Menteri Lingkungan Hidup India Kunjungi Paviliun Iman, Puji Inisiatif MHM Tingkatkan Peran Pemimpin Agama dalam Aksi Iklim
Menteri Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India, Bhupender Yadav, Minggu (10/12/2023), kunjungi Paviliun Iman pada COP28
Menteri Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India, Bhupender Yadav, Minggu (10/12/2023), mengunjungi Paviliun Iman pada 28th Conference of the Parties (COP28), yang diselenggarakan Majelis Hukama Muslimin (MHM). Paviliun Iman digelar MHM bekerja sama dengan Kepresidenan COP28, Kementerian Toleransi dan Hidup Berdampingan UEA, dan PBB Lingkungan Hidup Program.
Dalam kunjungan tersebut, Bhupender Yadav diperkenalkan dengan berbagai inisiatif dan kegiatan paviliun yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang krisis iklim. Yadav memuji upaya MHM, di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dalam mengatasi berbagai tantangan global, terutama perubahan iklim.
Bhupender Yadav menekankan bahwa Paviliun Iman memberikan peluang penting untuk melibatkan para pemimpin agama dalam diskusi tentang cara mengatasi masalah iklim, membina kerja sama dan pemahaman di antara komunitas agama yang berbeda dalam upaya bersama untuk melindungi lingkungan dan sumber daya alamnya.
Menteri Lingkungan Hidup, Kehutanan, dan Perubahan Iklim India juga menyatakan keyakinannya yang mendalam akan peran penting agama dalam mengubah pola perilaku yang merusak lingkungan. Dia menganjurkan peningkatan kesadaran masyarakat untuk meningkatkan pemahaman mereka tentang krisis iklim dan perlunya memitigasi dampaknya, terutama pada komunitas yang rentan dan terpinggirkan. Dia juga menegaskan bahwa komitmen kolektif sangat penting dalam upaya pelestarian lingkungan. Sebab, semua agama menyerukan tindakan kolaboratif, persatuan, dan kerja sama untuk membangun masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi planet Bumi.
Paviliun Iman pada COP28 bertujuan mempertemukan para pemimpin agama, cendekiawan, pemuda, pakar lingkungan hidup, dan masyarakat adat yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim, di satu tempat. Konferensi ini menjadi tuan rumah sesi dialog dan menghadirkan lebih dari 300 pembicara dari berbagai bidang untuk menyatukan para pemimpin dalam mengadopsi sikap terpadu terhadap krisis iklim dan mengeluarkan seruan kepada para pembuat kebijakan dan pengambil keputusan untuk segera mengambil tindakan.