Nyadran, Persaudaraan, dan Kehidupan Bersama Masyarakat Getas
Masyarakat Dusun Krecek dan Dusun Gletuk, Desa Getas, Kecamatan Kaloran-Temanggung, gelar Nyadran Makam
Jumat (11/2/2022), jam menunjukkan pukul 07.30 WIB, ketika warga Dusun Krecek dan Dusun Gletuk bersiap di halaman rumah masing-masing untuk bersiap mengikuti Nyadran Makam. Dusun Krecek dan Dusun Gletuk terletak di Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung. Wilayah ini berada kawasan perbukitan yang sejuk dan asri, sekitar 900 meter di atas permukaan laut (dpl).
Pagi itu, masyarakat Dusun Krecek dan Dusun Gletuk kompak. Meski tidak dikomando, semua bergerak atas kesadaran untuk menghormati leluhur yang sudah dikebumikan melalui kegiatan Nyadran Makam.

Banyak di antara mereka yang membawa tenong. Yaitu, wadah dari anyaman bambu yang berbentuk bulat dan digunakan untuk menaruh makanan. Sebagian tenong diisi minuman, snack, dan buah, sebagian tenong lainnya membawa makanan besar berupa tumpeng, sayur, dan lauk pauk.
Pagi itu, mereka keluar rumah menuju makam dengan niat bakti dan hormat leluhur, sekaligus berbagi dan makan bersama. Sebagian dari mereka mengenakan pakaian tradisional, beskap lengkap dengan blankon dan ada juga yang mengenakan kebaya.
Warga Dusun Krecek yang mayoritas beragama Buddha berkumpul dan bergerak bersama dari kediaman menuju makam. Demikian juga warga Dusun Gletuk yang mayoritas beragama Islam, mereka juga berkumpul dan bergerak ke arah lokasi yang sama, makam leluluhur.
Makam itu berjarak sekitar 1 km dari titik keberangkatan masing-masing warga dusun. Mereka berjalan membentuk barisan menyusuri kontur tanah yang menanjak dan menurun, sembari membawa beragam makanan yang akan disantap bersama usai mendoakan para leluhur.

Tiba di makam, dua warga dusun, baik yang Buddhist, Muslim, dan penganut agama lainnya, membaur menjadi satu. Tidak ada sekat-sekat pembeda di antara mereka. Semua merasakan eratnya tali persaudaraan sebagai keturunan dari para leluhur yang telah dimakamkan.
Setelah siap, dihelat tahlil dan doa oleh pimpinan agama Islam. Selang kemudian, dilakukan puja bakti dan doa oleh tokoh umat Buddha. Nyadran Makam ini lalu ditutup dengan makan bersama. Semua yang dibawa dalam tenong dikeluarkan untuk dimakan bersama di makam.
“Nyadran digelar oleh dua dusun di Desa Getas, Mas. Dusun Krecek yang mayoritas beragama Buddha, dan Dusun Gletuk yang mayoritas muslim. Ada juga warga dusun yang beragama Kristen,” ujar Ngasiran , salah satu aktivis Buddhist yang juga Direktur Buddhazine.com.
“Meski beragam, kami diikat oleh rasa persaudaraan. Sebab, kami merasa memiliki leluhur yang sama yang dimakamkan di kawasan Getas ini. Untuk itulah kami terus mentradisikan Nyadran,” sambungnya.

Nyadran Makam telah mengikat mereka dalam tali persaudaraan yang kokoh hingga mereka dapat hidup bersama secara rukun, damai, dan toleran. Beruntung, ikhtiar untuk melestarikan tradisi ini terus bergulir. Meski nun jauh di ketinggian 900 meter dpl, sinergi para pemuda dan sesepuh terus terjalin dalam upaya melestarikan sekaligus menggali makna Nyadran serta arti pentingnya bagi persaudaraan dan lingkungan. Untuk itu, sejak 2019, tradisi yang sudah berlangsung puluhan tahun ini diperkaya dengan kegiatan Nyadran Perdamaian.
Nyadran Perdamaian
Sejak 2019, tradisi Nyadran dimeriahkan juga dengan kegiatan Live In Nyadran Perdamaian. Nyadran adalah tradisi, Live In Nyadran Perdamaian adalah ikhtiar masyarakat dalam melestarikan tradisi Nyadran itu sendiri. Tahun ini, Live In Nyadran Perdamaian diikuti 15 peserta yang datang dari berbagai kota.
Aktivis Buddhist Kirmi mengatakan ide Live In Nyadran Perdamaian muncul dari banyaknya tamu yang datang ke Dusun Krecek, misalnya untuk melakukan kegiatan KKN. Awalnya memang hanya fokus pada kegiatan keagamaan yang dilakukan mahasiswa Buddhist, namun akhirnya berkembang hingga seperti sekarang. Live in Nyadran Perdamaian diisi juga dengan meditasi, belajar seni, kelas perempuan bertutur, diskusi, dan pentas seni.
Kirmi berharap banyak nilai yang bisa dipelajari dan dipetik oleh generasi muda, khususnya di Desa Getas, dari tradisi Nyadran, di tengah arus perkembangan zaman dan teknologi yang demikian pesat. Dia berharap generasi muda bisa belajar proses hidup dari Nydran, bahwa semuanya tidak bisa dilakukan secara instan. Dalam proses Nyadran, ada perlengkapan yang harus disiapkan, bahan yang akan dibawa, semua itu melalui proses panjang. Ada juga kegiatan membersihkan lingkungan dan makam leluhur. Ini membangun sikap gotong rotong. Ada juga rangkaian musyawarah yang melatih para pemuda dalam merumuskan dan merancang kegiatan, mengambil bagian, berpartisipasi dan mengambil nilai-nilai yang bisa diterapkan dalam kehidupan.

