Sekjen MHM: Agama Bukan Alat untuk Perang, tetapi Pesan Perdamaian
Sekjen MHM Mohamde Abdelsalam bicara dalam Forum Agama, Dialog, dan Perdamaian, di Roma, Italia, Minggu (23/10/2022).
Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Hukama Muslimin (MHM) Konselor Muhamed Abdelsalam menegaskan bahwa agama bukanlah sarana untuk menyulut perang, konflik, dan perselisihan. Agama diturunkan sebagai pesan perdamaian bagi keluarga besar manusia untuk hidup bersama dalam suasana aman, damai, dan stabil.
Sekjen MHM juga menyerukan perlunya menjunjung tinggi nilai-nilai dialog, mencari titik-titik kesamaan, dan merevitalisasi kecenderungan beragama yang sehat di hati anak-anak dan generasi muda.
“Kita tidak boleh membiarkan mereka menjadi mangsa retorika ekstremisme, kebencian, intoleransi, dan diskriminasi,” ungkapnya saat memberikan sambutan pada pertemuan kedelapan Forum Agama, Dialog, dan Perdamaian, yang diselenggarakan di Roma, Italia, Minggu (23/10/2022).
Abdelsalam mengatakan, “Sebagian orang mencoba menyimpang dari ajaran agama yang benar demi tujuan politik dan kepentingan individu. Mereka justru menjauh dari pesan toleransi yang menjadi tujuan agama itu sendiri.”
Ditambahkan Abdelsalam, bahwa orang seperti itu malah menjadikan agama sebagai alat untuk menyulut konflik, perang, tindak kekerasan, dan terorisme, mengintimidasi keamanan, menyebarkan kebencian, fanatisme, diskriminasi terhadap orang lain, dan menolak untuk menerima atau mengakuinya.
Abdelsalam menjelaskan bahwa Ketua MHM Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, Syekh Al-Azhar, dan Pemimpin Gereja Katolik Vatikan Paus Fransiskus melawan tantangan ini ketika bersama-sama meluncurkan seruan bersama untuk kemanusiaan dengan menandatangani Dokumen Persaudaraan Manusia.
Menurutnya, Syekh Ahmed Al-Tayeb dan Paus Fransiskus dalam dokumen yang bersejarah itu telah mendeklarasikan dengan jelas bahwa agama tidak bertanggung jawab atas segala bentuk ekstremisme, kebencian, intoleransi, dan diskriminasi. Kedua tokoh agama terkemuka itu mengajak semua orang agar berhenti menggunakan agama untuk memicu kebencian, kekerasan, ekstremisme, dan fanatisme buta.
Syekh Al-Tayeb dan Paus Fransiskus juga mengajak umat manusia untuk saling mencinta dalam suasana persaudaraan dan kedamaian, serta mengukuhkan budaya saling menghormati dan mengakui bahwa kita semua adalah anggota dari satu keluarga manusia. []