Ketua MHM Ajak Arahkan Aktivitas Keberagamaan pada Kemanusiaan, Bukan Suburkan Konflik
Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb beri sambutan pada penutupan Kongres ke-7 Pemuka Agama Dunia di Nursultan, Kazakhstan, Kamis (15/9/2022).
Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM) yang juga Grand Syekh Al-Azhar, Ahmed Al-Tayeb mengajak pemuka agama dari berbagai negara di dunia untuk mengarahkan aktivitas keberagamaan ke arah kemanusiaan. Syekh Al-Azhar prihatin jika aktivitas keberagamaan terus diwarnai dengan tindakan yang justru menyuburkan kebencian dan konflik antar umat.
Pesan ini disampaikan Imam Akbar Ahmed Al-Tayeb saat memberikan sambutan pada penutupan Kongres ke-7 Pemuka Agama Dunia di Nursultan, Kazakhstan, Kamis (15/9/2022).
Kongres yang berlangsung dua hari, 14 - 15 September, ini diikuti para pemuka agama dari berbagai negara di dunia. Hadir, Pemimpin Gereja Katolik Paus Fransiskus. Dari Indonesia, hadir Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf.
Menurut Syekh Al-Azhar, nilai-nilai kemanusiaan yang universal perlu terus disosialisasikan kepada masyarakat luas dengan berbagai cara dan dengan menggunakan berbagai bahasa. "Penyebaran nilai-nilai luhur itu harus dilakukan atas dasar rasional, cinta kebenaran, dan menjauhi cara-cara yang mencampuri keyakinan agama lain," sebutnya.
"Misi dan tujuan agama tidak akan tercapai jika agama dan pemeluk agama itu tidak bersatu menjadi satu kekuatan yang membersihkan rasa keberagamaan dari kebencian," sambungnya.
Ketua MHM mengaku banyak perbedaan antara dirinya dan Sri Paus Fransiskus, baik agama, etnis, warna kulit, kebangsaan, sejarah, dan lain-lain). Kesempatan bertemu di antara keduanya juga sangat jarang, di sana-sini terdapat rintangan yang tidak kecil, bahkan ada juga yang mengharamkan. Namun, saat bertemu, masing-masing merasakan seolah sudah saling mengenal sejak lama.
Hati kedua tokoh ini bertemu atas dasar saling cinta dan persahabatan yang tulus. Berkat rahmat Allah, kedua pemimpin agama itu bahkan menandatangani Piagam Persaudaraan Manusia yang dapat dikatakan sebagai dokumen kemanusiaan pertama antara pemeluk Islam dan Kristen di era modern.
“Keberhasilan itu semakin menguatkan pandangan yang selama ini dipegang dan diserukan oleh Al-azhar,” kata Syekh Al-Azhar.
Ketua MHM itu juga menekankan bahwa dirinya termasuk orang-orang yang percaya bahwa peradaban umat manusia sangat memerlukan bimbingan wahyu, ajaran agama, petunjuk para nabi, dan hikmah kitab suci. "Penyakit yang diderita oleh manusia modern tidak hanya dapat diatasi dengan kemajuan materi dan teknologi belaka, tetapi juga dengan kemajuan spiritual dan moral yang direpresentasikan oleh ajaran agama," terangnya.
"Kita berharap, semoga semua kita mendapatkan taufik dan rahmat dari Allah Swt. untuk terus memberikan kontribusi demi kebaikan umat manusia," harapnya.
Konferensi ke-7 Pemuka Agama Dunia menghasilkan sejumlah keputusan dan rekomendasi yang menggambarkan dan menyentuh banyak persoalan yang dihadapi oleh masyarakat dunia, termasuk terkait masyarakat miskin dan terpinggirkan. Syekh Al-Azhar mengapresiasi keputusan dan rekomendasi tersebut.
Menurutnya, keputusan dan rekomendasi yang dirumuskan sangat strategis, di tengah diamnya dan ketidakpedulian pemimpin dunia terhadap masyarakat miskin dan terpinggirkan. Dibutuhkan kerja sama dan persatuan dari semua pihak untuk mewujudkannya.