Konferensi Agama dan Perubahan Iklim: Paradigma Baru dari Alam sebagai Obyek menjadi Subyek
Aguk Irawan MN
Bagi orang Hindu yang tinggal di pantai, laut tak lain adalah seorang bunda. Ibunda yang mengandung, melahirkan dan mengasuh. Posisi laut sebagai seorang ibu yang demikian religius dan mulia mereka hayati sebagai pengalaman perjumpaan dengan alam.
Maka tak mengherankan, bagi pemeluk Hindu, ia begitu merawat dan menyayangi laut seperti ibu kandungnya sendiri. Karena dengan membuang sebiji sampah ke laut misalnya, maka ia seperti menodai ibu kandungnya.
Cerita di atas disampaikan Dirjen Bimas Hindu Profesor I Nengah Duija saat menjadi pembicara pada Konferensi Agama dan Perubahan Iklim tingkat Asia Tenggara di Jakarta, Indonesia, Rabu (4/10/2023). Konferensi ini diselenggarakan oleh Majelis Hukama Muslimin (MHM).
Profesor Nengah tidak saja menceritakan soal laut, tapi juga posisi gunung, sungai, pohon, dan hewan sebagai makhluk yang punya nyawa dan perasaan yang mirip seperti manusia. Mereka tak boleh disakiti. Jika seseorang terpaksa menebang pohon, maka ia berkewajiban menggantinya, tidak saja satu, tapi dengan sepuluh tunas baru. "Ajaran ini disebut mamali (denda)," sebutnya.
Sesuatu yang menarik dari cerita Profesor Nengah adalah dia mengaku bahwa cara pandang laut sebagai ibu itu, misalnya, bukan saja dipraktikan oleh umat Hindu saja, tapi juga sudah menjadi kearifan lokal (common sanse) oleh aliran kepercayaan dan pemeluk agama lain, seperti Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan lainnya.
Ia menambahkan cerita, misal ketika masyarakat pesisir akan melarung ke laut, untuk berlayar mengambil 'anugerah' ibunda, yaitu ikan. Mereka berdoa bersama, meski dengan iman yang tak seragam.
Tak kalah menariknya dari Profesor Nengah juga apa yang disampaikan Profesor Quraish Shihab. Menurutnya, katanya dalam teologi Islam, doktrin Islam tak jauh dari doktrin Hindu ketika melihat alam. Sebab alam raya ini hidup dan bertasbih. Bahkan, Prof Quraish mengutip sebuah hadis Nabi tentang Gunung Uhud; yuhibuna uhud wanuhibbuhu (Gunung Uhud mecintai kita dan kita mencintainya).
Pemahaman dari dua pemuka agama di atas itu jadi mengingatkan kita pada psikolog-sosial klasik, William James dalam “The Varieties Of Religious Experience.” Katanya, pemahaman agama yang ramah lingkungan dan tenggang rasa dengan the others adalah ekspresi healty-mindedness. Yaitu, penghayatan agama yang sehat dan mendalam. Sementara pemahaman agama yang anti keduanya adalah ekspresi the sick soul, yaitu penghayatan agama yang cenderung sakit, temperamen, dan fundamental.
Jadi, dalam konfrensi inilah, alam tidak saja diposisikan sebagai obyek semata, tetapi sebagai subyek. Perspektif ini sejalan dengan banyak kepercayaan lokal, mantra-mantra, filosofi adat, karya sastra dan manuskrip masa lalu. Saatnya bersama peduli dengan masa depan bumi tempat kita tinggal.
Aguk Irawan MN (Penulis, Peserta Konferensi Agama dan Perubahan Iklim - Asia Tenggara)