MHM Ikuti Simposium Global yang Digelar Vatikan, Bahas Memori Kolektif dan Martabat Manusia
.
Konselor Mohamed Abdelsalam, Sekretaris Jenderal Majelis Hukama Muslimin (MHM), ikut ambil bagian dalam simposium internasional yang diadakan di Vatikan, 9 - 10 Mei 2025. Acara ini membahas memori dan hubungannya dengan martabat manusia—simposium yang membahas peluang dan tantangan populasi global yang menua. Kegiatan ini mempertemukan pejabat tinggi, pemimpin pemikiran global, dan tokoh agama senior dari seluruh dunia.
Pada awal sambutan selama sesi pembukaan simposium, Jumat (9/5/2025), Sekretaris Jenderal MHM menyatakan: "Dengan penuh emosi, saya berdiri di hadapan Anda hari ini, mengingat bahwa kita diundang ke simposium ini di bawah naungan Paus Fransiskus—yang kenangan abadinya terus hidup di hati semua orang yang mengenalnya secara dekat. Saya, dengan segala kerendahan hati, adalah salah satu dari mereka. Dampaknya yang abadi tetap terukir dalam hati nurani setiap orang yang menyaksikan kehadiran, tindakan, dan sikap kemanusiaannya yang mulia. Kami melihat kedalaman keyakinannya pada nilai-nilai kehidupan manusia yang sejati—bukan kehidupan yang penuh kepura-puraan, tetapi kehidupan yang penuh ketulusan. Ia mewujudkan keyakinan ini dengan cara yang luar biasa, terutama dalam kegigihannya untuk hidup secara alami sampai akhir, tanpa intervensi medis, dan memilih untuk meninggalkan kehidupan ini dengan spontanitas dan martabat.”
“Saya menyampaikan ucapan selamat yang tulus kepada Paus Leo XIV yang terpilih sebagai Paus Gereja Katolik. Kami sangat yakin akan perjalanan dialog dan persaudaraan kami yang berkelanjutan dengan Yang Mulia, dalam mengejar perdamaian. Bersama-sama, kita akan terus memperjuangkan nilai-nilai kasih sayang, pengertian, dan pengakuan bersama, demi dunia yang lebih baik dan masa depan di mana semua orang dapat menikmati keamanan, kedamaian, dan stabilitas," lanjutnya.
Konselor Abdelsalam menyampaikan dukungan dari Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Profesor Dr. Ahmed Al-Tayeb, untuk inisiatif penting ini yang difokuskan pada perlindungan martabat dan kesejahteraan para lansia. Ia menekankan bahwa para lansia mewakili memori kolektif masyarakat—arsip identitas, kebijaksanaan, dan pengalaman yang hidup.
Sekretaris Jenderal MHM mencatat, melestarikan kebijaksanaan ini dan mewariskannya kepada generasi mendatang, meningkatkan kemampuan masyarakat untuk menghadapi krisis dan membangun masa depan yang stabil dan seimbang. Ia mencatat bahwa penelitian terkini menunjukkan bagaimana melibatkan para lansia dalam program pendidikan dan bimbingan tidak hanya bermanfaat bagi kesehatan mental mereka tetapi juga memberi wawasan yang berharga bagi generasi muda. Kehadiran kakek-nenek dalam rumah tangga, imbuhnya, berdampak positif pada kesehatan dan keberhasilan anak-anak—sebuah fenomena yang kini dikenal secara akademis sebagai "Efek Nenek".
Konselor Abdelsalam juga menegaskan bahwa Islam memuliakan manusia di setiap tahap kehidupan. Ini sebagaimana dinyatakan dalam Al-Quran: “Sesungguhnya Kami telah memuliakan anak cucu Adam…” (Al-Quran, 17:70). Nabi Muhammad (saw) juga menganjurkan penghormatan kepada orang tua, dengan mengatakan: “Bukan termasuk golongan kami orang yang tidak menyayangi yang lebih muda dan tidak menghormati orang tua.” Memenuhi rasa hormat dan penghormatan seperti itu bagi para lansia, pada hakikatnya, merupakan bentuk pemuliaan kepada Yang Mahakuasa—Pemberi kehidupan dan Sumber segala martabat. Sebagaimana yang juga dikatakan oleh Nabi (saw): “Memuliakan Allah berarti menunjukkan penghormatan kepada seorang Muslim yang telah beruban...”
Sekretaris Jenderal MHM lebih lanjut menekankan pentingnya menjaga memori kolektif ini dengan memberikan perhatian khusus pada kesehatan kognitif para lansia. Ia menekankan perlunya menciptakan lingkungan yang menjunjung tinggi martabat mereka dan melindungi mereka—secara psikologis, ekonomi, dan fisik—dari pengabaian atau diskriminasi. Ia juga menyerukan pengakuan baru terhadap tahap kehidupan ini sebagai babak puncak pengalaman manusia—yang menawarkan kesempatan untuk terus berkontribusi dan mendapatkan berkah dari kehidupan yang bermakna.
Sebagai penutup, Konselor Abdelsalam menekankan pentingnya mengembangkan visi yang jelas dan inklusif untuk perawatan lansia—yang berakar pada prinsip solidaritas, keadilan, martabat, dan rasa hormat antargenerasi. Ia menegaskan bahwa masa depan masyarakat kita bergantung pada kemampuan kolektif kita untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang yang dihadirkan oleh populasi yang menua.
Ia mendesak, “Kita harus bekerja sama untuk membangun masyarakat yang menjaga tempat para lansia di hati dan pikiran kita—masyarakat yang menjamin mereka kehidupan yang bermartabat yang sepadan dengan semua yang telah mereka berikan, dan yang peduli terhadap pelestarian ingatan mereka, yang sebenarnya adalah ingatan umat manusia itu sendiri. Perawatan ini harus didasarkan pada prinsip-prinsip yang jelas: menjunjung tinggi martabat mereka, menghormati status mereka, dan memperlakukan mereka dengan kebaikan dan kasih sayang.”