Romo Agus Sebut Dokumen Abu Dhabi Sumbangsih Tokoh Agama bagi Solusi Persoalan Dunia
Romo Agustinus Heri Wibowo beri sambutan pada Seminar Hari Persaudaraan Manusia di UIN Surakarta
Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan Antaragama dan Kepercayaan KWI Romo Agustinus Heri Wibowo menilai Dokumen Abu Dhabi sebagai salah satu sumbangsih para tokoh agama dalam ikut menyelesaikan berbagai persoalan dunia.
Pesan ini disampaikan Romo Agus, panggilan akrabnya, saat berbicara pada Seminar Persaudaraan Manusia di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Mas Said, Surakarta. Seminar ini digelar atas kerja sama dengan Majelis Hukama Muslimin (MHM) cabang Indonesia dalam rangka memperingati Hari Persaudaraan Manusia Internasional.
Romo Agus menjelaskan bahwa Dokumen Abu Dhabi dalam prosesnya berangkat dari pemikiran sederhana tentang apa yang bisa dilakukan tokoh agama di tengah kehidupan. Dari situ, kata Romo Agus, Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al Tayeb mengatakan bahwa agama hendaklah menjadi pelampung keselamatan.
“Kita bisa membayangkan pelampung. Artinya kita bisa membayangkan berada dalam situasi seperti di air, laut, banjir, terombang-ambing, dan lainnya sebagainya,” terang Romo Agus di Surakarta, Kamis (2/2/2023).
“Jika kita tidak mempunyai agama, tidak berpihak pada nilai-nilai agama, kita semua akan terserak, porak poranda, ke sana dan kemari tanpa arah dan tujuan. Kita bisa tenggelam dalam arus duniawi, kemerosotan moral, diskriminasi, intoleransi, terorisme, ketidakadilan, eksploitasi sumber daya alam, perlombaan senjata dan lainnya,” sambungnya.
Sejalan dengan agama sebagai pelampung, lanjut Romo Agus, maka nilai keadilan keindahan toleransi kebaikan perdamaian itu menjadi jangkar keselamatan. Jangkar keselamatan itu adalah nilai agama yang universal. Sebab, semua agama mengajarkan kebaikan, keindahan, serta keadilan dan kerukunan.
“Jangkar keselamatan itu yang mengakar dalam hidup kita semuanya dan akhirnya menjadi titik temu persaudara insani. Boleh kita berbeda suku agama ras dan golongan, itu wilayah internal masing-masing. Tapi medan iman kita, medan perjumpaan kita adalah hidup ini,” paparnya.
Romo Agus mengapresiasi Majelis Hukama Muslimin cabang Indonesia dan UIN Raden Mas Said Surakarta yang telah menyelenggarakan Seminar Hari Persaudaraan Manusia. Sebab, seminar ini bagian dari upaya memperbanyak ruang perjumpaan. Mengutip pesan Romo Fransikus, Romo Agus mengatakan bahwa perjumpaan adalah seni kehidupan. Semua pengenalan dan kerjasama dimulai dari perjumpaan.
“Perjumpaan itu menimbulkan saling pengenalan dan menghindari prasangka, prejudice, apriori dan lainnya,” paparnya.
“Ali bin Abi Thalib mengatakan, jika di depanmu bukan saudaramu seiman, dialah sadaramu sekemanusiaan,” lanjutnya.
Romo Agus berharap seminar ini mampu menguatkan rasa persaudaraan dan menjadi pemersatu dan perekat kebangsaan dalam mengatasi berbagai macam isu perpecahan, intoleransi, berita bohong, dan lainnya yang merusak persaudaraan manusia. Sebab, semua agama mengajarkan persaudaraan dan Allah menghendaki kebaikan.
Seminar ini menghadirkan narasumber dari beragam latar belakang agama. Hadir, Syekh Abdul Aziz Mahmud Abdul Aziz Zaid (Universitas Al Azhar-Mesir), Romo Dr. Aloys Budi Purnomo, Pr. (Unika Semarang) KH Taslim Sahlan (Ketua FKUB Jawa Tengah) Summartono Hadinoto (Penerima Award Religion Freedom Bussines Foundation UNAOCC-PBB) Pdt. Izak Lattu, Ph.D (UKSW Salatiga) Bhikku Dhammamito (Wakil Ketua Bhikku Pembina Umat Buddha DIY) dan Ida Bagus Komang Suarnawa, M.Pd.H (Ketua PDHI Surakarta).