Peresmian Eurasia Center, Sekjen MHM: Dokumen Persaudaraan Manusia Kerangka Etika yang Dibutuhkan Dunia
Sekjen MHM Konselor Mohamed Abdelsalam
Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM), Konselor Mohammed Abdelsalam, menegaskan bahwa Dokumen Persaudaraan Manusia adalah dokumen unik dalam sejarah kontemporer. Dokumen ini merupakan puncak dari kesepakatan antara dua otoritas agama terbesar di dunia, Grand Syekh Al Azhar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, dalam upaya bersama untuk mempromosikan nilai-nilai persaudaraan dan toleransi di seluruh dunia.
Konselor Abdelsalam menambahkan, dokumen tersebut merupakan kerangka etika dan kemanusiaan yang dibutuhkan dunia untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Pesan ini disampaikan Konselor Abdelsalam dalam pidatonya pada pembukaan Eurasian Center, di Abu Dhabi, Minggu (4/2/2024). Acara ini digelar bertepatan dengan Hari Persaudaraan Manusia Sedunia dan sekaligus peringatan lima tahun penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia.
Sekretaris Jenderal MHM menekankan bahwa tantangan besar global yang dihadapi komunitas internasional, seperti kemiskinan, krisis iklim, konflik, dan perang, menghambat upaya mencapai pembangunan berkelanjutan. Ia menyoroti perlunya memulihkan keseimbangan umat manusia itu sendiri, secara spiritual, etis, dan intelektual, serta mengadopsi nilai-nilai dan etika baru yang selaras dengan jalur keberlanjutan. Dokumen Persaudaraan Manusia memberikan nilai-nilai dan prinsip-prinsip ini, yang dapat menjadi pendorong penting untuk mengaktifkan kerja kemanusiaan dalam membentuk kebijakan dan keputusan di bidang pembangunan berkelanjutan.
Lebih lanjut, Konselor Abdelsalam menyampaikan keyakinannya bahwa pencapaian pembangunan berkelanjutan terletak pada upaya bersama masyarakat internasional untuk mengintegrasikan kembali nilai-nilai dan etika ke dalam kehidupan sehari-hari dan memandang pembangunan sebagai sebuah konsep yang mencakup kemajuan manusia secara komprehensif, tidak hanya secara ekonomi tetapi juga secara moral dan spiritual.
Sekjen MHM menutup pidatonya dengan menekankan pentingnya persaudaraan manusia sebagai faktor pemberdayaan untuk membangun masa depan global yang lebih berkelanjutan dan harmonis. Dia mendesak adanya refleksi atas hasil luar biasa yang dicapai dari pengalaman setelah penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia, dengan mempertimbangkan perlunya wacana nilai-nilai dalam jalur keberlanjutan dan bagaimana kita semua dapat memperoleh manfaat darinya, termasuk generasi mendatang.