Kilas balik 2023, Upaya MHM Memajukan Dunia Arab & Muslim, serta Kontribusinya dalam Mengatasi Tantangan Global
Kilas balik kiprah MHM di 2023
Sepanjang 2023, Majelis Hukama Muslimin (MHM) terus memberikan perhatian terhadap isu-isu dunia Arab dan Muslim. Melalui siaran pers jelang akhir tahun, Kamis (28/12/2023), MHM menegaskan komitmennya untuk mendukung upaya yang memperkuat keterlibatan para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan global.
Dipandu oleh visi yang komprehensif untuk mempromosikan budaya perdamaian, toleransi, nilai-nilai kemanusiaan, dan prinsip-prinsip hidup berdampingan dengan manusia, MHM fokus pada pemberantasan ekstremisme dan terorisme. MHM juga mengadvokasi dialog budaya dan agama sebagai landasan bagi pembangunan dan kemakmuran.
Permasalahan Palestina menjadi perhatian utama MHN pada 2023, terutama mengingat agresi di Jalur Gaza dan wilayah Palestina. Agresi ini mengakibatkan ribuan korban sipil, dengan mayoritas adalah perempuan dan anak-anak, dan menyebabkan puluhan ribu orang kehilangan rumah dan tempat berlindung mereka mengungsi.
MHM mengecam pelanggaran terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. MHM kembali menyerukan kepada komunitas internasional untuk melakukan gencatan senjata di Gaza, memberikan bantuan kepada warga sipil Palestina yang tidak bersalah dengan memberikan bantuan kemanusiaan, dan pembentukan negara Palestina merdeka dengan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
Mengenai krisis Sudan, MHM mendesak diakhirinya konflik, tercapainya persatuan dan perdamaian, penghentian perselisihan internal, pemeliharaan keamanan dan stabilitas, dan peningkatan rekonsiliasi dan solidaritas di antara rakyat Sudan. MHM berdoa kepada Tuhan Yang Mahakuasa untuk membimbing para pemimpin yang bijaksana dalam menjamin perdamaian dan kesucian hidup.
MHM juga mengutuk segala bentuk kekerasan, ekstremisme, dan terorisme di seluruh dunia. MHM menekankan visinya untuk mendorong dialog, hidup berdampingan, dan menolak kekerasan, kebencian, dan terorisme.
Menanggapi kampanye sistematis yang bertujuan membakar Al-Qur'an, MHM mengecam keras tindakan provokatif tersebut, mengingat tindakan tersebut bertentangan dengan norma dan perjanjian internasional yang menganjurkan penghormatan dan penerimaan orang lain, serta tidak melanggar simbol dan kesucian agama.
MHM juga menyambut baik keputusan Parlemen Denmark yang melarang “perlakuan tidak pantas” terhadap teks-teks keagamaan yang sangat penting, dan secara efektif melarang pembakaran Al-Quran. Keputusan ini dianggap sebagai langkah penting dalam memupuk toleransi, hidup berdampingan, dan saling menghormati kesucian dan simbol agama. MHM mendesak negara-negara yang mengalami serangan serupa terhadap kebebasan dan kesucian beragama agar memberlakukan undang-undang serupa untuk melawan intoleransi, ujaran kebencian, dan Islamofobia.
Sepanjang 2023, MHM juga menyatakan solidaritasnya terhadap beberapa bencana alam yang berdampak pada negara-negara Arab dan Muslim. Hal ini termasuk gempa bumi dahsyat di Maroko, yang mengakibatkan lebih dari 3.000 kematian dan 26.000 luka-luka, serta runtuhnya sejumlah bangunan. Selain itu, MHM juga memberikan perhatian kepada penyintas gempa bumi Turki, yang menyebabkan lebih dari 50.000 kematian dan ribuan lainnya luka-luka.
Termasuk bencana di Suriah, badai di Derna, Libya yang menyebabkan lebih dari 20.000 kematian, ribuan orang hilang, dan kehancuran rumah dan infrastruktur. Demikian juga dengan kebakaran hutan di Aljazair yang berdampak pada beberapa kota di sejumlah negara.
Termotivasi oleh krisis iklim dan lingkungan hidup, MHM mengintensifkan upayanya dalam aksi iklim. MHM meluncurkan inisiatif dan kegiatan untuk melibatkan para pemimpin agama dalam mengatasi tantangan iklim. Melalui kegiatan ini, MHM menyampaikan pesan kepada para pemimpin global dan pengambil keputusan, dengan menekankan perlunya tindakan radikal untuk melawan dampak perubahan iklim yang semakin cepat dan parah.
MHM juga menjadi tuan rumah KTT Iman Global tentang Aksi Iklim dan penandatanganan 'Pernyataan Antaragama Abu Dhabi untuk COP28'. Selain itu, MHM menyelenggarakan Paviliun Iman yang pertama dalam sejarah Konferensi Para Pihak di COP28.
MHM merupakan organisasi internasional independen yang didirikan di Abu Dhabi pada tanggal 21 Ramadhan 1435 Hijriah (19 Juli 2014). Tujuan utamanya adalah untuk mempromosikan perdamaian di masyarakat Muslim dan non-Muslim dan untuk menyebarkan dan memperkuat nilai-nilai toleransi, dialog, dan hidup berdampingan bersama. Dipimpin oleh Yang Mulia Dr. Ahmed El-Tayeb, Imam Besar Al-Azhar, keanggotaan MHM mencakup kumpulan ulama, ahli, dan pemimpin terkemuka yang terkenal karena kebijaksanaan, keadilan, kemandirian, dan moderasi mereka