Pemberdayaan Pemuda Pilar Kerja 10 Tahun MHM Bangun Kesadaran Koeksistensi dan Perdamaian
Peserta Program Pemberdayaan Pemuda yang digelar MHM
Di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al-Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, Majelis Hukama Muslimin (MHM) secara signifikan berfokus pada pemberdayaan generasi muda dan meningkatkan keterampilan mereka untuk menghadapi tantangan global. Komitmen ini berasal dari keyakinan Dewan akan peran penting pemuda dalam memupuk perdamaian dan mendorong hidup berdampingan (koeksistensi), serta memandang mereka sebagai tulang punggung bangsa dan masa depan mereka yang menjanjikan.
Melalui siaran pers, Kamis (28/3/2024), MHM menjelaskan bahwa inisiatif untuk memupuk kemampuan generasi muda dan menyempurnakan keterampilan mereka dalam menciptakan perdamaian dan hidup berdampingan dengan umat manusia dikemas dalam Emerging Peacemakers Forum (EPF). Edisi pertama forum ini diluncurkan di London pada 2018, diselenggarakan MHM bekerja sama dengan Al-Azhar dan Uskup Agung Canterbury.
Edisi kedua EPF diadakan pada Juli 2023 di Jenewa, Swiss, bekerja sama dengan Dewan Gereja Dunia dan Rose Castle Foundation. Dua edisi EPF ini masing-masing diikuti 50 peserta, terdiri atas para pemuda dari berbagai negara di dunia.
Forum ini berfungsi sebagai platform dialog bagi individu muda berusia 18 hingga 30 tahun, yang berkomitmen untuk mengembangkan solusi inovatif dan jangka panjang demi perdamaian di masyarakat. Hal ini bertujuan untuk memberdayakan generasi muda untuk memulai proyek-proyek pembangunan perdamaian nasional dan regional dan untuk menyebarkan prinsip-prinsip toleransi dan persaudaraan manusia.
Dalam upaya untuk menyebarkan dan memperkuat nilai-nilai persaudaraan manusia, toleransi, dan hidup berdampingan di kalangan pemuda, MHM meluncurkan program Dialog Mahasiswa Global tentang Persaudaraan Manusia. Program ini digelar bekerja sama dengan Universitas Georgetown. Tujuannya, membiasakan mahasiswa dengan nilai-nilai persaudaraan manusia dan menciptakan jaringan global bagi mahasiswa untuk bertukar ide-ide kreatif yang memajukan solidaritas antaragama dan antarbudaya dalam masyarakat.
Tahap kedua program ini dilaksanakan di Abu Dhabi, ibu kota Uni Emirat Arab, melibatkan mahasiswa dan lulusan dari universitas ternama di seluruh dunia, mewakili 8 negara dan 5 agama dan denominasi. Mereka memajukan dialog mahasiswa yang berfokus pada penguatan persaudaraan manusia dalam komunitas akademik, mengatasi tantangan dalam mengembangkan konsep dan nilai persaudaraan manusia dalam lingkungan akademik.
Selain itu, program Dialog Mahasiswa Global juga menyoroti praktik positif di bidang ini dan mengusulkan ide-ide inovatif untuk menumbuhkan budaya dialog dan komunikasi di universitas, menandai langkah menuju penyebaran nilai-nilainya secara global oleh generasi muda.
Dalam komitmen terhadap dukungan pemuda di berbagai bidang, MHM telah memprioritaskan peningkatan partisipasi kaum muda dalam berbagai acara dan inisiatif. Hal ini termasuk sesi dialog yang diadakan di Paviliun Iman selama COP28, paviliun MHM di berbagai pameran buku internasional, dan Majelis Persaudaraan Manusia yang pertama diselenggarakan tahun ini.
Majelis Persauraan Manusia didirikan atas kerja sama MHM dengan Rumah Keluarga Ibrahim, Kementerian Toleransi dan Hidup Berdampingan UEA, dan Komite Tinggi Persaudaraan Manusia. Di samping itu, ada sejumlah program lainnya, antara lain: konferensi “Islam dan Barat: Keberagaman dan Integrasi”, penandatanganan bersejarah Dokumen Persaudaraan Manusia, “Pertemuan Media Arab untuk Persaudaraan Manusia,” dan “Hari Persaudaraan Manusia Internasional”, yang juga ditekankan.
MHM juga memprakarsai program Ramadan pada 2023 dan 2024 untuk menyoroti kontribusi pemuda dalam pembangunan perdamaian dan menyoroti contoh-contoh positif di seluruh dunia yang telah memfasilitasi perdamaian di komunitas mereka. MHM menyelenggarakan beberapa kompetisi untuk mendorong kaum muda agar terlibat secara positif dan mengembangkan solusi inovatif untuk tantangan kontemporer, termasuk masalah iklim.
Bersamaan dengan Faith Pavilion di COP28, MHM meluncurkan kompetisi global yang bertujuan untuk memicu inovasi di kalangan pemuda dan mendorong mereka untuk menciptakan solusi berdampak yang berkembang menjadi proyek berkelanjutan yang mengatasi krisis iklim di komunitas mereka. Kompetisi ini mencakup beberapa kategori, antara lain: perubahan iklim dan keadilan iklim, peningkatan kapasitas terkait pendidikan dan pelatihan iklim, dan peran agama dalam mengatasi perubahan iklim. Dalam prosesnya, terppilih empat proyek yang menang dari 50 peserta yang berasal dari 11 negara.
MHM tetap berdedikasi untuk mendukung dan memberdayakan generasi muda melalui dukungan terhadap model-model inspiratif dan ide-ide konstruktif yang mendorong hidup berdampingan secara damai antara budaya dan agama.