Konferensi Iklim Bonn, MHM Ikuti Diskusi Peran Lembaga Keagamaan Promosikan Aksi Perubahan Iklim Global
Diskusi Peran Lembaga Keagamaan Promosikan Aksi Perubahan Iklim Global
Majelis Hukama Muslimin (MHM) berpartisipasi dalam pertemuan yang menjadi rangkaian dari sesi ke-60 Konferensi Iklim Bonn (SB 60), Selasa (11/6/2024). Pertemuan tersebut membahas peran lembaga keagamaan dalam mendorong aksi iklim global.
Pertemuaan berlangsung antara MHM bersama Sekretariat UNFCCC, Interfaith Liaison Committee (ILC), perwakilan dari Presidensi COP28 dan COP29, serta organisasi berbasis agama lainnya.
Pertemuan diadakan di kantor pusat Sekretariat UNFCCC di Bonn, Jerman. Tujuannya, menyusun strategi tentang bagaimana lembaga-lembaga keagamaan dapat terus terlibat dan mendukung negara-negara untuk mencapai ambisi tertinggi dalam aksi iklim, berkontribusi pada realisasi Kontribusi yang Ditentukan Secara Nasional (NDCs) pada tahun 2025.
Dalam pertemuan tersebut, delegasi MHM menyoroti peran penting lembaga dan komunitas keagamaan melalui otoritas moral, jaringan luas, dan komitmen mereka terhadap keadilan sosial. MHM juga menekankan perlunya memanfaatkan peran strategis ini untuk meningkatkan tindakan tegas terhadap perubahan iklim dan NDC di tahun-tahun mendatang.
Para peserta pertemuan ini juga mencatat pentingnya kolaborasi konstruktif di antara perwakilan komunitas agama dan kebutuhan mendesak untuk membentuk kerangka kerja terpadu untuk mengatasi tantangan iklim.
MHM telah mendedikasikan upaya signifikan untuk mengaktifkan peran para pemimpin dan tokoh agama dalam mengatasi perubahan iklim. MHM secara khusus menyelenggarakan KTT Pemimpin Iman Global untuk Iklim, yang berpuncak pada penerbitan “Deklarasi Bersama Abu Dhabi untuk Iklim,” yang ditandatangani Grand Syekh Al Azhar, Imam Akbar Dr. Ahmed Al-Tayeb, dan Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus, bersama 28 pemimpin agama lainnya.
Selain itu, MHM juga menyelenggarakan Paviliun Iman yang pertama dalam sejarah konferensi COP di COP28. MHM menyediakan platform global yang mempertemukan para pemimpin agama, pakar lingkungan hidup, akademisi, dan perwakilan pemuda, perempuan, dan masyarakat adat untuk mencari cara terbaik untuk melestarikan planet bumi dan melindungi sumber daya alamnya.