Pesan Persaudaraan Khutbah Jumat Masjid Istiqlal: Hindari Fanatisme dan Rasisme
Khatib Jumat di Masjid Istiqlal sampaikan pesan persaudaraan manusia
Ketua Umum Yayasan Pesantren Jauharul Wathan, Dr. KH. Abdul Halim Sholeh, MM, berpesan kepada umat Islam untuk menjauhi sikap fanatisme berlebihan dan juga rasisme. Pesan ini disampaikan KH Abdul Halim, saat menyampaikan Khutbah Salat Jumat di Masjid Istiqlal, Jumat (2/2/2024).
Salat Jumat di Masjid Istiqlal kali ini dihadiri juga oleh Presiden RI Joko Widodo. Ribuan umat Muslim juga memadati ruangan utama masjid hingga jelang khatib naik mimbar.
“Kita harus menghindari fanatisme berlebihan dan rasisme; bangga pada kehormatan keluarga dan merendahkan nasab orang lain. Itu kebiasaan jahiliyah. Islam datang menghapus itu dan mengajak berbuat baik kepada semua,” tegas KH Abdul Halim.
“Keadilan adalah prinsip terbesar dalam Islam. Tidak ada keunggulan, kecuali atas dasar ketakwaan dan amal salehnya,” lanjutnya.
Menurutnya, manusia adalah makhluk penyalur rahmat. Untuk itu, kasih sayang, saling membantu, berbuat baik kepada sesama manusia harus dipelihara dan ditumbuhkembangkan. “Jika kesadaran ini jadi karakter, tidak akan terjadi konflik, baik lingkup kecil maupun besar,” ujar KH Abdul Halim.

Di hadapan ribuan umat muslim, dalam dan luar negeri, KH Abdul Halim kembali mengingatkan pesan Rasulullah yang disampaikan saat Haji Wada':
“Wahai manusia, ingatlah! Sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu, dan bapak kalian adalah satu. Ingat-ingatlah! Tiada bagi orang Arab lebih utama dari selain Arab. Tiada pula orang berkulit merah lebih utama dari berkulit hitam. Sebaliknya, tiada orang hitam lebih utama dari orang berkulit merah, melainkan ketaqwaannya. Apakah kalian telah menerima pesan ini?’ Para sahabat menjawab: ‘[Kami bersaksi, bahwa] Rasulullah telah menyampaikan pesan ini.” [HR Imam Ahmad]
“Semua manusia merupakan satu keturunan dan bersaudara. Semua manusia adalah makhluk Allah. Ukhuwah Basyariah adalah fondasi dari segala konsep persaudaraan sesama manusia dan wujud komitmen ketakwaan,” tutur KH Abdul Halim.
Keragaman umat manusia, suku, bangsa, etnis, dan bahasa, kata KH Abdul Halim, merupakan Sunnatullah yang harus dijaga dan dihormati. Keragaman tidak boleh dijadikan sumber masalah, pertikaian, dan sumber konflik.
“Justru keragaman harus dijadikan sarana saling mengenal terhadap kelebihan budaya, adat istiadat, ciri khusus masing-masing yang bisa dijadikan dasar membangun peradaban manusia,” ucapnya.
“Rasulullah berhasil mempersaudarakan Ansar dan Muhajirin. Muslim dan non muslim juga bisa hidup berdampingan dengan toleran. Hal itu diwujudkan dalam Piagam Madinah,” tutupnya.