Ini Tiga Kunci Tumbuhkan Koeksistensi yang Bermakna
Dr. Aaron Tyler, Profesor Hubungan Internasional dan Urusan Global di Universitas St. Mary di San Antonio, Texas
Majelis Hukama Muslimin (MHM) terus mempromosikan koeksistensi (kemampuan untuk hidup bersama) dan persaudaraan manusia.
Dr. Aaron Tyler, Profesor Hubungan Internasional dan Urusan Global di Universitas St. Mary di San Antonio, Texas, mengatakan, ada tiga hal yang diperlukan untuk menumbuhkan koeksistensi yang bermakna, baik antar individu, kelompok, atau negara.
"Pertama adalah keinginan bersama untuk perdamaian," terang Aaron Tyler saat berbicara pada seminar 'Islam, Barat dan Toleransi: Menghayati Koeksistensi', Kamis (26/5/2022).
Seminar ini digelar sebagai rangkaian dari Pameran Buku Internasional Abu Dhabi, di Abu Dhabi. Acara ini membahas sejumlah topik, termasuk peran lembaga keagamaan dalam melaksanakan dialog dan memerangi ekstremisme, serta cara untuk mempromosikan koeksistensi dan persaudaraan manusia.
Aaron Tyler merupakan penulis buku "Islam, the West and Tolerance: Conceiving Coexistence". Menurutnya, di tengah kompetisi kehidupan, jika keinginan bersama untuk perdamaian tidak ditumbuhkan, maka model koeksistensi yang sehat tidak akan berkelanjutan.
Persyaratan kedua, kata Aaron Tyler adalah penghargaan timbal balik. Pengakuan yang teguh atas martabat setiap orang adalah motivasi otentik untuk hidup bersama dengan baik. "Koeksistensi yang damai memaksa kita untuk menolak godaan ideologis atau politik untuk merendahkan manusia yang tidak sepaham dengan kita. Perdebatan dan ketidaksepakatan yang sehat tidak seharusnya menghilangkan penghargaan timbal balik,” paparnya.
Kunci ketiga, lanjut Profesor Tyler, mengeksplorasi kedalaman tradisi yang berbeda untuk mengungkap nilai dan keyakinan bersama yang dapat memfasilitasi dan mendorong terwujudnya koeksistensi yang damai dan konstruktif di seluruh komunitas, budaya, dan negara. "Sikap toleransi yang tulus adalah salah satu nilai tersebut,” tandasnya.
Majelis Hukama Muslimin ikut ambil bagian dalam Pameran Buku Internasional Abu Dhabi yang berlangsung tujuh hari, 23 - 29 Mei 2022. Selain sejumlah hasil publikasi yang dipamerkan, pameran ini dimeriahkan juga dengan kegiatan seminar dan diskusi.