MHM Cabang Pakistan Gelar Seminar ‘Persaudaraan Manusia: Pesan Harapan dan Perdamaian Dunia’
Seminar Hari Persaudaraan Manusia digelar MHM Cabang Pakistan
Majelis Hukama Muslimin (MHM) cabang Pakistan menggelar seminar bertajuk "Persaudaraan Manusia: Pesan Harapan dan Perdamaian di Dunia", Minggu (4/2/2024). Seminar digelar dalam rangka memperingati Hari Persaudaraan Manusia Sedunia yang diperingati setiap 4 Februari.
Peringatan ini sebagai pengakuan atas penandatanganan Dokumen tentang Persaudaraan Manusia oleh Grand Syekh Al Azhar yang juga Ketua MHM, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, bersama Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, di Abu Dhabi pada 2019.
Seminar membahas upaya untuk memajukan nilai-nilai dan prinsip-prinsip persaudaraan manusia, yang bertujuan mencapai hidup berdampingan secara damai, penerimaan orang lain, dan keberagaman melalui dialog dan saling pengertian. Hal ini juga menekankan peran penting yang dimainkan oleh ajaran agama yang penuh kebajikan dalam mempromosikan perdamaian dan harapan, tidak hanya dalam konteks Pakistan tetapi juga secara global.
Sejumlah tokoh terkemuka hadir dalam seminar yang berlangsung di Islamabad, ibu kota Pakistan. Di antaranya, Dr. Muhammad Zia-ul-Haq (Direktur Jenderal Institut Penelitian Islam dan Profesor Syariah di Universitas Islam Internasional), Sardar Tahir Tabassum (pendiri dan presiden Institut Perdamaian dan Pembangunan, dan Ketua Dewan Harmoni Global), Pendeta Samuel Robert Azaira, (Direktur Pusat Studi Kristen di Rawalpindi), Tuan Sardar Ranjeet Singh (mantan anggota parlemen local), Sanaullah Al-Azhari (Guru besar di Fakultas Studi Islam Universitas Maritim), dan Allama Liaqat Ali (Direktur Sekolah Fikih Jafari di Attock).
Para peserta menyampaikan apresiasi atas upaya MHM, yang dipimpin Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, khususnya melalui cabang-cabangnya di berbagai negara, yang berfungsi sebagai platform efektif untuk komunikasi dan sosialisasi tujuan organisasi, mempromosikan perdamaian di komunitas Muslim dan non-Muslim. Para pembicara menggarisbawahi peran penting Dokumen Persaudaraan Manusia sebagai pesan perdamaian global, yang mewujudkan semangat hidup berdampingan dan toleransi antar agama. Penandatanganan dokumen tersebut melambangkan komitmen tulus Imam Akbar Ahmed Al Tayeb dan Paus Fransiskus untuk meningkatkan dialog, hidup berdampingan secara damai, dan penerimaan terhadap orang lain.
Muhammad Zia-ul-Haq menekankan peran sentral Dokumen Persaudaraan Manusia sebagai pesan global untuk perdamaian dan perwujudan semangat hidup berdampingan dan toleransi antar agama. Dokumen itu mempertemukan Grand Syekh Al-Azhar Ahmed Al Tayeb dan pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus untuk menegaskan komitmen sungguh-sungguh mereka dalam memajukan dialog dan hidup berdampingan secara damai.
Sementara itu, Dr. Sardar Tahir Tabassum menyoroti kebutuhan mendesak untuk mengaktifkan dialog konstruktif antar agama untuk mengatasi konflik agama, meningkatkan nilai-nilai dan prinsip-prinsip persaudaraan manusia, serta memperluas kerja sama internasional dan saling pengertian yang dapat berkontribusi dalam mengatasi masalah dan tantangan besar umat manusia.
Pendeta Samuel Robert Azaira menekankan pentingnya upaya mewujudkan persaudaraan dan perdamaian umat manusia, menegaskan peran yang dapat dimainkan Dokumen Persaudaraan Manusia dalam mempromosikan nilai-nilai hidup berdampingan dan rekonsiliasi antar agama.
Sardar Ranjeet Singh, mantan anggota DPRD, menyatakan kebanggaannya atas penandatanganan Dokumen Persaudaraan Manusia. Dia menilai hal tersebut merupakan ekspresi dari prinsip-prinsip dasar bersama di antara agama-agama, termasuk nilai-nilai amal, kerja sama, dan berbagi kebaikan yang merupakan ajaran dasar dalam Sikhisme dan agama lain di seluruh dunia.
Dr. Sanaullah Al-Azhari dan Allama Liaqat Ali membahas peran penting komunikasi dan dialog dalam memerangi dan menolak ujaran kebencian dan ekstremisme. Mereka menekankan pentingnya mengambil inspirasi dari prinsip-prinsip Dokumen Persaudaraan Manusia untuk mendukung perdamaian, hidup berdampingan secara damai, dan menyebarkannya di antara masyarakat dan negara, tanpa memandang latar belakang budaya, agama, dan etnis mereka