“Kami berharap tradisi ini tidak hilang. Nilai yang terkandung di dalamnya akan terus terpelihara. Banyak pelajaran yang bisa kami ambil, antara lain: bakti, kerja sama, serta harmonisasi hubungan antar manusia,” tuturnya.
Kades Getas Dwi Yanto mengapresiasi inisiatif pemuda Dusen Krecek untuk menggelar Live In Nyadran Perdamaian sebagai upaya melestarikan tradisi dan memberikan pemahaman tentang rangkaian kegiatan dan sejarah Nyadran kepada generasi muda. “Krecek adalah salah satu dusun di desa kami yang selalu menggaungkan toleransi. Ini simbol bahwa desa kami adalah desa yang toleran,” ujar Dwi Yanto.
“Banyak penelitian dan studi banding yang sudah dilakukan di dusun ini, untuk kegiatan toleransi. Ini warisan nenek moyang kita. Saya berterima kasih atas kehadiran peserta live in,” sambungnya.
Hal senada disampaikan Penyelenggara Buddha Kankemenag Kab Temanggung Suwardi. Dia berharap Live In Nyadran Perdamaian ini lestari dan terus membangun suasana warga yang lebih akrab, toleran, sekaligus merawat budaya dan kearifan lokal. “Dengan kearifan lokal yang ada, masyarakat yang berbeda-beda tetap rukun dan toleran,” tuturnya.
Makna Nyadran
Salah satu peneliti tradisi Nyadran di Desa Getas adalah Ketua Sekolah Tinggi Agama Buddha Syailendra, Kopeng, Suranto. Dia mengaku telah meneliti tradisi ini sejak 2012 dan ditulis menjadi karya disertasinya dengan tajuk Kearifan Lokal sebagai Sumber Narasi Multikulturalisme.
Menurut Suranto, sadranan merupakan salah satu kearifan lokal yang ada di Kecamatan Kaloran dan sejumlah daerah lainnya. Selain Temanggung, di daerah Semarang tradisi sejenis juga dikenal, namun dengan nama yang berbeda-beda. Ada yang menyebutnya dengan Safaran, Ruwahan, dan Rejeban. Untuk di Kaloran, istilah yang digunakan adalah sadranan dan digelar setiap Jumat Pon pada bulan Rajab dan atau Safar.
Sadranan berasal dari kata Sradha, artinya yakin, bakti terhadap leluhur. Sadranan tidak serta merta hanya berupa aktivitas berziarah ke makam sambil membawa makanan. Dalam prosesnya, Sadran mempunyai sejumlah persiapan. Misalnya, besreh. Yaitu, membersihkan makam, jalan, sumber air, atau sesuatu yang disakralkan dan memiliki arti dan nilai penting bagi keberlangsungan kehidupan di lingkungan masyarakat.
“Semua tidak terlepas dari mitos sehingga tradisi masih jalan. Tanpa mitos yang menjadi kekuatan masyarakat, tradisi tidak akan lestari,” papar Suranto.
Bagi masyarakat Getas, Nyadran merupakan bentuk tradisi penghormatan kepada leluhur. Mereka menyebutnya sebagai Eyang Krecek. Dia adalah leluhur yang menjadi sosok dihormati di daerah Krecek dan Gletuk. Di kawasan ini, ada ikatan batin yang secara spiritual diyakini masyarakat.

