Presiden Joseph Aoun Undang Ketua MHM Kunjungi Lebanon, Buka Kembali Institut Azhar di Beirut
.
Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM), Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, Senin (19/5/2025), menerima kunjungan Presiden Republik Lebanon Joseph Aoun. Pertemuan dua tokoh ini membahas strategi meningkatkan kerja sama timbal balik dan mengatasi tantangan yang dihadapi di wilayahnya.
Grand Syekh Al-Azhar menyambut hangat kehadiran Presiden Lebanon dan delegasi yang menyertainya. Ia menegaskan bahwa “Lebanon memiliki tempat khusus di hati setiap orang Arab dan Muslim. Kami mengikuti perkembangannya dengan saksama dan sepenuhnya menyadari keadaan sulit yang Anda hadapi. Kami berdoa agar Tuhan menganugerahi Anda keberhasilan dalam mempersatukan rakyat Lebanon, membebaskan tanah Lebanon, dan menjaga persatuan nasional.” Grand Syekh Al Azhar lebih lanjut memuji kekayaan keragaman Lebanon dan keharmonisan di antara komunitas agamanya.
Presiden Aoun, dalam kesempatan itu, mengungkapkan kegembiraannya atas kunjungan pertamanya ke Al-Azhar. Presiden Lebanon juga menyampaikan penghargaannya atas kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar. “Kami mengikuti dengan saksama visi dan upaya Anda untuk melayani kemanusiaan dan memerangi ekstremisme. Dunia saat ini sangat membutuhkan suara-suara bijak seperti Anda,” kata Presiden.
Dalam pertemuan tersebut, Presiden Aoun menyampaikan undangan resmi kepada Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, untuk mengunjungi Lebanon dan menyaksikan pembukaan kembali Institut Azhar di Beirut, yang sempat berhenti beroperasi karena keadaan sulit di negara tersebut. Grand Syekh Al Azhar dengan senang hati menerima undangan tersebut dan menegaskan niatnya untuk mengunjungi Lebanon sesegera mungkin. Ia juga mengonfirmasi kesiapan Al-Azhar untuk membuka kembali lembaga yang berpusat di Beirut tersebut, dengan menyediakan para cendekiawan dan pendidik papan atas, serta kurikulum dan sumber daya Azhar yang autentik.
Diskusi dua tokoh ini juga menyoroti pentingnya Dokumen Persaudaraan Manusia yang bersejarah, yang ditandatangani Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, dan mendiang Paus Fransiskus. Kedua belah pihak menekankan langkah-langkah praktis yang telah diambil Al-Azhar dan MHM untuk terlibat dengan lembaga-lembaga keagamaan dan budaya di seluruh dunia. Mereka juga menggarisbawahi pentingnya serangkaian dokumen yang dikeluarkan oleh Al-Azhar yang telah memajukan prinsip "kewarganegaraan penuh" dan menolak konsep "minoritas" yang memecah belah.