Penutupan ‘Convening of Champions’, Program Beasiswa Pendidikan Etika Diapresiasi
Peserta Convening of Champions di Abu Dhabi
'Convening of Champions' di Abu Dhabi ditutup pada Kamis (25/4/2024). Acara ini menjadi bagian dari Program Beasiswa Pendidikan Etika yang diselenggarakan Majelis Hukama Muslimin (MHM), Komite Tinggi Persaudaraan Manusia, UNESCO, Arigatou International, Pusat Dialog Internasional KAICIID dan Yayasan Perdamaian Guerrand-Hermès.
'Convening of Champions' berisi rangkaian diskusi teknis selama dua hari, yang menjadi sarana para peserta untuk berbagi dan pengembangan rencana kolaboratif. Satu hari berikutnya, digelar diskusi tingkat tinggi.
Menteri Pendidikan Uni Emirat Arab Dr. Ahmad Belhoul Al Falasi melalui rekaman sambutan penutupan, menekankan pentingnya mengadopsi pendekatan komprehensif dalam proses pendidikan yang mendorong generasi muda untuk merangkul nilai-nilai kemanusiaan yang sama. Dia juga menekankan pentingnya peran pendidikan moral dalam membentuk karakter generasi baru agar mampu memimpin perubahan positif dalam komunitasnya dan memberi manfaat bagi umat manusia secara keseluruhan.
Dr. Ahmad Belhoul Al Falasi menambahkan bahwa Uni Emirat Arab bangga atas peran perintisnya dalam mendukung dan mempromosikan pendidikan moral dengan menanamkan budaya keberagaman dalam sistem pendidikan, memasukkan nilai-nilai kewarganegaraan positif, keberlanjutan etis, penerimaan terhadap orang lain, dan menghormati keragaman budaya dalam kurikulum pendidikan, serta meluncurkan inisiatif dan program yang bertujuan untuk membekali siswa dengan pengetahuan dan keterampilan yang dapat meningkatkan keterlibatan mereka terhadap komunitas nasional dan mengembangkan rasa kemanusiaan dan etika mereka.
Menteri Pendidikan Seychelles Dr Justin Davis Valentin juga mengatakan, “Kami menanggapi Program Beasiswa dengan sangat serius dan sangat cocok dengan strategi kami dalam mempromosikan pendidikan berbasis nilai. Kami telah merasakan hasil yang luar biasa sebagai hasil penerapan pendidikan etika dalam kurikulum sekolah kami. Saya mendedikasikan tahun ajaran 2024 sebagai tahun untuk membangun lingkungan belajar yang lebih bersatu dan damai.”
Sekretaris Jenderal MHM, Konselor Mohamed Abdelsalam bersama Sekretaris Jenderal Komite Tinggi Persaudaraan Manusia Khalid Al Ghaith menambahkan, “Selamat kepada seluruh delegasi negara atas komitmen dan janji penting yang telah kami dengar selama tiga hari terakhir yang akan menjadi dasar untuk memajukan transformasi sistem pendidikan. Saat ini kita telah melihat bukti nyata tentang bagaimana pendidikan etika berkontribusi dalam memupuk prinsip-prinsip persaudaraan dan keterhubungan manusia, hidup berdampingan secara damai dan solidaritas, membina hubungan positif dan memberdayakan peserta didik untuk mengubah masyarakat.”
Kepala Divisi Pendidikan di Uni Afrika Sophia Ashipala mengatakan, “Uni Afrika telah mendeklarasikan 2024 sebagai tahun Pendidikan, yang merupakan langkah terpuji dalam membangun sistem pendidikan yang lebih tangguh dan inklusif di Afrika. Ketika Afrika berupaya untuk merevitalisasi sistem pendidikannya, kami memberikan perhatian khusus kepada kelompok-kelompok marginal seperti; anak perempuan, anak-anak di daerah pedesaan dan mereka yang hidup dengan disabilitas dan berpindah-pindah. Penting bagi kita untuk merevisi kurikulum pendidikan dan memasukkan pertimbangan etika, budaya, dan lingkungan yang akan memberdayakan peserta didik untuk menavigasi kompleksitas dunia yang saling terhubung.”
