Perwakilan Tinggi Aliansi Peradaban PBB Kunjungi Paviliun Iman, Apresiasi MHM Promosikan Dialog Antaragama untuk Perubahan Iklim
Perwakilan Tinggi Aliansi Peradaban PBB Kunjungi Paviliun Iman COP28 di Dubai
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin, Konselor Mohamed Abdelsalam, menerima kunjungan Perwakilan Tinggi Aliansi Peradaban Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Miguel Ángel Moratinos, di Paviliun Iman pada 28th Conference of the Parties (COP28), Expo City, Dubai, Uni Emirat Arab, Rabu (6/12/2023).
Moratinos sempat berkeliling di paviliun, mempelajari inisiatif dan kegiatan utama yang diselenggarakan MHM bekerja sama dengan Kepresidenan COP28, Kementerian Toleransi dan Hidup Berdampingan Uni Emirat Arab, dan Program Lingkungan PBB.
Dalam pertemuan tersebut, Perwakilan Tinggi Aliansi Peradaban PBB menekankan pentingnya peran para pemimpin dan simbol agama dalam mengatasi tantangan global, dengan perubahan iklim sebagai prioritas utama. Ia memuji upaya MHM dalam memobilisasi berbagai lembaga keagamaan di seluruh dunia untuk berdialog, mengambil tindakan efektif terhadap isu-isu iklim, meningkatkan kesadaran tentang risiko-risikonya, dan memperkuat suara agama untuk menemukan solusi tegas di COP28 guna menyelamatkan dunia dari bencana alam. krisis iklim.
Sekretaris Jenderal MHM menyambut baik kunjungan Miguel Ángel Moratinos. Dia menegaskan bahwa Paviliun Iman berfungsi sebagai platform penting untuk meningkatkan dialog antar agama dalam mengatasi masalah iklim. Hal ini terkait erat dengan tantangan-tantangan yang harus dihadapi dunia sepanjang zaman. MHM secara konsisten berupaya membimbing masyarakat, mempromosikan nilai-nilai etika dan tanggung jawab sosial, menginspirasi beragam budaya, dan menyoroti pentingnya suara dan pesan agama dalam menghadapi krisis dan tantangan kontemporer.
Paviliun Iman berlangsung dari 1 - 12 Desember di Expo City Dubai. Forum ini akan menampilkan perwakilan tokoh dari sembilan agama yang berpartisipasi dalam sekitar 70 sesi dialog dengan lebih dari 300 pembicara dari seluruh dunia. Tujuannya, merumuskan visi bersama dan mengambil sikap terpadu di antara para pemimpin agama, cendekiawan, lingkungan hidup, para ahli, pemuda, perempuan, dan perwakilan masyarakat adat dalam mengatasi dampak buruk perubahan iklim.