“Jadi masyarakat mempunyai kosmologi kecil di daerahnya, yaitu ikatan dengan leluhur. Nah, cara menghormati leluhur itu dengan nyadran,” terang Suranto.
“Karenanya, dalam prosesnya ada bebersih, pasang sajen, puja, dan ritual yang dilakukan masyarakat. Itu berjalan atas kesadaran bersama. Saat tiba waktu Jumat Pon, masyarakat sudah mempersiapkan diri. Kesadaran masyarakat yang seperti ini mendorong mereka untuk memberikan penghormatan pada leluhur,” jelasnya.
Suranto melihat bahwa ada tiga makna dalam tradisi Sadran, yaitu: spiritual, sosial, dan lingkungan atau ekologi. Secara spiritual, Nyadran menjadikan relasi bersama antara manusia dengan leluhur tetap jalan dalam ikatan kuat. Ikatan itu berupa penghormatan terhadap leluhur.
Secara sosial, Nyadran menguatkan budaya gotong royong, membangun jejaring bersama, dan juga toleransi. “Saat sadranan, semua kumpul bareng lintas agama, berbaris berdampingan melepaskan identitas agama. Semua merasa menjadi bagian dari keturunan leluhur. Mereka bisa berbagi makanan tanpa memandang identitas,” paparnya.
Kalau di dunia barat, ruang publiknya adalah restoran, masyarakat Getas bisa menjadikan makam atau kuburan sebagai tempat pertemuan. Di wilayah ini, tempat apapun bisa menjadi ruang publik untuk berbagi kebaikan dan membangun ikatan emosional.
“Jadi secara sosial, Nyadran telah membangun ruang publik dan ruang bersama, di ladang, kuburan, dan banyak tempat untuk bisa menjadi tempat diskusi. Bahkan, kuburan menjadi tempat kebajikan,” ujarnya.
Nyadran dan tradisi lainnya, menurut Suranto mengingatkan kepada warga bangsa bahwa kita semua adalah pelaku toleransi, multikulturalisme, dan perdamaian. Praktik, semangat, dan nilai itu dilestarikan oleh kearifan lokal masyarakat. Dan, fenomena ini dipotret oleh akademisi barat. “Kalau bangsa Indonesia tidak rukun, seharusnya malu. Sebab, kita adalah pelaku dalam membangun perdamaian, salah satunya melalui kearifan lokal,” pesan Suranto.
Makna ketiga yang terkandung dalam tradisi Nyadran berkenaan dengan lingkungan. Sebelum prosesi sadranan, masyarakat secara bersama-sama melakukan besreh, bersih makam, jalan, maesan, batu nisan dan lainnya; semua dibersihkan. Besreh tidak hanya dilakukan di kuburan, tapi sungai, sumber mata air, tempat sakral, dan lainnya. Setelah besreh, Nyadran ditutup dengan makan bersama di makam leluhur.
Prosesi Sadranan dibangun atas kesadaran bersama. Semua orang bergerak atas kesadarannya. Dan semua mendapat keuntungan berupa kedamaian batin, bisa saling berbagi, serta rasa syukur terhadap alam karena bisa bertahan hidup. Sebelum menikmati kenduri yang telah disiapkan, Nyadran ditutup dengan memanjatkan doa secara bergantian, dari pihak Muslim dan Tokoh Buddha.

Tradisi elok semacam Nyadran ini mendapat apresiasi dari Bhiksu Nirmana Sasana, Suhu Xue Hua. Menurutnya, memiliki tradisi dan budaya luhur adalah sebuah kedaulatan sebagai umat beragama.
Suhu Xue Hua melihat Nyadran sarat akan nilai bakti dan itu sangat penting dalam ajaran Buddha. Dikatakannya, meski ribuan kebajikan telah dilakukan, itu tidak bisa menang dengan satu bakti; bakti kepada leluhur, orang tua, dan negara.
Tradisi nyadran adalah bagian dari kekayaan kebudayaan yang ada di Indonesia. Kebudayaan sendiri menurut Suhu mampu menjadikan seseorang lebih dekat dengan nilai-nilai kemoralan. “Saat ini banyak orang pinter, punya pengetahuan tinggi tetapi belum tentu orang itu mempunyai moralitas. Tetapi kalau kita punya kebudayaan, saya yakin orang itu mempunyai moralitas yang tinggi. Orang berkebudayaan akan mengingat nilai-nilai moral orang tua dari kita, para leluhur kita, asal muasal kita. Dan dia akan mengenal Tuhan YME,” sebutnya.
“Tanpa kebudayaan, negara tidak sempurna. Indonesia adalah negara yang sangat kaya budaya. Banyak orang barat datang ke sini untuk belajar,” sambungnya.