Pemberdayaan Pemuda dalam Aksi Iklim dan Strategi Pemulihan Ekosistem Dibahas pada Hari Ketujuh Paviliun Iman COP29
Sessi ketujuh Paviliun Iman COP 29
Hari ketujuh Paviliun Iman di COP29 menampilkan serangkaian sesi dialog yang berfokus pada pengintegrasian nilai-nilai agama dan upaya ilmiah untuk mengatasi tantangan iklim, Rabu (21/11/2024). Diskusi menyoroti dampak perubahan iklim pada masyarakat, khususnya di wilayah rawan bencana seperti Pasifik dan Amazon.
Sesi-sesi tersebut juga membahas strategi nasional dan global untuk memerangi bencana lingkungan, termasuk kebakaran hutan dan pemulihan ekosistem, sekaligus menekankan pentingnya memberdayakan pemuda untuk memimpin dialog dan aksi iklim. Agama dihadirkan sebagai motivator utama untuk mendorong gaya hidup berkelanjutan dan mencapai keadilan iklim.
Dalam pidato pembukaan, Editor dan Pemimpin Riset Spiritual di Spiritual Science Research Foundation, Sean Clarke mencatat bahwa 2024 menjadi tahun terpanas dalam sejarah, membawa dunia mendekati kenaikan suhu 1,5°C di atas tingkat pra-industri. Ia menyoroti peningkatan berkelanjutan dalam konsentrasi gas rumah kaca, yang menyerukan evaluasi ulang strategi iklim yang mendesak. Clarke menekankan pentingnya mengalokasikan sebagian dana iklim untuk mendidik masyarakat tentang praktik positif yang berkontribusi pada pemulihan keseimbangan lingkungan dan menstabilkan iklim.
Sesi pertama diskusi ini mengangkat tema "Harapan Alih-alih Optimisme: Bagaimana Umat Beragama Dapat Memelihara Harapan Transformatif". Diskusi berfokus pada peran nilai-nilai agama dan moral dalam mengubah kesadaran dan persepsi publik tentang isu-isu iklim. Para pembicara membahas dampak perubahan iklim pada masyarakat Pasifik dan upaya kolaboratif di antara keluarga, dewan lokal, dan kelompok agama untuk mendorong aksi iklim lokal. Upaya ini telah menghasilkan inisiatif inovatif, seperti Akademi Pemuda Aksi Iklim, yang akan beroperasi di bawah Dana Iklim Hijau untuk menyediakan dana yang diperlukan bagi inisiatif yang dipimpin oleh pemuda di seluruh Pasifik.
Pada sesi kedua, dibahas tema tentang "Menginspirasi Aksi yang Dipimpin Negara untuk Menghentikan Kebakaran Hutan". Para peserta mengkaji upaya nasional untuk memerangi kebakaran hutan melalui strategi yang komprehensif dan berbasis sains. Mereka menekankan pentingnya melibatkan masyarakat dan pemangku kepentingan lokal sambil menegakkan hukum yang ketat untuk membatasi kebakaran yang disebabkan oleh aktivitas manusia. Para pembicara mencatat bahwa kondisi iklim ekstrem, seperti kekeringan yang berkepanjangan dan meningkatnya suhu, merupakan kontributor utama terhadap meningkatnya frekuensi dan keparahan kebakaran hutan, yang menimbulkan tantangan lingkungan dan ekonomi yang signifikan.
Pada sesi ketiga, dibahas tema tentang "Restorasi Ekosistem sebagai Penggerak Aksi terhadap Iklim dan Alam". Diskusi menyoroti restorasi ekosistem sebagai strategi yang efektif untuk mengatasi perubahan iklim dan melestarikan alam. Para peserta menunjuk pada inisiatif berbasis agama yang membina hubungan antara masyarakat lokal dan kaum muda, mendorong program yang meningkatkan keberlanjutan dan keseimbangan ekologi. Contohnya termasuk proyek reboisasi, upaya restorasi sungai, dan memerangi penggurunan. Sesi tersebut menekankan konsep kemanusiaan sebagai keluarga global yang berbagi rumah bersama, yang dapat menjadi motivator yang kuat untuk kemajuan yang nyata dan transformatif dalam dialog dan aksi iklim.
Dialog pada hari ketujuh ditutup dengan sesi yang membahas tema tentang "Dialog Antar Generasi: Iman dalam Aksi". Para peserta mengeksplorasi peran berbagai generasi dalam mengatasi krisis iklim melalui iman dan upaya kolektif. Para pembicara menekankan pentingnya memberdayakan kaum muda untuk mengambil peran kepemimpinan dalam diskusi yang terkait dengan iman, martabat manusia, dan keadilan iklim. Sesi ini juga menggarisbawahi peran utama agama dalam menanggapi krisis iklim, khususnya di negara-negara yang paling rentan terhadap bencana terkait iklim.
Paviliun Iman, yang berlangsung dari tanggal 12 hingga 22 November, dibangun berdasarkan keberhasilan edisi perdananya di COP28 di UEA tahun lalu. Dengan lebih dari 40 sesi dialog, Paviliun berfokus pada peningkatan kolaborasi antaragama untuk pengelolaan lingkungan, mengeksplorasi strategi adaptasi berkelanjutan, mendorong gaya hidup berkelanjutan yang didorong oleh agama, menangani dampak non-ekonomi dari perubahan iklim, memastikan akses ke pendanaan kerugian dan kerusakan, dan mengadvokasi akuntabilitas lokal dan keadilan iklim yang inklusif.