Presiden Arigatou International Pendeta Keishi Miyamoto mengatakan, “Kami sangat yakin bahwa pendidikan etika dapat meningkatkan kemampuan bawaan anak-anak untuk memberikan kontribusi positif terhadap kesejahteraan teman sebaya, keluarga, dan komunitas mereka. Hal ini pada gilirannya akan membantu seluruh umat manusia hidup dan berkembang di dunia yang lebih baik yang penuh dengan cinta, kasih sayang, dan martabat. Sebuah langkah penting menuju perdamaian adalah memastikan bahwa setiap anak memiliki kapasitas untuk mempelajari nilai-nilai etika yang mendorong perdamaian global dan hidup berdampingan. Saya ingin menyampaikan terima kasih sebesar-besarnya kepada pemerintah negara-negara yang berpartisipasi dalam Program Beasiswa Pendidikan Etika atas upaya mereka dalam mendukung dan memprioritaskan pendidikan etika dalam kehidupan anak-anak dan komunitas mereka.”
Vikaris Apostolik untuk Arab Selatan Uskup Paolo Martinelli mencatat, “Berinvestasi dalam pendidikan berarti berinvestasi di masa depan. Nilai-nilai etika dan spiritual dapat membantu generasi muda berkembang dalam kehidupan sehari-hari dengan menjadi warga negara teladan yang mampu menghadapi masa depan dengan berani dan tenteram. Dokumen Persaudaraan Kemanusiaan, yang ditandatangani bersama oleh Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Vatikan Paus Fransiskus menandai babak baru dalam hubungan antar agama dan merupakan alat yang hebat untuk pendidikan antaragama, dengan menekankan pada keberagaman, di mana para penganut agama belajar untuk saling menghormati demi kemanusiaan.”
Peserta Program Fellowship berjanji untuk meningkatkan investasi dan fokus pada pendidikan etika, baik dalam sistem pendidikan formal maupun non-formal, untuk mendukung kesejahteraan sosial, emosional, dan spiritual anak-anak. Mereka juga berkomitmen untuk ikut berkontribusi dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif, saling menghormati, dan tangguh.
Mereka berjanji akan mengintegrasikan dan mengarusutamakan Pendidikan Etika untuk mempromosikan pembelajaran antar budaya dan antaragama dalam kurikulum, kebijakan, dan program pendidikan yang ada di seluruh sistem pendidikan dan pengalaman sekolah. Mereka juga akan memperkuat kapasitas lembaga pendidikan formal dan pendidik dalam pendidikan etika melalui pelatihan untuk guru, baik pelatihan pra-jabatan dan/atau dalam jabatan, tentang pedagogi transformatif pendidikan etika.
Program Beasiswa Pendidikan Etika diluncurkan dengan keterlibatan Kementerian Pendidikan Bangladesh, Indonesia, Kenya, Mauritius, Nepal dan Seychelles. Program ini menjadi upaya kolaboratif yang unik untuk mempromosikan Pendidikan Etika agar berkontribusi terhadap kewarganegaraan dan pembangunan global. Melalui Program Beasiswa Pendidikan Etika, 324 guru dilatih pada tahap pertama dan berhasil menjangkau 8.234 anak di enam negara peserta, sehingga berkontribusi pada penguatan kohesi sosial.
Selama tiga hari pertemuan di Abu Dhabi, program ini menyediakan platform untuk membahas kebutuhan penting untuk memprioritaskan dan berinvestasi dalam Pendidikan Etika, berbagi hasil penerapan di enam negara peserta serta pembelajaran yang didapat, dan memberikan rekomendasi penting. kepada pemangku kepentingan yang berbeda.