Ini Upaya Al Azhar Sebarkan Perdamaian dan Koeksistensi
Sekjen Akademi Riset Islam di Al-Azhar Prof Nazir Ayad
Sekjen Akademi Riset Islam di Al-Azhar Prof Nazir Ayad mengatakan bahwa Al Azhar terus berupaya menyebarkan perdamaian dan koeksistensi. Salah satu upaya yang dilakukan adalah meluruskan pemahaman keagamaan yang keliru.
Hal ini disampaikan Nazir Ayad saat berbicara pada diskusi publik yang digelar Majelis Hukama Muslimin pada stan pameran Islamic Book Fair ke-20 di JCC Senayan, Jakarta, Kamis (4/8/2022).
Menurutnya, Al-Azhar adalah lembaga akademis, dakwah, dan sekaligus lembaga keilmuan/riset. Tugas keilmuan dan riset dilakukan oleh Majma’ al-Buhuts al-Ismiyyah. Melalui lembaga riset ini, Al-Azhar melakukan pengkajian atas berbagai masalah menyangkut akidah, hukum, dan pemikiran keislaman yang berkembang di masyarakat, termasuk melakukan koreksi dan pelurusan terhadap pemahaman yang keliru.
Dalam konteks meluruskan pemahaman yang keliru, ujar Nazir Ayad, hal pertama yang dilakukan oleh Al-Azhar adalah meluruskan pandangan kita terhadap konsep agama: apa itu agama. Sebab, saat ini muncul beragam pemikiran dan pemahaman tentang apa itu agama sehingga membuat konsep agama menjadi kabur.
“Agama, dalam pandangan Al-Azhar, adalah ajaran yang bersumber dari Tuhan dan disampaikan melalui nabi dan rasul yang bertujuan untuk kebahagiaan manusia di dunia dan akhirat,” kata Prof. Ayad, panggilan akrabnya.
Dalam pandangan agama Islam, kata Ayad, semua manusia adalah sama. Tidak ada orang yang lebih baik daripada orang lain, kecuali atas dasar ketakwaan dan amal saleh. Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku untuk saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. (QS al-Hujurat: 13).
Mengutip hadis, Ayad menjelaskan pesan Rasulullah saw., “Tidak ada kelebihan bagi orang Arab atas orang bukan Arab, atau orang berkulit putih atas orang berkulit hitam, kecuali atas dasar takwa. Semua kamu berasal dari Adam, dan Adam berasal dari tanah.”
Upaya kedua dalam menciptakan perdamaian dan koeksistensi, adalah terus mendorong sikap keterbukaan dan kemauan untuk saling mengenal. "Ketika kita sudah saling mengenal, akan timbul sikap saling mengerti, dan dari situ kita akan dapat hidup rukun bersama siapa pun, bahkan dengan orang-orang yang berbeda keyakinan sekalipun," jelasnya.
Langkah lain yang ditempuh Al-Azhar untuk menciptakan perdamaian dan koeksistensi adalah menerbitkan buku-buku yang mengkonter pemahaman yang keliru atas beberapa konsep keislaman, misalnya konsep hijrah, khilafah, al-wala’ dan al-bara’, al-hakimiyah, jihad, dan sebagainya.
Al-Azhar juga mengadakan dialog tatap muka secara berkala, terutama di kalangan anak-anak muda lintas agama dan budaya. Ini dilakukan dalam upaya untuk saling mengenal dan memahami pihak lain, serta melibatkan pihak di dalam dan di luar negeri.
Program lainnya, kata Ayad, adalah mengirim dai-dai Al-Azhar ke sejumlah negara, termasuk Indonesia. Mereka bertugas memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang ajaran Islam yang benar, moderat, dan toleran, serta agama yang dapat hidup berdampingan dengan agama-agama lain.
"Selain mengirim tenaga dakwah, Al-Azhar juga menerima mahasiswa asing dari seluruh penjuru dunia untuk belajar langsung di Universitas Al-Azhar. Mahasiswa asal Indonesia di Al-Azhar termasuk yang jumlahnya paling besar," terangnya.
Al-Azhar juga mendirikan Pusat Pelatihan Dai untuk membekali para khatib dan juru dakwah dari berbagai negara dalam mendakwahkan ajaran agama yang benar kepada masyarakat. Peserta pelatihan dakwah bukan hanya berasal dari Mesir, tetapi juga dari berbagai negara.
"Selain itu, ada program Fatwa Digital yang melayani pertanyaan masyarakat seputar masalah keagamaan dan mengkonter pemahaman yang keliru untuk kemudian disebarluaskan melalui media sosial," tandasnya.
Prof Nazir Ayad diundang ke Jakarta oleh Majelis Hukama Muslimin untuk memeriahkan Islamic Book Fair (IBF) ke-20 di JCC Senayan. MHM ikut serta dalam pameran buku keislaman yang digelar Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Jakarta. Pameran ini berlangsung dari 3 - 7 Agustus 2022.