Majelis Hukama Muslimin dan Sejumlah Inisiatif Lindungi Planet Bumi
Peserta Paviliun Iman pada COP28 di Uni Emirat Arab
Perubahan iklim merupakan salah satu tantangan paling serius yang mengancam kehidupan di planet bumi. Menanggapi kewajiban agama dan kemanusiaan, Majelis Hukama Muslimin (MHM), di bawah kepemimpinan Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, telah melakukan beberapa inisiatif praktis untuk mengatasi perubahan iklim.
Melalui siaran pers, Jumat (29/3/2024), MHM menjelaskan bahwa sejumlah inisiatif yang dilakukan menekankan pada pentingnya kolaborasi internasional dalam pelestarian lingkungan, mengurangi emisi gas rumah kaca, mendorong penggunaan sumber daya alam secara berkelanjutan, dan mengadopsi teknologi ramah lingkungan.
Sebelum konferensi COP26 di Glasgow pada 2021, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb mengeluarkan peringatan global tentang dampak buruk perubahan iklim. Grand Syekh Al Azhar menggambarkannya sebagai seruan tegas yang memerlukan upaya sungguh-sungguh dan penuh tekad untuk memitigasi risiko perubahan iklim dan menjaga masa depan umat manusia.
Selaras dengan KTT iklim COP27 di Republik Arab Mesir jelang akhir 2022, Imam Akbar Ahmed Al Tayeb sekaligus Ketua MHM menekankan pentingnya mendidik generasi muda mengenai isu lingkungan dan mitigasi perubahan iklim melalui kurikulum pendidikan. Grand Syekh mengingat besarnya tantangan dan dampak yang dihadapi dunia, yang membahayakan masa depan umat manusia saat ini dan generasi mendatang.
Pada tahun yang sama, dalam pertemuan luar biasa MHM yang dipimpin Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb dan dihadiri Paus Fransiskus di Manama, Bahrain, Grand Syekh Al Azhar menegaskan kembali arahan Islam mengenai pelestarian lingkungan, dan mendesak untuk investasi dalam praktik berkelanjutan, serta melarang tindakan seperti menebang atau menenggelamkan pohon dan tanaman dengan tujuan merusak. Ia memperingatkan bahwa degradasi dan eksploitasi lingkungan saat ini bertentangan dengan maksud Tuhan terhadap ciptaan-Nya yang sangat luas.
Bersama Uni Emirat Arab selaku tuan rumah COP28 pada 2023, MHM melipatgandakan upayanya untuk melibatkan peran para pemimpin agama dalam mengatasi masalah global, khususnya perubahan iklim, ketika dunia bergulat dengan dampak buruk krisis iklim yang mengancam keberadaan bumi.
Pada 2023, upaya bersama dilakukan secara global untuk menggalang peran dan pandangan para pemimpin agama seputar isu iklim. Konselor Mohamed Abdelsalam, Sekretaris Jenderal MHM, mengunjungi Roma, Italia, beberapa kali untuk bertemu dengan Paus Fransiskus dan membahas upaya untuk menggalang para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan iklim. MHM juga menjadi tuan rumah Konferensi Agama dan Perubahan Iklim di Asia Tenggara di Jakarta, Indonesia, yang dihadiri hampir 150 perwakilan agama dari wilayah tersebut, bersama dengan para cendekiawan, intelektual, dan pemuda yang terlibat dalam diskusi iklim.
Masih di 2023, bekerja sama dengan kepresidenan COP28, Kementerian Toleransi dan Hidup Berdampingan UEA, dan Program Lingkungan Hidup Perserikatan Bangsa-Bangsa, MHM mengadakan KTT Pemimpin Iman Global di Abu Dhabi. KTT ini mempertemukan perwakilan dari 18 agama dan 30 denominasi dari seluruh dunia, termasuk pakar lingkungan hidup, akademisi, dan anggota masyarakat sipil, seperti pemuda, perempuan, dan masyarakat adat.
KTT ini diakhiri dengan deklarasi “Panggilan Hati Nurani: Pernyataan Antaragama Abu Dhabi untuk Iklim,” yang ditandatangani Grand Syekh Al-Azhar Dr. Ahmed Al-Tayeb, Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, dan 28 para pemimpin agama lainnya. Seruan ini mendesak adanya tindakan nyata untuk memerangi krisis iklim dan melindungi planet bumi.
Upaya-upaya ini juga dibahas selama Paviliun Iman pada COP28. Ini merupakan Paviliun Iman pertama dalam sejarah penyelenggaraan COP. Acara ini menampilkan lebih dari 65 sesi dialog dengan sekitar 325 pembicara di seluruh dunia. Acara ini menjadi platform global untuk dialog antaragama guna mendorong keadilan lingkungan dan menjaga lingkungan untuk generasi sekarang dan masa depan.
Ke depan, MHM berencana untuk terus mengembangkan upaya-upaya ini, meningkatkan peran para pemimpin dan tokoh agama dalam mempercepat mitigasi perubahan iklim, khususnya di komunitas paling rentan di dunia.