MHM Berpartisipasi dalam Seminar NU tentang Iman dan Ketahanan Ekologis
Seminar NU tentang Iman dan Ketahanan Ekologis
Sekjen Majelis Hukama Muslimin (MHM), Konselor Mohamed Abdelsalam, menekankan bahwa dunia saat ini sedang menghadapi krisis yang semakin cepat dan belum pernah terjadi sebelumnya dalam ketahanan pangan, kelangkaan air, dan pertanian akibat konsekuensi perubahan iklim yang menghancurkan. Ia mencatat bahwa mengatasi tantangan-tantangan ini memerlukan upaya kolektif dari individu dan lembaga, di samping memperkuat tindakan kolaboratif yang menggabungkan visi berwawasan ke depan dengan tanggung jawab moral untuk mengamankan masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi umat manusia.
Pesan ini disampaikan Konselor Mohamed Abdelsalam saat berpidato pada Seminar tentang Iman dan Ketahanan Ekologis yang digelar Nahdlatul Ulama (NU) di Indonesia, Senin (16/12/2024). Sekjen MHM menyampaikan sambutan dengan tajuk, “Bersemangat Meraih Keberlanjutan: Membina Hubungan antara Iman dan Ketahanan Ekologis”.
Sekretaris Jenderal MHM menyatakan bahwa Islam telah menunjukkan perhatian yang mendalam terhadap lingkungan, menjadikan perlindungannya sebagai tugas agama, moral, dan kemanusiaan. Ia menambahkan bahwa mempromosikan nilai-nilai persaudaraan manusia melampaui pencapaian keharmonisan di antara manusia; hal itu juga mencakup menjaga keseimbangan dan keharmonisan antara manusia dan alam sambil memastikan pelestarian planet Bumi.
Konselor Abdelsalam juga memuji upaya perintis Nahdlatul Ulama dan anggotanya yang terhormat, yang jumlahnya melebihi 100 juta di seluruh Indonesia, atas kontribusi kemanusiaan mereka yang tak ternilai. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa pengakuan Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dengan Penghargaan Zayed untuk Persaudaraan Kemanusiaan tahun lalu menandai tonggak penting dan pengakuan internasional yang layak atas upaya mereka untuk melayani kemanusiaan di berbagai bidang kehidupan.
Sekjen MHM juga menyoroti contoh utama kerja sama di antara para pemimpin agama dalam mengatasi perubahan iklim pada tahun lalu, ketika Yang Mulia Dr. Ahmed Al-Tayeb, Grand Syekh Al-Azhar yang juga Ketua MHM bersama Paus Fransiskus, Paus Gereja Katolik, bersatu untuk menandatangani “Panggilan Hati Nurani: Pernyataan Bersama Abu Dhabi untuk Iklim”. Langkah penting ini disertai dengan peresmian Paviliun Iman di COP28, yang pertama dalam sejarah Konferensi Para Pihak. Paviliun tersebut berfungsi sebagai platform global yang mempertemukan para pemimpin agama, pakar lingkungan, akademisi, dan perwakilan masyarakat sipil, pemuda, perempuan, dan masyarakat adat untuk menemukan solusi nyata dan efektif untuk perubahan iklim.
Konselor Abdelsalam menambahkan bahwa tahun ini, MHM menyelenggarakan Paviliun Iman di COP29, yang bertujuan untuk membangun pencapaian edisi sebelumnya dan memperkuat partisipasi suara-suara etis dan spiritual. Upaya ini mencerminkan pentingnya melibatkan lembaga-lembaga keagamaan dalam mengatasi perubahan iklim, mengakui peran mereka yang berpengaruh dalam meningkatkan kesadaran dan mengilhami tindakan kolektif untuk mencapai keselarasan antara manusia dan alam sambil menjaga planet ini untuk generasi mendatang.
Sekretaris Jenderal MHM mengakhiri sambutan dengan menyatakan harapannya bahwa seminar ini, dengan berbagai kegiatan dan inisiatif seperti penanaman pohon, akan berfungsi sebagai model praktis tanggung jawab bersama manusia yang berakar pada nilai-nilai etika dan prinsip-prinsip spiritual terhadap planet Bumi. Sekjen MHM juga menekankan bahwa upaya-upaya tersebut merupakan langkah-langkah nyata yang membawa pesan harapan bagi generasi mendatang, yang menunjukkan komitmen kolektif untuk membangun masa depan yang lebih baik dan lebih berkelanjutan bagi semua.