbagai bidang yang juga memainkan peran penting dalam memajukan ilmu pengetahuan, seni, dan filsafat Islam sepanjang zaman. Ulama Uzbekistan berkontribusi besar terhadap pembangunan kemanusiaan.
Sekjen Abdelsalam juga menguraikan rencana MHM untuk menghidupkan kembali warisan ulama. Tujuannya, membentuk perspektif intelektual generasi sekarang dan masa depan.
Penasihat Presiden Uzbekistan menyambut kehadiran Sekretaris Jenderal MHM dan delegasi yang menyertainya. Dia memuji peran MHM dalam kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb.
Penasihat Presiden Uzbekistan juga mengakui peran positif MHM dalam mempromosikan nilai-nilai perdamaian, toleransi, dan koeksistensi. Dia mengungkapkan keinginan Uzbekistan untuk berkolaborasi dengan MHM dan Al-Azhar dalam meningkatkan dialog dan persaudaraan umat manusia. Dia juga mengucapkan selamat kepada MHM atas pembukaan cabang Asia Tengah di Kazakhstan, dan menginisiasi proyek bersama lebih lanjut antara Uzbekistan dan MHM.
Menteri Sadyk Tashbayev menyoroti kemajuan signifikan yang dicapai Uzbekistan, terutama di bidang keagamaan, termasuk 16 denominasi agama berbeda yang hidup bersama dalam toleransi dan harmoni. Dia menekankan kepemilikan Uzbekistan atas sejumlah pusat ilmiah di Samarkand dan Bukhara, serta Pusat Peradaban Islam, yang menampung lebih dari 100.000 manuskrip sejarah dari cendekiawan Islam terkemuka dari wilayah Transoxiana.
Oygon Ghofurov, Presiden Akademi Islam Internasional Uzbekistan, mencatat kedudukan kampusnya yang menonjol sebagai lembaga ilmiah peringkat kedua di Uzbekistan dan yang terdepan di bidang humaniora. Kampus ini menawarkan berbagai program pendidikan, termasuk studi Islam, yurisprudensi, Ilmu Al-Quran dan Hadits, bahasa Arab, dan studi Islam komparatif.
Akademi ini bekerja sama erat dengan lembaga keagamaan dan akademik internasional seperti Al-Azhar dan Universitas Kemanusiaan Mohamed bin Zayed. Dia lebih lanjut menyatakan kesiapan akademinya untuk bekerja sama dengan MHM dalam inisiatif yang mempromosikan dialog, perdamaian, dan hidup berdampingan.
Kedua pihak juga menegaskan kembali pentingnya memperkuat kerja sama dan berbagi pengalaman dalam memajukan toleransi, perdamaian, hidup berdampingan, serta memajukan warisan dan ulama bangsa Islam. Kolaborasi ini bertujuan untuk memberikan manfaat bagi generasi sekarang dan masa depan dengan belajar dari kontribusi ilmiah dan kemanusiaan dari para ilmuwan ini.