Ketua Majelis Hukama Muslimin Bertemu Presiden Jerman, Bahas Dialog Antaragama, Persaudaraan Kemanusiaan, dan Memerangi Islamofobia
Ketua Majelis Hukama Muslimin Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, bertemu Presiden Republik Jerman, Frank-Walter Steinmeier, di Berlin-Jerman
Ketua Majelis Hukama Muslimin (MHM) yang juga Grand Syekh Al-Azhar, Imam Akbar Prof. Dr. Ahmed Al-Tayeb, bertemu Presiden Republik Jerman, Frank-Walter Steinmeier, di Berlin-Jerman. Pertemuan dua tokoh ini membahas strategi memerangi meningkatnya Islamofobia di Eropa, dan upaya mengatasi pencemaran nama baik kesucian agama.
Hadir mendampingi Grand Syekh, Sekretaris Jenderal MHM Hakim Mohamed Abdelsalam.
Imam Besar menekankan bahwa Al-Azhar terus menyebarkan nilai-nilai perdamaian dan persaudaraan manusia baik secara lokal maupun global. Di tingkat global, Al-Azhar telah meluncurkan beberapa inisiatif, yang paling utama adalah Rumah Keluarga Mesir (the Egyptian Family House). Inisiatif ini dilakukan bekerja sama dengan berbagai gereja Mesir dan telah menjadi gerakan nasional yang kohesif dan kuat melawan kebencian dan kefanatikan.
Grand Syekh menambahkan bahwa Al-Azhar juga telah mengambil langkah signifikan dalam mempromosikan perdamaian global. Pencapaian puncak dari upaya ini adalah penandatanganan bersejarah Dokumen Persaudaraan Manusia bersama Paus Fransiskus di Abu Dhabi pada 2019 yang merupakan pesan niat baik kepada seluruh dunia.
“Siapa pun yang meneliti bahasa dokumen tersebut, tidak akan dapat membedakan apakah dokumen tersebut ditulis oleh seorang Muslim atau Kristen karena ini adalah upaya tulus untuk menyatukan visi Al-Azhar dan Vatikan demi kepentingan bersama; kemanusiaan untuk mencapai kebahagiaan dan menghindari penderitaannya,” sebut Grand Syekh di Berlin, Minggu (10/9/2023).
Ditegaskan Imam Akbar Ahmed Al Tayeb, Al-Azhar tegas menentang segala bentuk serangan terhadap agama apa pun, baik terhadap kesucian Islam maupun agama lain. Sama seperti Al-Azhar yang menentang insiden pembakaran Al-Quran, Al-Azhar juga memiliki pendirian yang jelas terhadap pembakaran gereja dan serangan terhadap umat Kristen di Pakistan.
“Hal ini menggarisbawahi keyakinan yang tulus dan teguh bahwa tidak ada cara untuk mengatasi krisis kemanusiaan kontemporer kecuali melalui dialog, dan bahwa budaya pemulihan hubungan, hidup berdampingan, dan integrasi harus mengalahkan kefanatikan dan kebencian,” tegasnya.

Ketua MHM mengapresiasi dukungan besar dan penerimaan masyarakat Jerman terhadap para pengungsi. Hal ini memberikan contoh tentang persaudaraan manusia dan keyakinan yang jelas terhadap mereka yang meninggalkan tanah air dan keluarga mereka karena perang dan konflik.
Apresiasi juga disampaikan Presiden Jerman atas kunjungan Imam Akbar ke negaranya. Presiden Jerman menegaskan bahwa secara pribadi dirinya menghargai dan mengikuti dengan cermat upaya besar Imam Akbar dalam mempromosikan hidup berdampingan, persaudaraan, dan kesetaraan di antara semua orang. Presiden Frank-Walter Steinmeier juga mengapresiasi hubungan persaudaraan antara Imam Akbar dan Paus Fransiskus. Hubungan ini telah membuka saluran dialog dan komunikasi antara berbagai budaya dan agama.
Presiden Jerman lebih lanjut menegaskan komitmen negaranya dalam memerangi Islamofobia, mengurangi permusuhan terhadap Islam dan umat Islam dengan mengutuk insiden pembakaran Al-Quran dalam beberapa kesempatan dan menolak praktik ekstremis terhadap Islam dan umat Islam. Presiden Frank-Walter Steinmeier menegaskan kesiapan pribadinya untuk bekerja sama dengan Imam Akbar dalam menghilangkan segala bentuk kefanatikan dan kebencian dan untuk mendorong dialog antara penganut agama dan budaya yang berbeda.
Presiden Jerman juga menyampaikan rasa terima kasih kepada Imam Akbar atas inisiatif penting yang dipimpinnya untuk menyebarkan hidup berdampingan dan meningkatkan dialog antar agama dan budaya, seperti Dokumen Persaudaraan Manusia, Rumah Keluarga Mesir, dan Rumah Keluarga Ibrahim.